Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Pertumbuhan Ekonomi, Harapan, dan Keniscayaan

Minggu, 31 Oktober 2021 | 06:17 WIB
Fauzi Aziz *)

Data-data kuartal II-2021 membawa harapan baru bahwa Indonesia berhasil keluar dari jebakan krisis. Pada periode ini ekonomi tumbuh 7,07% year on year, dan total nilai PDB Rp 4.175,8 triliun. Kala pandemi Covid-19 dan saat pemerintah tengah melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), ekonomi masih bisa tumbuh tinggi.

Yang menarik cenderung berlangsung merata di semua provinsi (tidak ada lagi yang mengalami kontraksi). Dari sisi pengeluaran pun ada hal yang luar biasa, semua sektor pembentuknya tumbuh positif, yakni konsumsi rumah tangga 5,93%, konsumsi LNPRT 4,12%, konsumsi pemerintah 8,06%, PMTB 7,54%, ekspor 31,78%, dan impor 31,22 %.

Pertumbuhan di enam koridor ekonomi juga spektakuler, yakni Sumatera tumbuh 5,27%, Kalimantan 6,28%, Sulawesi 8,51%, Maluku dan Papua 8,75%, Jawa 7,88%, Bali dan Nusa Tenggara 3,70%.

Menarik bahwa sepertinya ada “keajaiban”. Hukum pasar, meskipun bumi digoyang pandemic Covid-19, masih mampu bekerja baik. Pertumbuhan di sisi pengeluaran menjadi berkah bagi pertumbuhan di sisi penawaran. Hal ini menimbulkan sentimen positif bahwa berbagai bidang lapangan usaha tidak lagi terkontraksi.

Fenomena ini membuat penulis tergoda oleh ideologi Alan Greenspan (mantan gubernur the Fed, AS) yang mengatakan bahwa pasar paling tahu apa yang terbaik, dan pemerintah akan melakukan tugasnya dengan baik apabila selalu memberikan jalan. Boleh jadi karena pengaruh ideologi Alan Greenspan tersebut, Indonesia atau sejumlah negara di dunia sudah bisa keluar dari jebakan krisis selama pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini hampir dua tahun.

Artinya, walaupun ada PPKM, ekonomi pasar masih mampu berkelit “melawan” berbagai tindakan pembatasan. Kata orang bijak, “kan yang di ba tasi pergerakannya, hanya orang, barang dan jasa tetap da pat bergerak bebas ke mana saja sesuai hukum pasar”.

Sistem logistik dan angkutan barang via darat/laut/udara tetap bekerja sesuai hukum pasar, sehingga pergerakan inflasi relatif terjaga. Kalau inflasi tinggi, berarti pergerakan barang dan jasa pasti mengalami gangguan.

Data dan informasi itu bersifat makro. Kondisi riil di lapangan, secara mikro (at company level), tidak ada salahnya jika digali lebih dalam. Ini penting karena di lapangan selama pandemi hampir semua sektor ekonomi mengalami gangguan aktivitas ekonomi sehingga muncul kesulitan cash flow, kapasitas produksi barang tidak optimal karena mengalami tekanan berat untuk tumbuh, serta faktor lain yang berpengaruh.

Sebagai contoh, posisi Juni 2021, utilisasi industri pengolahan non migas rata-rata 63%. Utilisasi paling tinggi adalah industri pakaian jadi (94,6%), disusul kulit, dan barang dari kulit, alas kaki (82,2%), logam dasar (77,5%), bahan kimia, barang dari bahan kimia (72%), dan industri farmasi, obat kimia dan obat tradisional (60%) (sumber data IOMKI). Efek pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 tampaknya belum memberi pengaruh terhadap optimalisasi kapasitas produksi, tapi paling tidak telah memberi ruang pemulihan. Di ruang public juga masih ramai muncul isu PHK. Pasar, mal, rumah makan,hotel masih sepi pengunjung karena pembatasan mobilitas orang.

Selain data makro, sebaiknya perkembangan data mikro juga ditelusuri, sehingga kita bisa tahu apakah efek pertumbuhan spektakuler tersebut menimbulkan dampak positif terhadap pertumbuhan portofolio bisnis. Penggerak ekonomi adalah dunia usaha (swasta, BUMN/BUMD, koperasi dan UKM). Produksi barang dan jasa yang secara makro direkam sebagai PDB adalah output mereka pada periode tertentu.

Kita tidak perlu terjebak pada perdebatan tentang angka pertumbuhan 7,07%. Bagaimana untuk kuartal III dan IV, tergantung sikon dan bagaimana segenap pemangku kepentingan kebijakan dan pemangku kepentingan bisnis bekerja.

Kita bekerja setiap tahun dipandu RKP (pemerintah) dan RKAP (perusahaan). Sasaran dan targetnya sudah ditetapkan. Kita kejar sisa waktu yang ada, yaitu kuartal III dan IV, agar target per tumbuhan ekonomi tahun 202I dapat tercapai, yakni pada kisaran 3,7% - 4,5% (angka yang telah dikoreksi).

Kita syukuri capaian yang telah diraih dengan susah payah. Kita kejar bersama capaian hingga akhir tahun 2021. Kurva “W” ada di depan kita. Tugas kita bersama adalah merawat harapan dan kohesivitas. Bersama, kita bisa.

*) Pemerhati ekonomi dan industri

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN