Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Desmon Silitonga. Foto: IST

Desmon Silitonga. Foto: IST

Pandemi dan Rehatnya Mesin Ekonomi

Desmon Silitonga, Senin, 29 Juni 2020 | 13:02 WIB

Setiap wabah yang muncul, selalu memicu tragedi kemanusiaan. Tangis dan ratap bergema dari setiap keluarga korban, karena tidak dapat merawat dan mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Rasa cemas memancar dari wajah- wajah mereka yang masih sehat, karena mereka berpotensi terinfeksi, jika tidak berhati-hati. Intinya, pandemi Covid-19 telah menimbulkan tragedi kemanusian, merontokkan sendi-sendi perekonomian, dan menimbulkan ketidakpastian.

Sejarah mencatat bahwa wabah sudah menjadi bagian yang melekat (inherent) dalam perjalanan hidup manusia, khususnya wabah flu. Salah satu wabah flu yang paling mematikan dalam sejarah ialah flu Spanyol (1918-1919) yang telah menginfeksi sekitar 500 juta orang dan menewaskan 50 juta jiwa.

Saat ini, di era revolusi industri ke-4 yang dicirikan oleh melesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, wabah flu yang disebabkan oleh virus corona tipe baru (Covid-19) datang menghampiri. Meski virus ini memiliki fatality rate yang jauh lebih rendah dari ‘kakak seniornya’, yaitu SARS dan MERS, tetapi Covid-19 ini telah mampu mempertontokan terror kemanusiaan, karena luasnya area penyebaran.

Sampai dengan (28/6/2020), virus ini sudah menyebar di lebih dari 213 negara, menginfeksi lebih dari 10 juta orang, dan menewaskan lebih dari 500 ribu jiwa. Jumlah ini masih berpotensi bertambah, mengingat masih cukup banyak negara yang belum mencapai puncak pandemi. Indonesia salah satunya.

Dengan, jumlah penduduk yang sangat besar dan kepadatan yang tinggi, khususnya di wilayah Jabodetabek, membuat potensi penyebaran infeksi menjadi sangat tinggi. Dengan meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi setiap harinya akan membuat beban rumah sakit makin berat. Dapat dipastikan, Negara dengan fasilitas kesehatan yang terbatas akan menghasilkan korban yang sangat besar.

Itulah sebabnya, untuk mengurangi beban rumah sakit, maka kebijakan pencegahan, baik melalui kebijakan karantina wilayah (lockdown) dan social distancing cukup efektif menekan laju infeksi. Kebijakan lockdown di Wuhan, Tiongkok selama 76 hari, misalnya, mampu menekan laju infeksi dan membebaskan Wuhan dari wabah flu ini.

Situasi di Korea Selatan dan Jerman yang menerapkan social distancing dan rapid test juga efektif menurunkan laju infeksi. Semua kebijakan ini akan berhasil, jika diikuti oleh disiplin yang tinggi dari masyarakat.

Dampak Ekonomi

Meski begitu, semua kebijakan pencegahan ini memberikan tekanan pada perekonomian. Membatasi mobilisasi manusia dan aktivitas ekonomi memberikan tekanan pada sisi produksi dan sisi permintaan sekaligus.

Kebijakan lockdown di kota Wuhan, Tiongkok selama 76 hari, misalnya, membuat pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu ini sepanjang kuartal I-2020 terkontraksi (negatif) sebesar 6,8% (yoy). Ini merupakan pertumbuhan ekonomi terburuk dan paling menyeramkan dalam sejarah perekonomian Tiongkok.

Pertumbuhan ekonomi seperti yang dialami oleh Tiongkok ini akan juga dialami banyak negara. Hal ini dapat dibaca dari proyeksi terbaru dari Dana Moneter International (IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sepanjang tahun 2020 akan mengalami kontraksi sebesar 3,3% (yoy) dari proyeksi awal tahun sebesar 3,3% (yoy).

Pandemi Covid-19 ini merusak rantai pasok (supply chain) perdagangan global. Menurut proyeksi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), volume perdagangan dunia diperkirakan terkontraksi sebesar 13-32% sepanjang tahun ini.

Implikasinya akan memberikan tekanan pada harga komoditas. Indeks komoditas Bloomberg (BCOM) sampai saat ini masih menunjukkan tren penurunan. Indonesia sebagai salah satu eksportir komoditas akan terpukul oleh kejatuhan harga komoditas ini.

Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi ini memberikan imbas pada terpukulnya sektor tenaga kerja. Laju pengangguran akan meningkat. Sejumlah sektor yang paling terpapar langsung oleh pandemic ini, seperti pariwisata, manufaktur, hotel dan restoran, properti, dan ritel telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) untuk menekan beban biaya akibat merosotnya pendapatan.

Dalam satu bulan terakhir, sudah ada sekitar 2 juta orang yang mengalami PHK di Indonesia. Jumlah ini masih berpotensi bertambah ke depannya, karena puncak pandemi belum dapat diperkirakan secara akurat.

Gelombang PHK juga dijumpai di negara lain. Salah satunya, Amerika Serikat. Dalam sepekan, klaim pengangguran meningkat tajam menjadi 6 juta dari rata-rata biasanya sebesar 250 ribu. Bahkan, menurut proyeksi Oxford Economics, tingkat pengangguran AS di Mei 2020 berpotensi melonjak ke level 16% dari bulan Maret 2020 sebesar 4,4%.

Pandemi ini juga memicu gejolak pasar keuangan. Muramnya prospek perekonomian meningkatkan kekhawatiran dan kepanikan investor. Sepanjang Maret 2020, misalnya, Indeks kekhawatiran (VIX) melenting ke level 86, menyamai kondisi ketika krisis keuangan di AS tahun 2008 meledak.

Kepanikan pasar akan mendorong rotasi portofolio dari aset yang berisiko ke aset yang dianggap aman (safe haven). Dampaknya, membuat harga aset (saham, obligasi, valas) di kawasan emerging berguguran. Nilai tukar pun melemah dan bergejolak, termasuk di dalamnya rupiah.

Stimulus Ekonomi

Untuk menghindarkan kemacetan roda (gridlock) perekonomian dan kehancuran pasar keuangan, maka pemerintah dan otoritas moneter memompa likuiditas melalui stimulus. Bank Sentral AS (The Fed), misalnya menginjeksi dolar melalui kebijakan Quantitative Easing (QE) untuk mencegah kekeringan dolar yang dapat memicu kejatuhan harga aset keuangan, gagal bayar obligasi korporasi, dan merontokkan nilai tukar global.

Banjir likuiditas ini cukup efektif meredam kepanikan dan kekhawatiran pemodal global. Hal ini dapat dilihat dari turunnya index kekhawatiran (VIX) hingga ke level 38. Pemodal global mulai berani untuk masuk ke aset keuangan yang lebih berisiko, karena adanya pasokan likuiditas dari The Fed dan bank sentral utama lainnya.

Stimulus dari pemerintah juga diharapkan akan dapat mencegah kebangkrutan dunia usaha dan menopang vitalitas daya beli. Pemerintah langsung menyuntikkan uang ke kocek masyarakat melalui skema jaring pengaman. Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan sekitar Rp 695,2 triliun untuk ongkos mengatasi pandemi ini.

Dibandingkan dengan Negara lain, dana stimulus ini cukup kecil (4,2% dari PDB). Bandingkan dengan Jepang yang mencapai 20% dari PDB. Itulah sebabnya, pemerintah harus cermat agar stimulus ini tepat sasaran dan tepat guna.

Pemerintah juga harus benar- benar menghindarkan skemaskema yang tidak mendesak dan efektif, seperti program kartu pra kerja. Di tengah situasi seperti ini, masyarakat (khususnya yang terkena dampak PHK) lebih membutuhkan uang tunai daripada pelatihan kerja, karena situasi saat ini tidak normal.

Laju penyebaran infeksi Covid-19 masih tinggi, meski sudah mulai ada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di beberapa daerah untuk menuju tatanan kehidupan baru (new normal). Implikasinya, mobilitas manusia memang mulai dilonggarkan, tetapi aktivitas ekonomi masih relatif terbatas. Pertambahan angka pengangguran masih berpotensi bertambah.

Mesin ekonomi pun masih akan lama rehat. Imbasnya, ongkos ekonomi masih akan besar dan proses pemulihan pun masih bisa lama.

Oleh sebab itulah, agar mesin ekonomi tidak makin lama rehat, maka solidaritas, disiplin, dan kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan agar pandemi ini tidak makin berkepanjangan.  Tentunya, harus diikuti dengan para pemimpin yang dapat dipercaya.

*) Pengamat Pasar Modal & Alumnus Pascasarjana FE UI

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN