Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Beta Perkasa, Dosen dan Direktur LKSFI
FEB Uhamka

Beta Perkasa, Dosen dan Direktur LKSFI FEB Uhamka

Pembaruan Tatanan Pariwisata

Kamis, 7 Januari 2021 | 14:27 WIB
Beta Perkasa *)

Tanggal 12 Oktober 2002, turis-turis masih asyik menikmati malam di sepanjang Jalan Legian, Kuta, Bali. Keindahan Bali waktu malam enggan untuk menghilang. Namun, keceriaan tiba-tiba sirna diganti kepedihan, kegeraman, tatkala ledakan bom menggelegar pada jam 23.15. Dua bom meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club. Tak berselang lama, 15 menit kemudian bom meledak kembali di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat.

Tidak hanya di dalam negeri, dunia internasional terhenyak dengan ledakan bom di Kuta. Pasalnya, Bali adalah salah satu des tinasi wisata yang terkenal di seluruh dunia. Citra Bali yang sebelumnya sebagai tempat wisata yang indah, menyenangkan dan aman bagi wisatawan asing, seketika luluh lantah. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera.

Sama seperti daerah lainnya, saat itu sebenarnya Bali sedang dalam tahap pemulihan ekonomi akibat krisis 1998. Situasi sosial- politik yang tidak stabil pada tahun 1998 membuat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia turun drastis: 11,15% dibanding tahun sebelumnya, dari 5,18 juta menjadi 4,6 juta wisatawan.

Sejak 1999, Bali sudah mulai menggeliat. Namun, ledakan Bom Bali membuat sektor pariwisata di Bali menyusut. Jumlah wisman pada tahun 2002 turun 5,23% dari 1,35 juta pada tahun sebelumnya menjadi 1,28 juta (BPS, 2020).

Citra Indonesia di mata internasional menjadi buruk. Isu keamanan menjadi krusial yang membuat turis asing enggan berlibur ke Bali. Bom ini tidak hanya menghancurkan Kuta, Bali, namun semua ma syarakat Bali yang sangat bertumpu ke sektor pariwisata. Tahun 2003, sektor pariwisata Bali belum pulih, kunjungan wisman semakin menurun hingga 22,76%.

Saat sumber penghidupan belum pulih benar, serangan bom kedua kembali menghentak. Bom Bali II terjadi pada 1 Oktober 2005 di tiga tempat, yaitu satu di Kuta dan dua di Jimbaran yang menelan korban sedikitnya 23 orang tewas dan 196 orang luka-luka.

Sektor yang Rentan

Jika perekonomian sedang cerah, sektor pariwisata cukup mudah mengambil ceruk pasar. Namun, jika terjadi kontraksi dan re sesi, sektor ini yang paling cepat terkena imbasnya. Penurunan pen dapatan akan mudah mem bu at orang untuk mengurangi ke gi at an wisatanya. Selain sensitif de ngan faktor pendapatan, sektor ini memang sektor yang sangat rentan terhadap berbagai krisis, seperti bencana alam, epidemi, kri sis politik dan terorisme (Yozcu & Cetin, 2020).

Sebelum pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), ada virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang juga menyerang pernapasan. Gejalanya mirip se perti influenza yaitu bersin dan ba tuk. Virus mulai muncul pada akhir 2002 di kota Fosan, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Virus ini langsung menyebar cepat ke kawasan Asia-Pasifik pada tahun selanjutnya.

Salah satu negara yang menderita akibat virus SARS adalah Singapura. Tiga turis yang baru pu lang dari Hong Kong membawa virus tersebut ke Singapura. Virus ini mudah menyebar di Singapura tahun 2003. Total kasus SARS di Singapura ada 58.230 dan meninggal 29 orang. Krisis ini langsung menghantam sektor pariwisata.

Menurut data dari Tourism Statistics Board Singapura, kunjungan wis man ke Singapura turun sekitar 19,02% dari sekitar 7,57 juta tahun 2002 menjadi 6,13 juta pada 2003. Pa da tahun tersebut, virus pun menyebar cepat ke 26 negara dengan kasus sekitar 8 ribu. Pariwisata juga sangat rentan jika terjadi gonjang-ganjing politik di dalam negeri. Thailand salah satu negara surga wisata di Asia Tenggara. Dari tahun 2009 hingga 2013 terjadi booming pariwisata.

Pada periode tersebut jumlah turis yang mengunjungi Negeri Gajah Putih itu naik sekitar 87% dari 14,15 juta menjadi 26,55 juta turis. Bu lan madu pariwisata di Thailand agak terganggu dengan kudeta tentara terhadap Perdana Menteri Yingluck Sinawatra pada 22 Mei 2014.

Saat keadaan darurat, ribuan tentara dengan kendaraan tempur menguasai sejumlah tempat vital, salah satunya hotel. Alhasil, jumlah turis menurun menjadi sekitar 24 juta (Thailand Tourism Statistics, 2020). Pertumbuhan ekonomi pun jeblok dari 2,68% tahun 2013 menjadi 0,98% pada 2014.

Kontribusi ke Perekonomian

Pascaresesi di Amerika tahun 2009, perekonomian dunia secara umum sudah pulih. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh sektor pariwisata di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pada periode I kepe mim pinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), jumlah wisman ke In donesia rata-rata per ta hun hanya sekitar 6,65 juta. Pada periode II SBY, jumlah turis yang berkunjung ke Indonesia rata-rata per tahun naik menjadi 8,18 juta.

Dari tahun 2004 ke 2014 terjadi ke naikan kunjungan wisman ke Indonesia sekitar 77,31% atau dari 5,32 juta orang menjadi 9,43 juta. Presiden Joko Widodo (Jokowi) cukup ambisius untuk mengembangkan sektor pariwisata. Sejumlah kebijakan diambil agar sektor pariwisata memberi kontribusi lebih signifikan untuk perekonomian. Sejak tahun 2015, pemerintah memberi kemudahan izin operasi kapal yacht dan kapal pe siar ke Indonesia.

Selain Bali, pemerin tah juga mengembangkan 10 des tinasi baru seperti Borobudur, Mandalika, Danau Toba, dan Baluran. Didukung dengan perbaikan infrastruktur transportasi seperti pelabuhan dan bandara. Terobosan berani diambil Jokowi dengan memberi visa gratis kun jungan selama 30 hari ke 75 negara pada 2015.

Pada tahun selanjutnya jumlah negara yang diberi visa gratis bertambah menjadi 169 negara. Kebijakan ini belum memuaskan banyak pihak. Pen dapatan dari imigrasi tentu saja turun.

Risiko keamanan juga ti dak bisa diabaikan. Para pelaku pariwisata pun menilai kebijakan ini belum tentu menambah tebal kocek mereka karena justru hanya menarik wisman backpacker saja. Meski demikian, kunjungan wisman ke Indonesia terus menunjukkan grafik meningkat.

Sejak kebijakan bebas visa diterapkan, dalam lima tahun wisman yang berkunjung ke Indonesia naik 54,77% dari 10,4 juta menjadi 16,1 juta. Forward dan backward linkage di bisnis pariwisata terus berkembang pesat seperti hotel, restoran, rental kendaraan, agen travel, katering, hingga maskapai penerbangan.

Menurut data Kemenparekraf, ta hun 2009, kontribusi sektor pariwisata ke produk domestik bruto (PDB) nasional sekitar 3,25%. Angka ini naik menjadi 5,25% pada 2019. Daya saing pariwisata Indonesia pun cukup berhasil memikat hati dunia internasional.

World Economic Forum (WEF) setiap 2 tahun mengeluarkan Indeks Daya Saing Pariwisata atau Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) yang mengevaluasi sejumlah indikator ke bijakan suatu negara dalam mengembangkan sektor pariwisata yang berkelanjutan, yaitu aspek lingkungan, kebijakan pariwisata, in frastruktur serta sumberdaya alam dan budaya. Pada 2009, TTCI Indonesia berada di peringkat 81. Dari 136 negara, peringkat Indonesia melesat menjadi 40 pada 2019 (La poran Kinerja Kemneparekraf, 2019).

Corona Bikin Pariwisata Merana

Industri pariwisata di seluruh dunia menunjukkan perkembangan sebagai penopang utama ekonomi suatu negara. Pertumbuhan pariwisata setiap tahun rata-rata 4-5% yang menyumbang 8% PDB dan 10% lapangan pekerjaan di seluruh dunia (WTO, 2020). Namun, bagai petir di siang bolong, memasuki tahun 2020, virus corona melumpuhkan seluruh sendi kehidupan termasuk pariwisata.

Sektor pariwisata yang rentan terhadap krisis langsung terkapar. Menurut laporan Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) pada Oktober 2020, selama periode Januari- Agustus 2020, kedatangan turis internasional turun 70%. Ang ka ini sama dengan sekitar 700 juta kunjungan turis dan hilang nya pendapatan sekitar US$ 730 miliar.

Sekjen PBB, Antonio Guterres bahkan menyatakan pandemi ini membuat pengeluaran turis internasional turun sekitar US$ 910 miliar, 120 juta pekerjaan dalam ancaman yang membuat sektor pariwisata mundur sekitar 20 tahun. Sektor penerbangan yang menjadi pendukung utama pariwisata sudah merasakan pahitnya pandemi.

Banyak maskapai yang sudah mengurangi jumlah karyawan untuk mengurangi beban biaya. Sejak Juli 2020, Emirates mengurangi 9.000 karyawan, dan pada Oktober 2020 pengurangan karyawan juga dilakukan Cathay Pacific sejumlah 5.900, America Airlines 19.000. Dari Tanah Air, Garuda mengurangi 700 karyawan (Kompas, 28/10/2020). Provinsi yang mengandalkan pa riwisata sebagai sumber pen dapatan sangat terdampak Covid-19, seperti Kepulauan Riau (Kepri), Jawa Barat dan tentu saja Bali.

Pada Januari 2020, wisman yang berkunjung ke Bali masih sekitar 1,27 juta. Penurunan drastis dirasakan sejak April 2020 yang hanya sekitar 158,7 ribu. Pertumbuhan ekonomi Bali pun jauh di bawah rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II dan III masing-masing adalah -5,32% dan -3,49%, sementara Bali masing-masing -10,98% dan -12,28% (year-onyear).

Setiap pergantian tahun, sektor pariwisata selalu glowing namun kini sektor pariwisata masih merana lantaran corona.

Efisiensi dan Adaptasi

Tatanan pariwisata yang sudah dibangun beberapa dekade terakhir bisa jadi runtuh hanya dalam beberapa bulan lantaran pandemic Covid-19.

Kebijakan lockdown dan social distancing membuat sejumlah kegiatan travelling, meeting dan event dibatalkan. Hampir semua tempat wisata sepi, tingkat hunian hotel jeblok dan sektor transportasi penumpang menjadi lesu.

Para aktor di pariwisata dipaksa oleh keadaan untuk kreatif agar bisa survive. Krisis merupakan fi ter bagi dunia pariwisata, siapa yang bisa melakukan efisiensi dan siapa yang mampu beradaptasi dengan lingkungan baru? Pilihan pemutusan hubungan kerja menjadi tidak terelakkan untuk mengu rangi biaya sebab pendapatan turun drastis. Semua tempat wisata kini ha rus juga mengikuti protokol ke sehatan, dari fasilitas, standar kebersihan dan pelayanan.

Bagi yang tidak bisa efisien dan tidak ber adaptasi dengan lingkungan baru terpaksa harus take-out dari industri. Stopler dan Samuelson (1941) menjelaskan tentang insentif untuk faktor produksi dalam perdagangan internasional. Bagi industri yang menang dalam persaingan di perdagangan internasional maka faktor produksi yang melimpah bakal mendapat insentif lebih besar.

Sementara bagi industri yang kalah dalam perdagangan internasional (inef ficient) maka faktor produksi bakal pindah ke industri yang menang (efficent). Memang teori Stopler dan Samuleson konteksnya adalah persaingan dalam perdagangan internasional. Namun, teori di atas bisa menjelaskan mobilitas fak tor produksi saat resesi seperti se karang. Perpindahan faktor pro duksi dari sektor yang kurang efisien ke sektor yang lebih efisien (yang ma sih survive).

Kini banyak pekerja yang sebelumnya mencari penghidupan di sektor pariwisata terpaksa harus pindah ke sektor lain yang lebih efi sien dan masih ada demand meski pandemi. Setiap transisi ekonomi selalu ada perpindahan faktor pro duksi.

Selain itu, pengusaha di bidang pariwisata kini harus menimbang untuk mendiversifikasi investasi ke sektor di luar pariwisata. Jika ada shock yang menghantam pa riwisata, mereka masih memiliki sum ber penghidupan dari sektor lain. Lalu, kapan krisis ini akan berakhir?

Chief Economist IMF, Gita Gopinath, dalam sejumlah konferensi pers World Economic Outlook kerap menegaskan bahwa ne gara yang sangat tergantung de ngan sektor jasa sangat terdampak oleh krisis ini dan pemulihannya juga tidak secepat sektor manufaktur. Lebih lanjut, dosen Harvard University ini juga mengingatkan semua negara bahwa krisis ini...”still far from over”.

Untuk memulihkan sektor pariwisata, pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp 3,8 triliun. Rencana pemerintah untuk memberi stimulus ke sektor pariwisata dan kedatangan vaksin beberapa waktu lalu memang memberi secercah harapan bagi sektor pariwisata. Namun, untuk kembali ke situasi normal tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sisi yang harus diperbaiki tidak hanya purchasing power namun sisi supply juga harus dibenahi. Sektor pariwisata harus menata ulang dirinya agar bisa pulih dan menghadapi lingkungan yang baru pascapandemi. Krisis merupakan pemicu untuk perubahan yang lebih baik. Jika ada protokol krisis untuk sektor keuangan karena sektor ini sangat sensitif dan sistemik, sektor pariwisata juga butuh protokol krisis.

Memang pariwisata tidak terlalu sistemik (kadang hanya lokal) namun sektor ini juga sangat sensitif terhadap berbagai krisis dan kini memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja. Jika tidak ada protokol yang tepat untuk penanganan krisis, sektor pariwisata tidak siap mengantisipasi krisis yang bakal terjadi di masa mendatang.

*) Dosen dan Direktur LKSFI FEB Uhamka

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN