Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chandra Bagus Sulistyo, Manajer Riset Bisnis & Ekonomi Bank Negara Indonesia

Chandra Bagus Sulistyo, Manajer Riset Bisnis & Ekonomi Bank Negara Indonesia

Pemberdayaan UMKM Menuju Go International

Chandra Bagus Sulistyo *), Sabtu, 4 Januari 2020 | 11:01 WIB

Pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Jokowi- Ma’ruf dalam lima tahun ke depan. Hal itu diwujudkan melalui pembentukan undangundang (UU) yang dijadikan omnibus law. Yaitu, UU yang dibuat untuk menyasar isu besar, dengan mencabut atau mengubah beberapa UU terkait UMKM sebelumnya. Tujuannya adalah merampingkan regulasi dan menyederhanakan peraturan sehingga tepat sasaran dalam mewujudkan pemberdayaan UMKM menuju Go International.

Menilik kebijakan sebelumnya, dukungan terhadap UMKM memang sudah dilakukan, namun belum maksimal. Dukungan pemerintah waktu itu hanya menyentuh sisi luar persoalan UMKM, belum menyentuh substansinya. Pemerintah harus lebih mendorong pemberdayaan UMKM secara komprehensif. Pemberdayaan tersebut dimulai dari pembentukan karakter pelaku UMKM, peningkatan kapabilitas SDM, proses produksi yang efektif dan efisien, digitalisasi proses, packaging yang menjual, memfasilitasi pembiayaan atau permodalan yang mudah, murah, fleksibel (antara lain melalui Kredit Usaha Rakyat/KUR) hingga fasilitas ekosistem yang mudah dan nyaman.

Mengapa pemberdayaan UMKM dirasa penting? Karena kita ketahui bersama, UMKM mempunyai daya tahan tinggi sebagai penopang ekonomi negara, bahkan di saat negara dilanda krisis global. UMKM sebagai penyangga perekonomian nasional, manakala korporasi-korporasi besar menghadapi tekanan krisis global akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang tidak jelas kapan berakhirnya.

Di sinilah peran strategis UMKM mendongkrak perekonomian nasional. UMKM harus kian kuat, kokoh dan besar sehingga dapat berkiprah pada kancah go international sehingga mimpi Indonesia di tahun 2045 untuk menjadi Negara maju yang ditandai dengan produk domestic bruto (PDB) sebesar US$ 7 triliun dapat terwujud.

Peran Penting UMKM

Harus disadari, UMKM memainkan posisi penting di saat perang dagang berkecamuk dan memengaruhi perekonomian dunia. UMKM mampu menjadi motor lokomotif penggerak sektor riil untuk mendorong perekonomian nasional. UMKM sebagai pahlawan ekonomi nasional, yang mampu survive di saat rupiah mendapat tekanan terhadap dolar, ancaman pengenaan tariff impor tinggi pada industri korporasi karena isu lingkungan.

Prospek dan potensi UMKM nasional sangatlah besar. Hal ini terlihat dari data Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo), jumlah pelaku UMKM di Indonesia sebesar 59,26 juta dengan kontribusi penyumbang PDB tahun 2018 hingga 60,34%.

Diperkirakan pada 2020 jumlah unit UMKM bisa menembus 65 juta. Peran UMKM lainnya adalah penciptaan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, serta pengurangan pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, jumlah UMKM sebanyak 62.922.617 unit atau 99,99% dari total 62.928.077. Artinya, penyerapan tenaga kerja yang dilakukan UMKM sangatlah besar.

Menjadi wajar, jika pemberdayaan UMKM harus dilakukan karena merupakan kekuatan besar perekonomian nasional ke depan. Keperkasaan UMKM lainnya terlihat dari sisi ekspansi kredit perbankan. Meski kredit perbankan secara total mengalami perlambatan, namun khusus untuk ekspansi kredit UMKM terus mengalami pertumbuhan. Geliat ekspansi kredit UMKM terlihat dari rilis data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit sektor UMKM pada Agustus 2019 tumbuh 13,3% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1.035,5 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaannya, terjadi peningkatan kredit UMKM baik dari investasi maupun modal kerja. Per Agustus kredit modal kerja tercatat tumbuh 10,4% (yoy) menjadi Rp 751,0 triliun dan kredit investasi meningkat 21,6% (yoy) menjadi Rp 284,5 triliun.

Pemberdayaan UMKM

Menyadari peran strategis UMKM tersebut, kiranya pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk dapat selalu konsisten membuat terobosan sehingga mampu mewujudkan UMKM nasional go international. Diharapkan UU pemberdayaan UMKM menjadi paying hukum dalam mengawal metamofora UMKM dari go modern menjadi go digital, dan ujungnya menjadi go international.

UMKM menjadi go modern ditandai oleh dua fase, yaitu fase produksi dan fase proses. Dua fase ini, merupakan fase awal atau fase dasar dari tahapan proses UMKM. Dalam fase produksi, pelaku UMKM diharapkan mampu lebih produktif. UMKM harus dapat meningkatkan volume produksinya, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin modern yang semakin canggih dan cepat, serta pembukuan yang memanfaatkan aplikasi teknologi informasi. UMKM harus terbuka dengan berbagai hal baru yang terus bermunculan.

Daya saing produk UMKM harus terus dibenahi dalam hal kualitas dan harga. Berkaitan dengan kualitas produk, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki yakni berkaitan dengan bahan, finishing produk, keahlian, konsistensi standar dan juga kemasan dengan brand identity yang kuat. Di saat hasil produksinya meningkat, maka UMKM dapat menjaga cashflow-nya sehingga kelancaran pembayaran pembiayaan (pinjaman bank) dapat dilakukan dengan lancer dan tertib.

Berikutnya adalah fase proses. Pada fase proses, UMKM diharapkan lebih efisien dan variatif. UMKM harus dituntut kreatif dan inovasi. UMKM harus terbuka dengan berbagai hal baru yang terus bermunculan. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka UMKM harus dapat membuat produk/jasa mereka mempunyai value added berupa local wisdom. Produk/jasa UMKM harus branded dengan local wisdom. UMKM perlu mengaitkan produk/jasa dengan brand identity. Brand identity tak hanya bisa ditonjolkan dari kemasan produk saja tetapi juga dari keunikan dan inovasi produk. Produk yang unik sudah pasti akan mencuri perhatian sekalipun harganya terbilang mahal.

Caranya ialah dengan mengadopsi kekayaan budaya lokal di Indonesia dan menampilkannya dengan tampilan yang kontemporer. Budaya lokal di setiap negara pastinya berbeda dan memiliki ciri khas sehingga produk UMKM akan tampil unik. Go digital merupakan fase retail yang bertujuan agar UMKM mudah dijangkau pasar. Pada koridor go digital, saatnya UMKM menggunakan digitalisasi untuk meningkatkan ekspansi bisnisnya. Digitalisasi akan lebih mengoptimalkan produksi serta efisiensi proses yang ada. Contoh digitalisasi oleh UMKM adalah penggunaan Point of Sales (POS) yang merupakan sebuah program untuk transaksi penjualan bagi retail, social media untuk pemasaran, ataupun sistem digital manajemen terhadap stok barang.

Go International

Muara akhirnya adalah menjadikan UMKM go internasional. Dalam Go internasional terdapat fase marketing. Urgensi dari fase ini adalah menjadikan UMKM sebagai jawara di sub bidangnya masing-masing. UMKM harus berwawasan global. UMKM harus kreatif dalam mencari terobosanterobosan inovatif. Untuk itu, diperlukan sinergi apik antara pemerintah, BI, perbankan, perusahaan e-commerce beserta UMKM Indonesia untuk dapat menembus pasar global melalui e-marketplace.

Penjualan melalui e-commerce menjadi bridging pengusaha UMKM menuju go internasional. Karena saat ini, bertransaksi di dunia maya sudah menjadi kebutuhan dan bagian dari new model business UMKM.

Dengan demikian, perlu pemberdayaan UMKM agar menjadi lebih kuat dan tangguh sehingga mampu bersaing secara kompetitif dengan produk-produk mancanegara lainnya dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara maju di tahun 2045.

*) AVP Program Pemerintah–BNI Divisi Bisnis Usaha Kecil 2

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA