×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta

Pengajaran Minus Pendidikan

Sumbo Tinarbuko, Jumat, 12 April 2019 | 09:57 WIB

Ketika lembaga pendidikan menyelenggarakan pengajaran minus pendidikan, masih layakkah dipandang sebagai lembaga sosial yang menyandang amanah untuk mencerdaskan dan memerdekakan peserta didik? Jika lembaga pendidikan diberi garis demarkasi hanya pada wilayah pengajaran, masihkah punya Rahim kebijakan idealisme; yang melahirkan manusia unggul?

Koran Investor Daily, Jumat 8 Maret 2019 menayangkan berita utama berjudul: “Prabowo Bercita-cita Pendidikan Indonesia Terhebat di Dunia”. Dalam pemberitaan berita utama itu, diwartakan calon presiden Prabowo Subianto memiliki cita-cita sistem pendidikan di Indonesia menjadi yang terhebat di dunia. Hal itu diharapkan dapat menghasilkan pemimpin terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia serta dunia.

Cita-cita mulia capres Prabowo seperti dikutip Koran Investor Daily disampaikan Boyke Setiawan, Rektor Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI). “Pak Prabowo ingin Indonesia dipimpin oleh putraputri terbaik dan terhebat, mereka haruslah berpendidikan. Karena itu sistem pendidikan di Indonesia harus menjadi yang terbaik di Asia maupun di dunia, itu cita-cita beliau,” kata Boyke Setiawan.

Cita-cita capres nomor urut 02 sungguh menarik untuk diperbincangkan, bukan dalam konteks kampanye pemilu calon presiden. Mengapa demikian? Sebab cita-cita Prabowo Subianto terkait dengan sistem pendidikan di Indonesia itu jauh panggang dari api.

Mati Gaya

Realitas sosial di lapangan mencatat jejak digital jagat pendidikan di Indonesia lebih mengedepankan konsep pendidikan minus pendidikan. Hal ini terjadi akibat lembaga pendidikan diposisikan menjadi bagian dari industri. Yakni industri pendidikan. Ketika industri pendidikan diperbolehkan membuka jasa pendidikan formal di Indonesia, maka layanan jasa pendidikan yang dijual berwujud lembaga pengajaran minus pendidikan.

Pada titik itu tercipta adagium komersial: pendidikan mahal. Dampaknya peserta didik tersegmentasi. Anak orang kaya sanggup membeli jasa industri pendidikan. Sebaliknya, anak keluarga kurang mampu menjadi terpinggirkan. Dampak sosialnya, mereka harus rela diposisikan dalam kelompok rendah daya nalar akademiknya.

Dengan kata lain, konsep pendidikan minus pendidikan menjadi panglima perang komersialisasi pendidikan. Kondisi manakala industri pendidikan membuka layanan jasa pendidikan dengan menjual dagangan dalam wujud lembaga pengajaran minus pendidikan.

Pada titik itu, mutu pendidikan dinilai para pihak memasuki peringkat rendah. Pendek kata, kualitas pendidikan formal tidak seperti diharapkan. Kualitas pendidikan tampil mati gaya dan hadir dalam perwujudan yang kaku membatu. Keberadaannya pun cenderung menumbuhkan dinding-dinding bisu dalam konteks perspektif ilmu pengetahuan.

Dampak atas format semacam itu menyebabkan peserta didik sebagai konsumen layanan jasa industri pendidikan harus berkenan menerima proses indoktrinasi. Sebuah proses yang melibatkan tangan penguasa untuk menyeragamkan pola piker serta menyetarakan perilaku. Lengkap dengan selera tata rasa sang penguasa. Hasilnya, keberadaan lembaga pendidikan tinggi dalam konteks industri pendidikan bersalin rupa. Ia menjadi layaknya jalan tol untuk ngebut berburu kasta modern bergengsi tinggi.

Representasinya dalam wujud jabatan publik dengan kepemilikan derajat dan pangkat tinggi di pundaknya. Atas dasar hal itu, kehadiran lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan minus pendidikan, sekarang tidak lagi dipandang sebagai lembaga sosial.

Ia bukan lagi sebuah lembaga sosial yang menyandang amanah tugas sosial untuk mencerdaskan dan memerdekakan peserta didik. Lembaga pendidikan wilayah kerjanya dipersempit. Lembaga pendidikan dalam konteks industri pendidikan didekonstruksi tugas sosialnya menjadi lembaga pengajaran. Lembaga pendidikan diberi garis demarkasi hanya pada wilayah pengajaran.

Lembaga pendidikan hanya diberi kewenangan mengajarkan pengetahuan dan secuil ketrampilan tertentu secara instan. Atas nama mandor kurikulum, ia harus rela pada kehendak penguasa zaman untuk berganti peran menyelenggarakan pendidikan tanpa melibatkan unsur pendidikan itu sendiri.

Ranah pendidikan tidak lagi dinilai sebagai upaya pengembangan intelektualitas. Ranah pendidikan bukan lagi tempat latihan laku kebijaksanaan. Ranah pendidikan kehilangan kekuatannya sebagai wahana memperbesar aspek moralitas dalam perspektif kemanusiaan.

Yang paling menyedihkan, ia dipaksa menanggalkan karakter klasik sebagai sebuah lembaga sosial. Ia tidak boleh lagi menanam kebaikan.  Ia dilarang menyebar virus kebermanfaatan guna merangkai ilmu pengetahuan dalam jalinan nilai-nilai kemanusiaan yang manusiawi, adil, mandiri, bermartabat dan berbudaya.

Lembaga pengajaran minus pendidikan kehilangan rahim kebijakan idealisme. Karena lembaga pengajaran minus pendidikan tidak memiliki rahim kebijakan idealisme, maka ia tidak mampu melahirkan manusia unggul. Akibatnya adalah tidak terjadi proses regenerasi manusia unggul yang cerdas, santun dan bermoral. Dengan demikian tidak akan muncul manusia unggul berwajah intelektual dan berkarakter cendekiawan sejati.

Patembaiatan Sosial

Dalam perspektif budaya visual, fenomena lembaga pengajaran minus pendidikan menjadikan nalar kreatif yang ada di dalam otak peserta didik menjadi beku. Orientasi social mereka menjadi karyawan dengan gaji besar.

Mereka terobsesi mampu membiayai gaya hidup konsumtivisme dan hedonisme. Hal itu mereka kejar untuk memperoleh kasta social sebagai manusia modern pemuja budaya instan. Atas pengerdilan peran dan fungsi lembaga pendidikan hanya menjadi lembaga pengajaran.

Muncul kritik keras dari para pihak yang merasa dirugikan. Mereka mengungkapkan hal itu lewat diskusi dan seminar. Mereka juga menulis di media massa cetak dan media dotcom. Dalam kritiknya, mereka melihat lembaga pendidikan diformat menjadi pabrik tenaga kerja terampil dengan bayaran murah.

Terhadap bentuk penjajahan sosial atas lembaga pendidikan, sudah saatnya lembaga pendidikan tidak hanya sekadar memberi materi pelajaran dengan target nilai tinggi. Mengapa demikian? Karena sejatinya, pendidikan adalah manifestasi peningkatan kepekaan dan kepedulian sosial.

Oleh karenanya lembaga pendidikan sebaiknya menjadi bagian dari patembaiatan sosial guna mengembangkan kepribadian berdasarkan moralitas dan budi pekerti luhur.

Untuk itu, lembaga pendidikan seyogianya mengedepankan unsur komunikasi dialogis antara pengajar dan peserta didik. Lembaga pendidikan dan para pengajar wajib bahu membahu menempatkan dirinya sebagai orang tua yang memiliki peran social sebagai pembimbing, pembombong dan pemomong.

Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN