Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ardhienus.

Ardhienus.

Perlambatan Kredit Konsumsi

Ardhienus, Selasa, 13 Agustus 2019 | 11:24 WIB

Setelah sempat menanjak sejak 2018 hingga awal 2019, pertumbuhan kredit kepada pihak ketiga kembali mulai menunjukkan gejala melambat. Setidaknya hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit year on year pada Maret 2019 yang menjadi 11,54%, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh 13,41%. Lalu, perlambatan tersebut berlanjut pada dua bulan berikutnya menjadi 11,06% (April 2019) dan 11,05% (Mei 2019).

Bila ditelusuri lebih jauh, perlambatan pertumbuhan kredit tersebut bersumber dari kredit modal kerja dan konsumsi. Sebagai gambaran, berdasarkan Laporan Bank Umum Mei 2019, kredit modal kerja tumbuh 10,22%, lebih rendah ketimbang Desember 2018 yang tumbuh 13,03%.

Sedangkan kredit konsumsi tumbuh menukik lebih dalam menjadi single digit yakni 8,35%, lebih rendah ketimbang akhir 2018 yang tumbuh 10,35%. Bahkan, perlambatan kredit konsumsi sejatinya mulai terjadi sejak Oktober 2018, yang kala itu tumbuh 11,53%. Kondisi sebaliknya terjadi pada kredit investasi yang tumbuh cukup menyakinkan yang mencapai 15,70%, meningkat signifikan ketimbang tahun lalu yang tumbuh 10,94%.

Pertumbuhan kredit modal kerja yang melambat tersebut barangkali bisa dimaklumi sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik yang belum begitu bergairah (kecuali aktivitas ekonomi yang terkait dengan proyek-proyek infrastruktur). Namun, rasanya tidak demikian dengan kredit konsumsi. Pasalnya, kredit konsumsi seringkali menjadi tumpuan bank domestik untuk mendongkrak fungsi intermediasi, terutama pada masa aktivitas ekonomi yang masih lesu.

Di tahun ini, sebenarnya banyak bank membidik pertumbuhan kredit konsumsi mencapai dua digit. Beberapa survei juga menginformasikan hal yang sama. Oleh karena itu, pertumbuhan kredit konsumsi yang dalam tren melambat tentu menimbulkan pertanyaan. Bagaimana tidak, perlambatan kredit konsumsi terjadi justru di tengah suku bunga konsumsi yang sebenarnya cenderung menurun meski relatif lambat. Data dari Statistik Sistem Keuangan Indonesia Bank Indonesia (BI) menunjukkan hal itu. Ada fenomena penurunan suku bunga rata-rata tertimbang kredit konsumsi yang mulai terjadi sejak 2015 dari 13,88% menjadi 11,62% pada April 2019, padahal sejak Mei 2018 hingga Juni 2019, suku bunga kebijakan BI telah meningkat 175 bps dari 4,25% menjadi 6%.

Tidak hanya itu. kualitas kredit konsumsi juga masih berada pada level yang aman. Per Mei 2019, rasio kredit bermasalah (NPL) kredit konsumsi sebesar 1,74%, lebih rendah dibandingkan NPL kredit modal kerja (3,23%) dan kredit investasi (2,44%). Biasanya bank akan menginjak pedal rem penyaluran kredit tatkala menghadapi NPL yang tinggi.

Bila kita masuk lebih dalam dengan menguraikan beragam jenis kredit konsumsi, maka ditemukan fakta bahwa ternyata faktor pendorong kredit konsumsi tumbuh melambat berasal dari kredit multiguna. Pada Mei tahun lalu, kredit multiguna masih tumbuh 14,70%, namun pada Mei 2019 melambat menjadi 9,02%. Dan karena porsi kredit multiguna terhadap total kredit konsumsi relatif tinggi yakni 41%, maka perlambatan pertumbuhan kredit multiguna telah mengerek ke bawah pertumbuhan kredit konsumsi secara keseluruhan.

Sementara itu, kredit konsumsi jenis lainnya seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih terus tumbuh mencapai 12,96% (Mei 2019) dengan porsi KPR terhadap total kredit konsumsi mencapai 30,93%.

Masih meningkatnya pertumbuhan kredit KPR tersebut tidak lepas dari relaksasi ketentuan makroprudensial berupa pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) yang diintroduksi BI sebanyak tiga kali yakni pada Juni 2015, Agustus 2016 dan Agustus 2018.

Lantas mengapa kredit multiguna tumbuh melambat? Ada beberapa hal yang ditengarai menjadi penyebabnya. Pertama, ada kecenderungan sektor rumah tangga mengurangi utangnya. Hal ini tergambar dari hasil Survei Konsumen Juni 2019 keluaran BI yang memperlihatkan rasio cicilan utang terhadap pendapatan (debt to income ratio) yang semakin menurun, dari 15% pada Januari 2018 menjadi 11,2% pada Juni 2019. Survei itu juga menginformasikan bahwa responden Rumah Tangga memperkirakan dalam 6 bulan ke depan jumlah pengurangan utang akan meningkat. Perilaku sector rumah tangga tersebut ternyata dialami pula oleh sektor korporasi.

Menurut kajian Bank Indonesia, sektor korporasi cenderung menggunakan dana internal untuk melakukan ekspansi usaha. Kedua, ada gempuran sengit dari financial technology (fintech) yang memberikan layanan pinjaman digital dalam platform peer to peer (P2P) lending. Bisnis fintech ini sepertinya telah menggerus program kredit multiguna atau kredit tanpa agunan (KTA)-nya perbankan.

Berdasarkan Statistik Fintech yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan, terlihat pertumbuhan kredit oleh P2P lending sangat eksesif. Per Mei 2019 P2P telah menggelontorkan kredit sebesar Rp 41,04 triliun atau tumbuh 566,20% dari Rp 6,16 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Dilansir, kredit P2P untuk konsumsi mencapai separuhnya, yakni Rp 20,52 triliun.

Tingginya kredit konsumsi dari P2P tersebut menunjukkan bahwa keberadaan P2P tidak hanya berhasil menggaet nasabah yang non bankable, namun tampaknya justru mampu menarik nasabah yang bankable. Hal ini tidak lepas dari keunggulan kredit online baik dari sisi kepraktisan, kecepatan dan kemudahan, sehingga membuat nasabah yang bankable beralih ke P2P, terlebih nasabah dari generasi milenial yang baru mengenal perbankan.

Prospek ke Depan

Kendati melambat, ada peluang kredit konsumsi, terutama kredit multiguna perbankan akan rebound. Hal ini tidak lepas dari adanya beberapa faktor. Pertama, adanya keputusan penurunan GWM Primer sebesar 50 bps pada bulan lalu dan suku bunga kebijakan BI sebesar 25 bps pada 18 Juli 2019. Imbasnya, biaya dana menurun dan likuiditas bertambah, sehingga akan mendorong penurunan suku bunga lebih dalam dan ruang penambahan kredit pun semakin terbuka.

Kedua, sudah barang tentu bank tidak akan tinggal diam dengan agresivitas P2P lending dalam menyalurkan kredit konsumsi. Maka itu, beberapa bank mulai menginisiasi produk kredit multiguna secara online, mirip yang dilakukan P2P. Harapannya mereka dapat merebut kembali nasabah yang sempat beralih ke P2P, atau bahkan menggaet nasabah baru dari kalangan milenial.

Terakhir, kondisi perpolitikan dan keamanan pasva pemilu yang terlihat semakin membaik. Kondisi ini akan meningkatkan optimisme dan confidence di kalangan masyarakat. Peluang kredit untuk kembali tumbuh positif setidaknya terkonfirmasi dari hasil survei terkini BI yang menunjukkan pertumbuhan kredit baru mulai meningkat pada triwulan III-2019.

Ardhienus, Asisten Direktur di Departemen Surveilans Sistem Keuangan, Bank Indonesia. Tulisan adalah pendapat pribadi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA