Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Yudhi Setyawan, Group Head Credit Risk
Analysts Bank BRI

Yudhi Setyawan, Group Head Credit Risk Analysts Bank BRI

Perekonomian dan Perilaku Mobilitas Masyarakat Saat Pandemi

Selasa, 15 September 2020 | 08:22 WIB
Yudhi Setyawan *)

Pandemi Covid-19 saat ini masih berlangsung dan semakin merugikan keberlanjutan perekonomian nasional. Pada kuartal I-2020 perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh 2,97%, namun demikian pada kuartal II-2020 sudah minus 5,32%. Jika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif berlangsung minimal dua kuartal, sudah dapat dipastikan Indonesia mengalami resesi, dan apabila resesi berkelanjutan akan terjadi depresiasi ekonom

Sementara itu, inflasi Indonesia pada bulan Agustus 2020 sebesar 1,32%, dan merupakan inflasi te rendah sejak bulan Mei 2020. Ini menunjukkan terjadi penurunan daya beli masyara kat, khususnya konsumsi rumah tangga.

Dalam rangka menyikapi kondisi perekonomian seperti ini, diperlukan strategi yang aplikatif dengan perilaku masyarakat saat pandemi. Dengan mempelajari mobilitas pen duduk di beberapa provinsi di Indonesia, diharapkan pemerintah bisa mengalokasikan program-programnya sesuai dengan kondisi new normal.

Berikut tabel mobilitas penduduk di 8 provinsi per tanggal 4 September 2020:

Tabel Mobilitas Penduduk
Tabel Mobilitas Penduduk

Dari tabel tersebut di atas dapat diketahui mobilitas masyarakat didominasi dengan mengalihkan aktivitas-aktivitasnya di sekitar tempat tinggal.

Selain itu, masyarakat juga cenderung pergi ke luar ru mah hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Penggunaan transportasi umum masih dihindari oleh masyarakat. Masyarakat lebih prefer bekerja dari rumah (work from home). Pada beberapa provinsi, seperti Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan sudah mulai bergerak ke tempat re kreasi namun itu masih sangat kecil.

Menghadapi perubahan perilaku mobilitas masyarakat tersebut maka strategi untuk meningkatkan perekonomian nasional adalah dengan fokus kepada activity centers masyarakat.

Tabel di atas dapat menjadi acuan penekanan strategi pertumbuhan ekonomi untuk tidak lagi dilakukan seperti halnya saat kondisi normal. Adapun langkahlangkah strategi yang dapat ditempuh misalnya: pemenuhan kebu tuhan pokok secara online, meng hadirkan layanan transaction banking di sekitar perumahan dan toko bahan makanan dan apotek, penguatan fundamental teknologi di bidang telekomunikasi, dll.

Kecenderungan masyarakat ti dak beranjak dari rumah menyebabkan kegiatan bisnis harus bermetamorfosis dari pertemuan fisik menjadi online. Supaya para pedagang dapat tetap eksis dan meningkatkan kembali omzetnya, maka para pelaku usaha harus segera beradaptasi. Kondisi ini membutuhkan sentuhan teknologi, misalnya menciptakan pasar-pasar online.

Tidak semua pelaku usaha itu mampu beradaptasi dengan cepat, misalnya pelaku usaha mikro. Mereka memerlukan kehadiran pemerintah untuk mempercepat proses adaptasi ini.

Pemerintah daerah bisa menjadi motor utama peralihan bisnis ini ke pada pasar-pasar tradisional mau pun modern, mengingat sumber pendapatan pemerintah da erah ju ga bersumber salah satu nya da ri retribusi pasar. Apabila pemerintah daerah tidak ingin penda pat annya terus tergerus maka harus segera mengambil beberapa langkah strategis. Ini dikarenakan masyarakat sudah enggan datang langsung ke pasar, akibatnya omzet pedagang terus menurun.

Para pelaku bisnis skala mikro sangat memerlukan support teknologi dan pendampingan dari pemerintah daerah supaya keberlanjutan ekonomi mikro dapat terus bergerak.

Kewajiban penerapan protokol kesehatan menyebabkan ma syarakat juga mengurangi frekuensinya untuk berkunjung ke bank, namun di satu sisi kegiatan transaksi di pasar membutuhkan uang sebagai penggerak utama terjadinya proses jual beli.

Hal tersebut dapat dijembatani oleh perbankan dengan menghadirkan layanan transaction banking baik menggunakan saluran mobile banking, internet banking, ataupun jasa keagenan.

Sebaran pedagang dengan konsumen perlu dihubungkan dengan layanan perbankan sehingga mereka dapat dengan mudah melakukan proses transaksi.

Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, kepemilikan smartphone di Indonesia pada tahun 2018 su dah men capai 100 juta orang. Artinya hampir separuh dari jumlah pen duduk Indonesia sudah dapat mengakses internet.

Hal tersebut memudahkan perbankan menghadirkan layanan cashless-nya melalui smartphone, namun tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Perbankan dapat melakukan sinkronisasi teknologi dengan pa sar-pasar yang tersebar menggunakan layanan pengelolaan kasnya, sekaligus membantu para pedagang mempromosikan barang dagangannya, dan hasil akhirnya dapat mempermudah para pedagang tersebut dalam memenuhi ke butuhan masyarakat.

Selain itu, perputaran uang di masyarakat selama pandemi Covid menjadi menurun. Hal ini dikarenakan masyarakat berusaha menjaga jarak (physical distancing) di tempat-tempat ramai, termasuk salah satunya adalah bank. Jasa keagenan bank dapat menjadi solusi agar pergerakan keuangan di masyarakat kembali lancar.

Jasa keagenan ini merupakan pe nyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lainnya me lalui kerja sama bank dengan mitra (nasabah) dengan penggunaan sarana teknologi melalui sistem sharing fee.

Jasa keagenan bisa dilakukan oleh pemilik toko atau warung di sekitar rumah yang sudah terseleksi oleh bank. Mereka selain bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan barang dagangannya juga mendapatkan fee ketika masyarakat ada yang bertransaksi melalui agen tersebut maupun pengambilan uang tunai. Ini sangat diperlukan oleh masyarakat yang enggan pergi jauh dari rumah untuk antre di ATM atau datang langsung ke bank.

Kondisi pandemi telah memaksa masyarakat untuk beraktivitas di rumah, termasuk salah satunya adalah melakukan kegiatan bisnis dan aktivitas perkantoran. Keadaan tersebut harus disikapi dengan berinvestasi teknologi informasi karena menjadi peluang bisnis yang menguntungkan.

Pemerintah maupun swasta harus dapat memanfaatkan kondisi ini dengan melakukan investasi infrastruktur baru di bidang teknologi informasi, misalnya dengan memaksimalkan penggunaan big data atau menciptakan smart city.

Apabila big data dapat terakses melalui smart city dengan baik, ma ka bukan mustahil pemerintah da pat dengan mudah memetakan potensi dan kondisi daerahnya, baik dalam rangka pemantauan penyebaran Covid maupun pemberdayaan ekonomi daerah.

Keterpurukan pertumbuhan eko nomi nasional dampak dari Co vid-19 ini menyebabkan adanya transformasi kebiasaan “baru” ma syarakat.

Apabila kita tidak segera menyikapi dengan strategi yang tepat, maka tidak mustahil Indonesia terseret masuk ke negara- negara resesi.

Kita jangan berputus- asa karena masih ada upaya di tengah pandemi ini, yaitu dengan menyelaraskan strategi kepada perubahan mobilitas masyarakat dalam rangka menumbuhkan kembali perekonomian nasional.

Pemaksaan kebijakan dan strategi ke sektor yang tidak tepat, tanpa memperhatikan perubahan mobilitas masyarakat, hanya akan menyianyiakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dan malah dapat mempercepat negara ini ke arah resesi.

*) Group Head Credit Risk Analysts Bank BRI

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN