Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dewa Komang Tri Mahayana, Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan batch 2, Universitas Pelita Harapan

Dewa Komang Tri Mahayana, Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan batch 2, Universitas Pelita Harapan

Pendidikan sebagai Praksis Pembebasan

Selasa, 4 Mei 2021 | 09:04 WIB
Dewa Komang Tri Mahayana

Mencari model pendidikan dan pembelajaran di Indonesia rasanya selalu menjadi isu menarik yang diperbincangkan para pakar dengan melihat realitas Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan dengan segala tantangannya. Termasuk berkaca pada negara lain yang sukses dengan model pendidikannya.

Tulisan ini mencoba untuk melihat pemikiran seorang filsuf asal Brasil yang lahir di sebuah kota bernama Refice Brasilia. Dia adalah Paulo Freire yang merupakan seorang pedagog pendidikan. Seirama dengan dasar negara Indonesia yang menjamin pendidikan dasar bagi setiap warganya, Paulo Freire sangat kuat dengan pemikirannya mengenai pembebasan pendidikan.

 

Pembebasan Pendidikan

Kehidupan masa kecil memberi pelajaran berharga bagi Paulo. Pada tahun 1929, krisis ekonomi melanda Brasil sehingga memengaruhi kehidupan ekonomi keluarga Paulo Freire. Situasi saat itu membuat Paulo Freire saat usia sekolah sudah terbiasa dengan kondisi kelaparan dan kemiskinan. Bangkit dari krisis, ekonomi keluarganya membaik sehingga Paulo berkesempatan masuk ke sebuah universitas lokal, yaitu Universitas Refice pada tahun 1943 dan mengambil studi tentang Fenomenologi dan Psikologi Bahasa. Hal ini menolong kariernya sehingga pada tahun 1946 Paulo Freire bekerja sebagai kepala departemen pendidikan untuk pemberantasan buta huruf.

Dalam kehidupannya, Paulo Freire sangat dipengaruhi oleh teologi pembebasan yang saat itu sangat berkembang di Amerika Latin. Pembebasan buta huruf ini sangat menarik perhatian Paulo untuk pendidikan kepada masyarakat secara luas. Dapat dikatakan kegiatan pedagoy of the oppressed yang dilakukan oleh Paulo Freire berfokus kepada pemberantasan buta huruf. Pemberantasan buta huruf dilakukan Paulo sangat unik, sebab instrumen yang digunakan untuk masyarakat marginal yaitu memunculkan kesadaran politis yang secara luas di dalam kehidupan masyarakat. Paulo Freire mulai terkenal seperti orang cendekiawan lain yang memberi perhatian terhadap isu sosial dalam sebuah negara dan ia pun bekerja di Brasilia untuk memberi perhatian kepada kaum marginal.

Titik tolak dari pemikiran Paulo Freire lahir dari pergumulan di dalam dirinya selama beberapa tahun akan keadaan lingkungan sosial yang dialami di tengah-tengah masyarakat miskin dan tidak berpendidikan. Kehidupan masyarakat yang feodal (hirarkis) merupakan sistem yang terjadi di tengah kehidupan Paulo. Dalam sistem ini terjadi sebuah perbedaan kelas antara satu golongan dengan golongan yang lain.

Salah satu golongan yang disebut golongan atas menjadi sebuah golongan penindas golongan masyarakat bawah yang miskin melalui sebuah kekuasaan dan kekayaan. Dalam sistem ini terjadi sebuah kebudayaan bisu di mana golongan bawah yang tertindas hanya menerima perlakuan penindasan dan tidak adanya kesadaran yang muncul dari kaum tertindas akan keadaan yang dialami saat itu. Sehingga tercipta sebuah sistem atau bentuk dehumanisasi, yaitu tindakan menyangkal kemanusiaan/penghilangan harkat martabat manusia lainnya dan tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Alhasil, pendidikan bukan pilihan bagi kaum tertindas.

Freire mengembangkan pedagogi kritis yang menyadarkan siswa tentang struktur penindasan dalam sebuah masyarakat. Paulo Freire menggali sebuh konsep yang sangat penting dalam ilmu sosial, yaitu konsep praxis, yang berarti emansipasi atau pembebasan. Menurut Paulo Freire, manusia berbeda dari hewan karena kapasitasnya untuk melakukan suatu refleksi dari sebuah penyadaran yang utuh serta menjadikannya sebagai manusia yang mampu berelasi dan bersifat historis. Manusia perlu sadar akan realitas dunia yang terjadi di lingkungan masyarakat di mana dia tinggal.

 

Guru Bukan Bankir

Kritik yang dilakukan atas pendidikan oleh Paulo Freire yaitu pada banking concept of education. Konsep bank terhadap pendidikan, cirinya yaitu naratif, hanya sekadar bercerita tetapi kebal kritis, sering otoriter tidak mendorong pemikiran kritis. Model banking ini menciptakan keadaan murid yang hanya bersifat pasif, tidak kreatif dan tidak memperoleh atau mendapatkan sebuah proses pencerahan yang disebut konsientisasi atau penyadaran, yang terjadi hanya terbentuk proses di mana siswa hanya mengumpulkan informasi dari guru.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kita dapat melihat masih banyak sekolah yang menerapkan sistem banking of education. Peran guru di dalam kelas masih menganut sistem feodal, di mana guru itu segala tahu, serba tahu dan serba bisa. Guru ibarat adalah bankir yang memiliki uang yang bisa secara langsung diberikan kepada muridnya. Murid seperti menjadi penabung informasi, hanya menghafal materi atau informasi dan tidak memunculkan gaya pemikiran secara kritis. Model ini juga dapat menindas kreativitas siswa secara mandiri, tidak adanya apresiasi atas sebuah perolehan informasi dari sebuah pemikiran. Peran guru selayaknya seperti depositor memasukkan uang ke dalam kontainer atau brankas, sikap murid hanya menerima dan menghafal informasi, hasil hafalan tadi akan diujikan dalam sebuah tes di mana hasilnya nanti diukur oleh guru dan selanjutnya guru tersebut memberikan evaluasi.

Guru ala bankir tentu menjadi polemik tersendiri di tengah tantangan pandemi Covid-19 yang sejak 2020 silam bergejolak hingga saat ini. Pembelajaran yang dilakukan dengan mengandalkan virtual menuntut peran guru yang bukan saja memberi materi, namun perlu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yang berlangsung.

Peran guru selayaknya sebagai seorang fasilitator yang membantu peserta didik mengeluarkan kreativitas dan kemampuan bernalar dan komunikasinya dalam sebuah proses pembelajaran. Dialog dan inquiri adalah salah satu model yang dapat digunakan oleh guru untuk dapat memaksimalkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari atau menyelidiki sesuatu peristiwa secara sistematis, kritis, logis dan analitis. Sehingga setiap siswa mampu merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

 

Pendidikan yang Merdeka

Konteks pendidikan di Indonesia saat ini masih perlu memberikan pemahaman kepada guru akan arti atau panggilan dari sebuah pendidikan yang merdeka. Pendidik seharusnya dapat memanggil setiap siswa untuk menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Panggilan merdeka yaitu transformasi siswa menjadi manusiawi atau humanisasi yaitu panggilan untuk praxis dialog. Praxis dialoge menurut Freire adalah tindakan yang mengucap dan mendengarkan suara hati kita dari dalam diri untuk melakukan suatu tindakan berkomunikasi. Sementara menjadi manusia adalah melaksanakan hal premodial atau hak asli yaitu berkomunikasi. Jika setiap guru di Indonesia mampu membuat siswa untuk dapat berkomunikasi atau melakukan praxis dialog di dalam kelas, berarti guru tersebut sudah mampu membawa siswa melaksanakan hak premodialnya dalam mencapai suatu kesadaran yang baik.

Menurut Paulo Freire dalam praxis dialog akan melahirkan beberapa tingkatan kesadaran kepada siswa yaitu (1) semi intransitive yaitu kesadaran tingkat rendah biasa disebut kesadaran magis di mana kesadaran ini terjadi pada masyarakat berbudaya bisu, yaitu masyarakatnya tertutup. (2) kesadaran naif transitif yaitu kesadaran yang mengenal adanya ketidakadilan di dalam sebuah lingkungan. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali suatu realitas. (3). Kesadaran kritis yaitu kesadaran yang membangun sebuah ketidakadilan sistemis. Kesadaran ini ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah yang terjadi, memiliki percaya diri dalam berdiskusi, serta mampu menerima dan menolak sebuah pendapat. Jika pendidikan kita di Indonesia mampu menerapkan model pembelajaran yang melahirkan sebuah kesadaran atau konsientisasi serta dapat memunculan metode pembelajaran yang lebih berfokus kepada keaktifan siswa di dalam kelas dalam metode dialog atau diskusi serta berefleksi maka diyakinkan sistem pendidikan kita akan dapat melahirkan generasi-generasi yang memiliki pemikiran yang kritis serta mampu merespons dengan baik akan keberadaannya terhadap lingkungan atau masyarakat dimana mereka berada saat ini.

Model pendidikan yang diciptakan atau dibuat oleh Paulo Freire adalah model pendidikan yang menitikberatkan kepada sebuah keadaan yang melahirkan konsientisasi atau kesadaran di dalam diri siswa. Kedudukan guru dan siswa merupakan kedudukan yang setara dimana keduanya adalah subyek yang sama-sama belajar.

Layaknya pendidikan di Indonesia dengan latar belakang negara kepulauan dan beragam budaya serta adat-istiadatnya, guru sebagai bankir tidak akan berjalan maksimal untuk menemukan model pendidikan dan pembelajaran yang tepat guna bagi generasi bangsa.

Zaman boleh berganti, era pemerintahan boleh berganti, namun Negara tetap menjamin warganya untuk mendapatkan pendidikan tanpa memandang status kaumnya seperti Paulo yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum marjinal.

 

*) Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan batch 2, Universitas Pelita Harapan

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN