Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Pentakosta, Pancasila, dan Normal Baru

Paulus Mujiran *), Minggu, 31 Mei 2020 | 00:39 WIB

Minggu, 31 Mei 2020 diperingati sebagai Hari Raya Pentakosta, hari pencurahan Roh Kudus. Kemudian Senin, 1 Juni 2020 diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

Perayaan Pentakosta yang merupakan peristiwa pencurahan Roh Kudus ini terjadi sesudah Yesus naik ke surga.

Sementara itu, hari lahir Pancasila terkait dengan pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 mengenai dasar-dasar negara yang kemudian menjadi tonggak lahirnya Pancasila.

Selama 9 hari berturut-turut umat melakukan novena mohon pencurahan tujuh karunia Roh Kudus. Roh Kudus dalam tradisi Kristiani dipercaya membuat segala sesuatu menjadi baru. Pembaruan inilah yang dimohonkan kepada Bapa agar dikirimkan Roh Kudus untuk membarui muka bumi.

Bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah ”roh kudus” yang menerangi dan menjadi peta jalan dalam menghadapi beragam permasalahan bangsa.

Peristiwa Pentakosta 2020 dan lahirnya Pancasila ber tepatan dengan pandemi Covid-19. Pandemi ini berhasil menyulap tatanan sejarah manusia hanya dalam sekejap. Untuk mencegah penularan yang lebih masif, pemerintah mengeluarkan imbauan kepada semua warga agar belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan berdoa dari rumah.

Selain itu, warga harus mematuhi protokol kesehatan, yakni memakai masker jika keluar rumah, mencuci tangan dengan sabun rutin dan jaga jarak dengan orang lain. Dampak dari pandemi Covid-19 tidak terkira dahsyatnya.

Keharusan belajar di rumah memaksa sekolah ditutup sementara sampai pandemi berakhir. Keharusan beribadah di rumah mengharuskan warga untuk berdoa dari rumah masing-masing.

Peribadatan dilakukan mandiri, online atau streaming. Sebagian pekerja bisa bekerja dari rumah (work from home), tetapi tak sedikit yang terpaksa harus masuk kerja. Aktivitas ekonomi lesu, gelombang perumahkan atau bahkan PHK karyawan tak terelakkan.

Setelah lebih dari tiga bulan kita berada dalam kubangan pandemi, pemerintah mewacanakan penyiapan menuju era new normal atau normal baru agar roda ekonomi tetap berputar.

Keadaan normal baru adalah keadaan yang sama sekali baru, berbeda dengan fase sebelumnya. Merenungkan pandemi Covid-19, Pentakosta, Pancasila dan keadaan normal baru serasa ada hubungan yang terkait. Kini, alangkah baiknya kita kembali menengok ke belakang di dalam beragam peristiwa sejarah keselamatan.

Dari dahulu sampai sekarang bangsa-bangsa manusia di dunia diuji dengan beragam peristiwa namun tidak pernah punah.

Demikian juga bangsa Indonesia juga diuji dengan aneka pemberontakan dan gerakan yang merong-rong persatuan dan kesatuan bangsa ini. Pancasila hadir sebagai pemersatu bangsa. Begitu juga hadirnya virus Covid-19 ini harus diyakini upaya Allah Bapa untuk membarui dunia yang sudah kian usang karena ulah manusia.

Meminjam pernyataan Paus Fransiskus, boleh jadi virus Covid-19 merupakan reaksi alam atas perlakuan semena-mena manusia terhadap bumi. Alam bekerja dengan caranya sendiri untuk mencapai keseimbangan.

Ketika alam menghendaki perubahan, tidak ada kekuatan dunia manapun yang mampu menolak. Begitu pun dengan Roh Kudus. Ketika sekarang orang berbicara mengenai keadaan baru, terasa relevan kita mohon kepada Roh Kudus membantu kita mencapai pembaruan yang dikehendaki Allah Bapa.

Keadaan normal baru harus diciptakan. Kita harus berdamai dengan Covid-19 tetapi kita percaya ada kekuatan Roh Kudus yang akan membantu kita. Selama ini kita selalu berdoa dan mohon kepada Tuhan siap dibentuk menjadi baru. Namun kerap kali itu hanya ungkapan yang berhenti dalam doa. Roh Kudus dan pandemic Covid-19 mengajak kita semua untuk berubah.

Perubahan-perubahan itu nyata kita rasakan. Rasa cemas yang ditimbulkan Covid-19 memaksa kita untuk lebih rajin berdoa, membaca Kitab Suci dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika Roh Kudus dipercaya membawa penghiburan dan pembaruan, maka roh yang sama perlu kita mohon di tengah pandemi ini.

Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dapat dipandang sebagai “Roh Kudus” yang menerangi bangsa Indonesia dari kegelapan. Lantas, apa makna memperingati Pentakosta, Pancasila dengan situasi normal baru yang dicanangkan pemerintah?

Pada Kisah Para Rasul, kehadiran Roh Kudus membuat para murid berani keluar untuk mewartakan sabda Tuhan dengan penuh keberanian. Roh Kudus membuat mereka mampu berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan Pancasila, selama lebih dari 70 tahun Pancasila menjadi pegangan dan arah bagi bangsa ini untuk melangkah. Di era pandemi yang tengah membutuhkan era normal baru, kita membutuhkan Pancasila untuk menjadi pedoman, pada saat yang sama kita membutuhkan Roh Kudus untuk berani melangkah di zaman baru yang tercipta karena Covid-19. Betapapun era normal baru di depan mata.

Kita tidak boleh terus berkubang dalam ketakutan ini. Sekarang saat yang tepat untuk memasuki normal baru agar roda ekonomi dan aktivitas masyarakat kembali hidup. Tentu saja baik Pancasila maupun Roh Kudus membantu kita lebih berani menghadapi masa depan.

*) Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN