Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Pengawasan Perbankan dan Inflasi

Achmad Deni Daruri *), Selasa, 26 Mei 2020 | 22:44 WIB

Era digital atau era internet merupakan era yang berpengaruh terhadap perekonomian dunia, paling tidak terhadap inflasi. Tidaklah mengherankan jika bank sentral di hampir seluruh dunia memiliki ruang untuk mencetak uang tanpa adanya bahaya inflasi.

Csonto, Huang dan Mora membuktikan bahwa digitalisasi secara statistik berpengaruh negatif terhadap inflasi. Permasalahannya adalah kebijakan moneter tidak selalu sistematis dan berdasarkan data, seperti yang telah diteliti oleh Bulir dan Vlcek.

Hal ini tentunya menggembirakan karena tidak kredibelnya kebijakan moneter dieleminasi oleh kehadiran teknologi digital. Sementara itu, teknologi digital juga sangat membantu dalam pengawasan sektor perbankan itu sendiri. Namun perlu juga diingat bahwa krisis keuangan global menyebabkan bank-bank yang secara sistemik sangat penting secara global telah mempertahankan orientasi internasional, tekanan pada model pendanaan dan struktur entitas dapat memengaruhi efisiensi aliran modal melalui saluran bank.

Sejauh mana perubahan efisiensi aliran modal ini akan menyebabkan efisiensi perbankan besar dan juga akan meningkatkan inflasi. Oleh karena itu, inefiensi patut dicermati. Inflasi yang menyebabkan krisis perbankan terjadi si Asia, Amerika Serikat dan Eropa yang juga memiliki bank-bank yang bersifat global.

Caparrusso, Chen, Dattels, Goel dan Hiebert membuktikan bahwa penyesuaian dalam model bisnis bank sedang berlangsung. Ada tantangan baru struktur entitas dan pendanaan model untuk mengatur kegiatan internasional bank global, sebagian karena meningkatnya fokus regulasi pada persyaratan likuiditas dan resolusi.

Model grosir (wholesale) internasional mungkin paling rentan, mengingat ketergantungannya pada aliran lintas-batas yang fleksibel dari dana grosir di antara cabang-cabang internasional. Model yang disubsidiari tampak kurang rentan, karena mereka sudah mengandalkan hampir seluruhnya dalam struktur pendanaan nasional yang terpisah. Namun, mereka juga menemukan bahwa anak perusahaan internasional bank global, yang secara sistemik sangat penting, kurang menguntungkan daripada pemain lama domestik di banyak negara tuan rumah, terutama di Negara berkembang.

Dengan demikian, inflasi dan krisis keuangan global menghasilkan fakta baru bahwa bank lokal lebih unggul dari bank-bank global. Selanjutnya yang perlu diwaspadai adalah bank-bank global tersebut. Karena, jika mereka terus kalah bersaing, bukannya tidak mungkin mereka akan menghadapi kebangkrutan global.

Lihat misalnya RaboBank sudah angkat kaki dari Indonesia. Bukan hanya itu, bank tersebut pada tahun 2013 didenda US$ 1 miliar untuk praktik perdagangan yang tidak bermoral, yang mencakup manipulasi nilai mata uang LIBOR di seluruh dunia dan diikuti oleh langkah simpatik Chief Executive Piet Moerland yang segera mengundurkan diri. Inilah tantangan pengawasan perbankan di era inflasi rendah. Indikator pengawasan yang penting untuk diperhatikan adalah rating. Pada Juni 2012, lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat RaboBank ke Aa2 (sebelumnya Aaa), dengan pandangan negatif.

Berdasarkan metodologi pemeringkatan baru pada November 2011, lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan status kredit dua langkah dari AAA ke AA. Pada November 2014, S&P menurunkan peringkat dari AA- ke A+ dengan prospek negatif.

Lembaga pemeringkat Fitch memberi peringkat status kredit bank AA-, dengan prospek negatif. Pola demikian sangat penting untuk diperhatikan oleh pengawas perbankan di Indonesia sehingga sudah dapat mengantisipasi bankbank global mana saja yang bakal angkat kaki dari bumi Nusantara di masa depan.

Antisipasi ini penting untuk dilakukan agar rontoknya bank-bank global tidak berpengaruh negatif terhadap bankbank lokal yang ada. Diiringi oleh peraturan Basel IV maka pengawas perbankan sudah dapat mengantisipasi pemutusan hubungan kerja di sektor perbankan di masa depan. Pada bulan Desember 2015, RaboBank mengumumkan untuk memangkas 9.000 pekerjaan pada tahun 2018 (3.000 pekerjaan pada akhir 2016) dan hampir seperlima dari tenaga kerjanya saat ini.

Kebijakan tersebut adalah untuk mematuhi buku aturan Basel IV yang lebih ketat. Era inflasi rendah yang berjalan beriringan dengan peraturan Basel IV memang sangat keras dalam menghukum bank-bank global yang kalah bersaing dengan bank-bank lokal.

Untuk itu regulator harus memperhatikan kondisi likuiditas perbankan dengan seksama. Rasio likuiditas (current) yang dapat diterima bervariasi dari satu industri ke industri lainnya, tetapi umumnya berkisar 1,5-3% untuk bisnis yang sehat. Jika rasio likuiditas perusahaan dalam kisaran itu, umumnya menunjukkan kekuatan keuangan jangka pendek yang baik. Saat ini, return on asset (ROA) rata-rata bank besar adalah 1,16%, dibandingkan dengan 1,22% untuk bank dengan total aset kurang dari US$ 1 miliar. Dua indikator ini merupakan indikator penting untuk menilai kesehatan dari bank-bank global tersebut.

Indikator lainnya adalah persepsi konsumen. Ini tugas dari pengawas perbankan untuk memiliki data tersebut.

Pengalaman perbankan (atau pengalaman klien) adalah jumlah dari semua interaksi yang dirasakan oleh pelanggan di sepanjang perjalanannya sebagai pelanggan ketika berinteraksi dengan bank atau lembaga keuangan.

Menurut Forrester, pengalaman pelanggan didefinisikan sebagai “bagaimana pelanggan mempersepsikan interaksi mereka dengan perusahaan”. Jika semua indikator dicermati dengan baik, era inflasi yang rendah tidak perlu menjadi momok yang menakutkan bagi regulator perbankan ketika bank-bank global semakin kalah bersaing dengan bank-bank lokal. Efek negatif bank sentral dengan mencetak uang sangatlah terbatas dan sangatlah mudah untuk dieleminasi.

*) President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN