Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pentingnya Standardisasi Sistem E-money

Oleh Achmad Deni Daruri, Kamis, 10 November 2011 | 09:56 WIB

Bank sentral berencana membuat standardisasi system uang elektronik (electronic money/e-money) pada 2012 seiring semakin banyaknya perbankan yang mengeluarkan produk tersebut. Ini bukan suatu hal yang mudah, tapi harus dilakukan di tengah persaingan regional dan global yang semakin sengit

Standardisasi e-money tidak saja menyangkut sistem, tapi juga infrastruktur dan tata kelolanya (governance). Dengan adanya standardisasi maka akan banyak manfaat yang diperoleh, tidak hanya bagi pemegang kartu tersebut, dunia perbankan sebagai penerbit, tapi juga bagi perekonomian Indonesia.

Standardisasi juga diperlukan untuk mendukung perkembangan sistem emoney secara cepat dan berkelanjutan. Standardisasi yang baik akan membantu para pelaku sistem pembayaran untuk dapat bersama-sama memanfaatkan infrastruktur yang ada secara efisien.

Di samping itu, standardisasi akan membantu peningkatan keamanan, karena, dengan standar keamanan yang sama, maka hal itu akan dapat diterapkan untuk semua pelaku atau penerbit kartu. Hal ini tentu akan memudahkan regulator dan pengawas untuk mengontrol. Standardisasi dapat dilakukan pada level perangkat keras, sistem operasi, aplikasi, keamanan, protokol komunikasi, metode enkripsi, maupun jenis kartu.

Konteks Persaingan Global
Dalam konteks global, standardisasi juga harus memiliki kompatibilitas dengan sistem e-money negara lain agar tercipta sinergitas, bahkan demi perkembangan e-money di Indonesia sendiri di masa mendatang. Dalam era perdagangan bebas Asean plus Tiongkok sekarang ini, harus tercipta standar yang memungkinkan perbankan Indonesia tidak hanya mampu menguasai pasar di dalam negeri tetapi juga pasar di negara-negara dalam lingkungan Asean dan juga Tiongkok.

Jangan sampai harmonisasi standardisasi infrastruktur e-money di negaranegara Asean lainnnya tidak memiliki kompatibilitas dengan standar yang dikembangkan oleh Indonesia. Untuk itulah diperlukan lobi cerdas dan lihai untuk mencapai tujuan tersebut. Regulator e-money di Indonesia (Bank Indonesia) harus mengkaji secara mendalam – dengan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) — bagaimana pemanfaatan e-money pascaperdagangan bebas Asean plus Tiongkok.

Kekuatan Tiongkok sebagai pasar e-money yang besar tidak bisa dianggap remeh oleh siapa pun pelaku emoney di Asean. Karena itu, penelitian pasar e-money di Tiongkok harus dilakukan sejak dini agar cetak biru perencanaan e-money di Indonesia dapat juga memanfaatkan pasar Tiongkok yang besar tersebut. Namun, semuanya tergantung pada posisi industri e-money di Indonesia sendiri. Untuk pembayaran tarif jalan tol, misalnya, Indonesia telah memberlakukannya dengan menggunakan emoney terbitan Bank Mandiri, dengan nama e-toll. Jika melihat perkembangan jalan tol, Tiongkok adalah kampiunnya, dan Indonesia jauh tertinggal.

Bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya, perkembangan jalan tol di Indonesia relatif lamban. Jadi, dengan adanya pasar bebas Asean plus Tiongkok maka itu merupakan sebuah peluang usaha yang lebih besar bagi para pelaku bisnis e-money di Indonesia.

Apakah Indonesia akan menciptakan standardisasinya sendiri yang berbeda dengan standardisasi untuk negaranegara Asean atau Tiongkok, hal ini membutuhkan kajian yang serius. Tapi ini semua tentu tergantung pada orientasi bisnis e-money di Indonesia sendiri, apakah hanya ingin menguasai pasar domestik alias jago kandang ataukah juga ingin merambah pasar luar negeri?

Kalaupun orientasinya hanya untuk menguasai pasar di dalam negeri, pelaku pasar di Indonesia pun tetap harus berhati-hati dengan tren perdagangan bebas regional dan dunia. Jadi, bagaimanapun Indonesia tetap harus siap dengan standardisasi sistem e-money-nya. Dengan standardisasi bisnis e-money, pengaruhnya akan sangat besar, dan itu akan lebih membuka peluang bagi kemajuan industri itu sendiri.

Peran pemerintah dan otoritas perbankan sangat diperlukan untuk melindungi daya saing pelaku lokal, tak terkecuali dalam industri e-money ini. Penciptaan daya saing bukan hanya terfokus pada produk akhir, tapi juga pada setiap mata rantai produksi e-money tersebut.

Dengan demikian, standardisasi dalam bisnis e-money bukan sematamata berorientasi efisiensi dalam jangka pendek tapi juga efisiensi dalam jangka panjang. Dengan demikian proses inovasi pada industri ini tidak hanya diartikan sebagai terus berjalannya bisnis ini tapi juga harus semakin berdaya saing dalam era persaingan global yang semakin sengit.

Hal lain yang juga harus mendapat perhatian dalam standardisasi system e-money yakni aspek teknologi. Perkembangan teknologi arus menjadi dasar pertimbangan standardisasi untuk setiap unsur dari bisnis emoney ini. Jangan sampai standardisasi yang dihasilkan justru terbelenggu karena penggunaan teknologi yang sudah lapuk, out of date.

Standardisasi teknologi sangatlah penting karena hal itu akan sangat menentukan daya saing industri ini dimasa depan. Meski investasinya akan sangat besar, hal itu tetap harus dilakukan mengingat benefit yang diperoleh juga tidak sedikit dan pemanfaatannya akan lebih luas.

Perlu Kajian Mendalam

Dengan melihat berbagai unsur penting yang diperlukan dalam standardisasi sistem e-money, maka hal yang perlu dilakukan adalah kajian. Intinya, standardisasi tidak boleh dilakukan secara serampangan, tanpa kajian yang memadai. Karena itu, alangkah indahnya jika pelaku atau penerbit e-money juga melakukan kajian, tentu selain regulator sendiri.

Dengan semakin banyaknya kajian tentang standardisasi maka akan semakin menguntungkan bagi regulator untuk menerapkan strategi standardisasi yang paling optimal bagi industri e-money di Indonesia. Kesalahan dalam menentukan hal-hal penting dan besarnya standardisasi akan merugikan perekonomian. Dalam proses ini, pelaku atau penerbit e-money juga jangan segan-segan memberikan masukan kepada regulator tentang bentuk- bentuk standardisasi yang diperlukan berserta argumentasinya. Regulator ataupun pengawas, jelas, harus memiliki visi yang luas tentang pentingnya e-money di Tanah Air.

Penulis adalah Presiden Direktur Center for Banking Crisis

BAGIKAN