Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan
globalisasi.

Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

Pertanian dan Sindrom CLBK

Jumat, 12 Maret 2021 | 09:33 WIB
Khudori *)

Ketangguhan sektor pertanian tatkala menghadapi pandemi Covid-19 menuai pujian dari banyak kalangan. Seperti banyak diduga, sektor pertanian akan menjadi salah satu penyelamat ekonomi Indonesia kala pandemi.

Saat ekonomi terkontraksi 2,07% pada 2020, sektor pertanian tumbuh positif 1,75%, bahkan pada kuartal IV-2020 tumbuh 2,59%.

Sepanjang 2020 pertanian tumbuh positif bersama enam sektor lain: jasa kesehatan dan kegiatan sosial (11,60%), informasi dan komunikasi (10,58%), pengadaan air (4,94%), jasa keuang an dan asuransi (3,25%), jasa pendidikan (2,63%), dan realestat (2,32%).

Pertumbuhan pertanian 2020 memang lebih rendah dari 2019 (3,61%). Tetapi, seperti tercatat dalam sejarah krisis, sektor pertanian sekali lagi terbukti menjadi bantalan (cushion) ekonomi, bahkan menjadi alternatif sumber mata pencaharian masyarakat, tatkala terjadi resesi atau ketika sumber-sumber pendapatan lunglai disergap pandemi. Ini tak terlepas dari aspek resiliensi pertanian yang salah satunya lebih mudah beradaptasi ketika pandemi Covid. Salah duanya, krisis atau tidak, orang tetap perlu akses makan.

Pangan adalah kebutuhan hakiki atau primer yang dibutuhkan manusia, pada saat normal mau pun kala pandemi. Asupan ma kan yang bergizi dan sehat kini menjadi piranti yang niscaya agar tubuh memiliki pertahanan prima untuk melawan virus SARS-Cov2, penyebab Covid-19.

Saat situasi normal, mengikuti piramida Abraham Maslow, manusia mengejar puncak piramida: aktualisasi diri dan esteem. Kini, tatkala pandemi, manusia menggeser kebutuhan ke dasar piramida: makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga.

Saat resesi 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13,68%, jumlah warga miskin melonjak jadi 49,50 juta orang atau meningkat 15,49 juta jika dibandingkan 1996. Untuk kembali pada jumlah penduduk miskin sebelum krisis perlu waktu lima tahun. Resesi 1997-1998 dipicu oleh krisis perbankan, yang kemudian menyeret perekonomian ke tebir jurang.

Sektor pertanian, juga UMKM, relatif tidak terdampak. Bahkan, dengan mata uang rupiah yang melemah, pertanian menikmati durian runtuh berupa harga-harga pangan yang tinggi di pasar dunia. UMKM menjadi bantalan mereka yang terpental dari sektor keuangan. Pendek kata, pertanian dan UMKM jadi penyelamat perekonomian. Kali ini situasinya berbeda.

Krisis kesehatan akibat Covid-19 membuat interaksi manusia dihen tikan, setidaknya berlangsung minimal.

Sementara, gerak UMKM dan juga pertanian berjalan karena interaksi manusia. UMKM, pertanian, dan hampir semua sektor ekonomi terpukul tatkala perkantoran, pabrik, industri, resto, warung, dan aneka ak ti vitas lainnya berhenti (dihentikan). Pengalihan aktivitas fisik ke dalam jaringan (online) tidak banyak menolong.

Karena pada saat yang sama, sebagian besar warga, terutama pekerja sektor informal, bahkan formal, daya belinya terpukul karena pen dapatannya merosot. Namun demikian, moncernya pertanian tatkala pandemi kali ini, untuk kesekian kalinya, membuktikan pertanian memiliki ketangguhan luar biasa.

Bagi banyak orang, sektor pertanian terbukti sebagai penolong akhir (the last resort) buat bertahan hidup. Ini menimpa pelancong dari desa yang kehidupannya di kota semakin memburuk, bahkan tidak lagi menjanjikan hidup. Apakah karena menjadi korban PHK di sektor formal atau usaha informal yang mereka tekuni dengan ke terampilan ala kadarnya gulung tikar.

Betapa pertanian jadi labuhan terakhir bisa dilihat dari tambahan tenaga kerja baru sepanjang 2020 yang mencapai 4,42 juta orang. Menurut data BPS, tenaga kerja pertanian meningkat dari 36,71 juta orang (Agustus 2019) menjadi 41,13 juta orang (Agustus 2020).

Ini indikasi terjadinya migrasi orang-orang kota dengan keteram pilan terbatas yang semula bergelut di sektor informal di kota lalu kembali ke desa saat pandemi. Peningkatan ini jadi beban berat bagi sektor pertanian karena pro duktivitas tenaga kerjanya cukup rendah. Kue yang kecil akan semakin kecil karena harus dibagi (lagi) dengan lebih banyak orang.

Sebenarnya, resiliensi pertanian tatkala krisis, resesi atau pandemi sudah teruji dalam sejarang panjang negeri ini. Mulai krisis 1997- 1998, 2008, 2011, dan 2020.

Di luar itu, peran penting pertanian dalam perekonomian juga sudah banyak dicatat dalam riset. Riset terbaru LPEM Universitas Indonesia (2021) menunjukkan, setiap 1% per tumbuhan sektor pertanian secara tidak langsung berdampak pada pertumbuhan 1,36% industri. Ini karena sektor pertanian menjadi pemasok penting bahan baku bagi sektor industri.

Sebagai negara dengan kekayaan sumberdaya alam yang besar, jauh-jauh hari para ahli mengingat kan agar menjadikan sektor pertanian sebagai andalan perekonomian.

Caranya, meracik strategi industri yang menyeimbangkan dan menyinergikan sektor industri dengan sektor pertanian, industri sarat sumberdaya dengan non-sumberdaya, industri padat tenaga kerja dengan industri padat teknologi, industri di Jawa dan luar Jawa, dan industri besar dan industri UKM (Simatupang dkk, 2000, Prabowo dkk 2004).

Sayangnya, saran dan kenyataan peran penting pertanian itu dianggap angin lalu. Sampai sekarang industri yang berkembang adalah industri yang bertumpu pada ba han baku impor. Industri demikian, salah satunya, akan sulit untuk bersaing.

Berpijak dari kon disi itu, hampir bisa dipastikan setelah Covid-19 atau ekonomi normal peran besar pertanian se bagai bantalan ekonomi akan segera dilupakan orang. Yang terjadi kemudian adalah sindrom “cinta lama bersemi kembali” (CLBK). Mereka yang mencari selamat di sektor pertanian saat pandemi akan kembali ke sektor yang ditekuni tatkala normal. Mudah diduga, sektor perta nian tetap seperti wajahnya dulu: gu rem, miskin, dan menua.

Dari tahun ke tahun, wajah gurem bu kan berkurang, tapi terus bertambah. Data terakhir (BPS, 2018) menunjukkan, jumlah petani gurem mencapai 58%. Dari dulu, kemiskinan belum beranjak jauh dari per tanian-perdesaan. Per September 2020, warga miskin di perdesaan mencapai 56,29%.

Selain berpendidikan rendah (sekitar 66,4% tak sekolah/tak lulus SD dan lulusan SD), sekitar 33,28% petani berusia lebih 55tahun atau di ujung produktif.

Sepanjang wajah ini belum berubah, sulit mendorong tenaga kerja terdidik untuk menekuni pertanian. Sektor ini hanya akan di-PHP (diberi harapan palsu).

*) Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN