Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhammad Husein Heikal, Analis Economic Action Indonesia, Anggota Kaukus Aliansi
Kebangsaan

Muhammad Husein Heikal, Analis Economic Action Indonesia, Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

Pandemi Kelaparan

Rabu, 30 September 2020 | 07:00 WIB
Muhammad Husein Heikal *)

Program Pangan Dunia (WFP) mengkhawatirkan lebih banyak orang akan meninggal karena kelaparan akibat dampak coronavirus disease 2019 (Covid-19) pada perekonomian daripada akibat pandemi itu sendiri.

Sejauh ini pandemi (Covid-19) telah menginfeksi lebih dari 30 juta orang di seluruh dunia, dan hampir 1 juta orang meninggal dunia.

Lembaga non-profit Oxfam juga merilis laporan “The Hunger Virus” yang menyatakan sekitar 122 juta orang bisa terperosok dalam kelaparan tahun ini, akibat dari konsekuensi menurunnya ban tuan sosial, pengangguran mas sal, serta gangguan sistem produksi dan pasokan pangan––yang berakar dari akibat pandemi virus corona. Skenario suram yang diurai Oxfam mengungkap 12.000 orang bisa meninggal per hari pada akhir tahun.

Laporan tersebut sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Sebab, kita saksikan dan rasakan bersama bagaimana coronavirus mengubah hidup kita. Mungkin sebagian orang, terutama mereka yang mapan, bergaji tetap dan besar, coronavirus hanya mengubah gaya hidupnya, dari hedonistik menjadi pembelanja dari rumah. Namun bagi yang berada di posisi kelas menengah, berkemungkinan terjerumus ke jurang kemiskinan. Apalagi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan cukup gencar.

Sementara bagi kaum yang sebelum pandemi pun sudah miskin, kini menjadi semakin miskin. Ini yang menjadi cikal kelaparan. Ironisnya di sisi lain ketika kini kita dihadapkan pada ancaman pan demi baru, bernama pandemic ke laparan, mereka yang berada di puncak terus menghasilkan ke un tungan.

Ada dana US$ 18 mi liar yang dibayarkan delapan per usa haan makanan dan minuman se ba gai imbal hasil sejak Januari ke pada investor mereka (Oxfam. org). Nilai uang sebesar itu mencapai sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding yang dibutuhkan PBB untuk memberi bantuan pangan kepada masyarakat di kawasan paling rentan kelaparan.

Pandemi Covid-19 memang merugi kan banyak orang. Tapi bagi sebagian orang, dari perspektif modal-ekonomi, pandemi ini menjadi blessing in disguise, ajang meng genjot profit. Konsekuensinya tentu saja harus menyingkirkan rasa kemanusiaan.

Tentu saja banyak kilah dan alasan mengatasi ini. Namun, semua itu tentu saja un tuk keuntungan pribadi, bukan? Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam, melainkan karena kepentingan mereka sendiri.

Begitulah kata Adam Smith. Sayangnya mereka tak bisa disalahkan–– sekalipun kini mereka turut mengetahui bahwa ada jutaan nyawa terancam kelaparan. Di berbagai kawasan mulai terjadi pertempuran sengit bertahan hidup dari kelaparan di tengah ancaman lain seperti perang dan konflik.

Di tengah pandemi Covid, sifat buruk terus saja menyelimuti manusia. Bila ditelisik ada cukup banyak ketidakpedulian di tengah pandemic coronavirus dan pandemic ke laparan yang mulai menjangkiti.

Kita memang membaca berbagai pihak menyalurkan bantuan sembako dan ini-itu kepada masyarakat yang terdampak coronavirus. Tentu saja semua dari kita terdampak. Tapi tak semuanya berhak mendapat bantuan, sebab ada yang seharusnya berperan menjadi pemberi.

Itulah filantropi. Nah, yang saya maksud hendaknya para filantropi itu berkenan memberikan bantuan yang lebih dari biasanya dari sekian banyak kekayaan yang dimilikinya. Apalagi kini, rakyat miskin di seluruh dunia berteriak, mengirimkan pesan yang jelas kepada kita semua:

Kelaparan akan membunuh kami sebelum coronavirus! Pandemi coronavirus mengguncang sistem pangan hingga ke fondasinya, seperti lahan-lahan pertanian yang tak berproduksi maksimal, sampai kepada rantai distribusi yang terhambat.

Di tahun 2019 ketika pandemi Covid belum terjadi, sudah ada 821 juta orang yang menderita ke rawanan pangan. Sebanyak 149 juta di antaranya telah menderita kelaparan tingkat krisis. PBB juga sudah memperingatkan kelaparan sebagai dampak Covid, serta memproyeksikan jumlah orang yang kelaparan tingkat krisis akan meningkat menjadi 270 juta sebelum akhir tahun, peningkatan 82% sejak 2019.

Oxfam telah mengidentifikasi 10 wilayah di mana krisis pangan paling parah dan semakin parah karena pandemi, antara lain Yaman, Kongo, Afghanistan, Venezuela, Sahel Afrika Barat, Ethiopia, Sudan, Sudan Selatan, Suriah, dan Haiti.

Sepuluh wilayah ini sudah menyum bang 65% kelaparan tingkat kri sis secara global. Di balik itu, episentrum kelaparan baru turut muncul. Negara-negara berpenghasilan me nengah seperti India, Afrika Selatan, dan Brasil mengalami ting kat kelaparan yang meningkat pesat. Indonesia, memang tampaknya tidak termasuk dalam kategori itu.

Malah di tengah ancaman pandemic kelaparan itu, justru Indonesia mendapat kabar baik, yakni naik kelas dari lower middle income menjadi upper middle income. Sekalipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tertampar keras, namun kelaparan tidaklah menghantui ka wasan kita. Meski kemiskinan cukup mengkhawatirkan.

Rilis mutakhir Badan Pusat Statis tik menyebutkan jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2020 meningkat 0,56% menjadi 9,78% terhadap periode September 2019. Artinya dalam kurun waktu itu ada penambahan 1,63 juta penduduk miskin baru. Yang perlu dikhawatirkan ialah kemungkinan kenaikan pada periode selanjutnya, dengan catatan akibat pandemic Covid, angka kemiskinan Indonesia kembali double-digit.

Kalau terjadi, upaya pemerintah selama ini menjadi sia-sia. Sekalipun masih jauh lebih baik dibanding kelaparan. Sekarang yang menjadi tugas pemerintah dan para miliuner di seluruh dunia ialah mengambil peran mencegah terjadinya pandemic kelaparan yang menjalar cepat, di samping menangani pandemi Covid.

Sebagai sesama manusia sudah semestinya kita menggerakkan nurani kita untuk saling menolong, menjauhkan orang dari jerat ketakutan dan kelaparan yang menyiksa. Kepala Program Pangan PBB te lah mendesak Jeff Bezos dan miliarder lainnya untuk membantu tangani masalah kelaparan di seluruh dunia. Saat ini ada sekitar 2.000 miliarder dengan kekayaan bersih US$ 8 triliun, bahkan beberapa di antaranya menghasilkan miliaran dolar AS selama pandemic Covid.

Menurut laporan Institute for Policy Studies pada Juni, kekayaan miliarder AS melonjak lebih dari 19% atau setengah triliun dolar sejak wabah corona melanda negeri Paman Sam itu. Nah, kini masih tersedia cukup waktu bagi kita menyelamatkan nyawa saudara kita di berbagai belahan dunia.

Mari kita bangun skema bantuan yang benar-benar adil, tepat sasaran dan berkelanjutan, agar ke depannya kita tak akan lagi mendengar berita soal kelaparan di seantero dunia manapun. Seperti sabda sastrawan Pearl S. Buck, ke laparan adalah rasa malu dan me malukan bagi dunia dan sama sekali tidak perlu di zaman modern.

*) Analis Economic Action Indonesia, Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN