Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fadhil Hasan

Fadhil Hasan

Pemulihan Ekonomi Nasional Berbentuk W?

Kamis, 2 Juli 2020 | 13:16 WIB
Fadhil Hasan *)

Resesi secara sederhana didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua triwulan secara berturut-turut. Dengan definisi di atas maka secara teknis ekonomi Indonesia sudah masuk kategori resesi memasuki triwulan III-2020 ini. Karena pertumbuhan ekonomi sudah negatif dalam triwulan I dan II-2020.  

Pada triwulan I-2020 ekonomi tumbuh 2,97% dibanding 5,03% pada triwulan I-2019, dan kemudian triwulan II- 2020 ekonomi diperkirakan tumbuh negatif -3% dibanding 5,03% pada triwulan I-2019.

Indikator lain yang biasa digunakan adalah meningkatnya pengangguran dalam jumlah signifikan. Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dulu secara berkelakar pernah mengatakan resesi adalah keadaan ketika kita kehilangan pekerjaan, dan depresi adalah ketika tetangga kita juga kehilangan pekerjaannya, dan pemulihan ekonomi adalah ketika Jimmy Carter (lawan politiknya saat itu) kehilangan pekerjaannya. Jika kita melihat saat ini dengan tingkat pengangguran sebesar lebih dari 10% atau 13-14 juta orang, maka semakin kuat fakta ekonomi sedang memasuki resesi.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana pemulihan ekonomi yang akan kita alami ke depan. Dalam literatur ekonomi ada beberapa proses dari pemulihan yang terjadi.

Pertama adalah pemulihan ekonomi yang relatif cepat dan sering dinyatakan sebagai proses pemulihan ekonomi yang berbentuk huruf “V”. Ekonomi mengalami penurunan tajam dan kemudian berbalik meningkat tajam dalam waktu singkat.

Kedua adalah pemulihan ekonomi yang relatif lama dan sering disebut sebagai proses pemulihan yang mirip huruf “U”. Di sini ekonomi mengalami penurunan dan kemudian tumbuh rendah dalam waktu relatif lama, sebelum akhirnya kembali tumbuh seperti semula.

Ketiga adalah pemulihan ekonomi yang lebih lama dan ekonomi tidak pernah kembali pada keadaan semula dan prosesnya seperti huruf “L”.

Keempat adalah pemulihan ekonomi berbentuk huruf “W” atau sering disebut double dip recession. Ekonomi tumbuh negatif, kemudian meningkat tajam namun kemudian turun lagi sebelum akhirnya kembali pada tumbuh seperti semula. Jadi ekonomi mengalami dua kali resesi. Indonesia pernah mengalami dua kali resesi dalam 25 tahun terakhir ini. Pada tahun 1997/98 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 13% tapi kemudian pulih secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya. Pemulihannya lebih mirip huruf “U”.

Pada tahun 1997/98 sumber krisis berasal dari Thailand yang kemudian merambat ke Indonesia dipicu oleh gangguan di pasar keuangan, pelemahan nilai tukar rupiah, dan mengeringnya likuiditas perusahaan.

Dalam kasus Indonesia, resesi ekonomi melebar menjadi krisis multidimenasi dan bahkan berakhir dengan pergantian kekuasaan.

Pada tahun 2008/2009 resesi terjadi akibat faktor eksternal, yakni sub-prime morgate di Amerika Serikat yang kemudian menyebabkan resesi pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Namun demikian dampaknya lebih terasa pada sektor keuangan dan kegiatan ekspor akibat jatuhnya harga komoditas. Sebagai ekonomi yang tidak terlalu terekspose pada sistem keuangan dan perdagangan dunia, resesi yang terjadi dapat pulih secara cepat dibandingkan dengan resesi pada tahun 1997/1998. Pemulihan yang terjadi lebih mirip huruf “V”. Bagaimana prospek pemulihan ekonomi dari resesi yang akan terjadi akibat pandemi Covid-19?

Resesi ekonomi akibat Covid-19 bersumber dari penyebaran wabah dan virus yang mengganggu seluruh aspek ekonomi produksi, distribusi dan konsumsi, juga menghentikan pergerakan manusia, barang dan jasa.

Karakteristik dari Covid-19 yang menular secara cepat dan tidak terkontrol serta tidak terduga menyebabkan banyaknegara mengalami kegagapan dalam melakukan respons baik secara ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Respons kebijakan pemerintah pada umumnya adalah melakukan karantina (negara, wilayah, dan lokal) dan/atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta berbagai restriksi dalam pergerakan manusia, barang dan jasa yang pada gilirannya menyebabkan terhentinya kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Jadi berbeda dengan resesi sebelumnya di mana kita bisa melihat tahapan dari shock yang terjadi apakah pada sisi pasokan atau permintaan, maka resesi sekarang ini, dampaknya terhadap sisi pasokan dan permintaan secara keseluruhan terjadi pada saat bersamaan.

Perbedaan lainnya adalah dampak resesi terhadap sektor dan pelaku ekonomi. Pada 1997/98 sektor perusahaan dan keuangan yang paling terdampak dari krisis, sedangkan tahun 2008/2009, sektor keuangan dan ekspor yang banyak terdampak.

Sementara sektor lainnya justru mendapatkan keuntungan, seperti sektor yang berorientasi ekspor dalam resesi tahun 1998. Pada 2008 sektor ekspor terganggu akibat dampak dari pasar internasional dan harga komoditas yang jatuh, dialihkan ke dalam negeri. Namun dalam resesi sekarang hampir semua sektor dan pelaku ekonomi ikut terdampak.

Pemulihan Berbentuk W?

Dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 sangat ditentukan oleh efektivitas penanganan terhadap penyebaran dan penularan Covid-19 itu sendiri. Penanganan Covid-19 mencakup kapasitas dalam melakukan test, penelusuran dan perlakukan serta pengobatan terhadap pasien Covid-19. Karenanya kapasitas kesehatan sangat menentukan keberhasilan melakukan ketiga hal tersebut (testing, tracing and treatment).

Upaya lain untuk menekan penyebaran dan penularan adalah dengan pemberlakuan karantina dan/atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Namun pemberlakuan PSBB menyebabkan terhentinya kegiatan ekonomi, yang pada gilirannya berakibat meningkatnya pengangguran dan kemiskinan serta terhentinya berbagai aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Selain dari itu, untuk melindungi masyarakat yang terdampak, bantuan dan perlindungan sosial adalah prioritas kedua yang harus berjalan secara efektif. Karenanya setiap negara termasuk Indonesia memberikan stimulus fiskal dalam jumlah yang besar untuk berbagai program bantuan dan perlindungan sosial.

Keduanya harus berjalan secara bersamaan. Melihat penanganan pandemi Covid-19 dan pelaksanaan program bantuan dan perlindungan sosial yang berjalan saat ini sangat beralasan jika dikatakan kemungkinan besar pemulihan ekonomi yang akan terjadi akan berbentuk huruf “W” dengan argumentasi sebagai berikut.

Pertama, penanganan penyebaran dan penularan wabah Covid-19 belum berjalan efektif. Jumlah kasus positif bahhan terlihat meningkat justru setelah ekonomi dibuka secara bertahap. Kurva penyebaran belum melandai. Anggaran kesehatan baru cair sebesar 1,54%.

Kedua, berbagai program bantuan dan perlindungan sosial tidak berjalan efektif. Sebagaimana dilaporkan, anggaran baru cair sebesar 28% karena masalah akurasi dan tumpang tindihnya data dan birokrasi yang rumit.

Ketiga, kegiatan ekonomi dibuka tidak pada saat yang tepat, terlalu tergesa-gesa dan agresif. Seharusnya kegiatan ekonomi dibuka setelah berbagai indikator kesehatan menunjukkan bahwa penyebaran virus ini berhasil dikendalikan secara efektif.

Keempat, masyarakat tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Demikian pula program stimulus untuk dunia usaha dan UMKM tidak berjalan dengan baik, terbukti dari rendahnya anggaran stimulus pemulihan ekonomi nasional yang telah disalurkan karena tidak jelasnya skema program yang dijalankan dan proses birokrasi serta tarik menarik kewenangan antarlembaga.

Dengan demikian besar kemungkinan terjadi second wave dalam penyebaran Covid-19, yang pada gilirannya memaksa pemerintah untuk kembali melakukan PSBB dan berbagai restriksi pergerakan ekonomi.

Jika demikian maka kegiatan ekonomi akan kembali menurun dan resesi kedua terjadi lagi. Pemulihan ekonomi pun akan berjalan lama dan berlarut-larut.

Masalahnya adalah apakah kita memiliki ketahanan dan kapasitas ekonomi untuk menjalani semua itu? Sudah barang tentu kita harus mencegah kemungkinan terjadinya pemulihan berbentuk “W” ini.

Kapasitas dan ketahanan ekonomi tidak cukup kuat untuk menjalaninya. Karenanya, sebelum too little too late, sudah saatnya pemerintah mengambil kebijakan dan langkah-langkah yang lebih bold dan terukur.

Wajar jika Presiden Joko Widodo gusar dan kesal melihat sebagian anggota kabinetnya yang tidak memiliki sense of crisis dan bekerja apa adanya. Namun kegusaran dan kekesalan presiden tidak akan memiliki arti apa-apa dan tidak akan mengubah keadaan jika presiden tidak menindaklanjuti dengan tindakan yang lebih konkret.

*) Ekonom Senior Indef

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN