Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Pertumbuhan Ekonomi Melalui Perumahan

Achmad Deni Daruri *), Senin, 29 Juni 2020 | 07:09 WIB

Sektor perumahan memainkan peran yang sangat strategis dalam menetralisir dampak negatif Covid-19. Covid-19 menciptakan krisis ekonomi karena aktivitas ekonomi dipaksa untuk berhenti. Namun demikian muncul aktivitas ekonomi yang tidak bisa dihentikan oleh Covid-19, seperti aktivitas bekerja dari rumah.

Oleh karena itu, perlu dibangun rumah-rumah baru agar masyarakat bukan saja mampu memiliki rumah tetapi juga dapat bekerja dari rumah. Sisi penawaran perumahan harus diefektifkan dan diefisienkan secaraoptimal.

Caranya adalah dengan meningkatkan skala ekonomis dan skala skop dari bank-bank yang mampu menyalurkan dana bagi sektor perumahan nasional. Tidak semua bank dapat masuk dalam kategori ini. Satu-satunya bank yang masuk dalam definisi ini adalah bank BTN. BTN merupakan satu-satunya bank yang memiliki skala ekonomi dan skop dalam memberikan pembiayaan sektor perumahan karena memang sangat fokus kepada pembiayaan sektor perumahan.

Dalam konteks economies of scope memang tidak terlalu dominan, namun bankbank lainnya juga tidak ada yang memilikinya. Lantas apa konsekuensinya?

Bank BTN harus diberikan porsi kemampuan dalam menyalurkan kredit perumahan yang lebih besar lagi sehingga skala ekonominya menjadi semakin efisien, yang pada gilirannya membuat biaya per unit rumah yang dibangun menjadi semakin murah.

Jika, misalnya dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (LFPP) difokuskan hanya kepada bank BTN, maka efisiensi per unit rumah yang dibangun juga akan semakin murah ketimbang fasilitas ini juga diberikan kepada bankbank lainnya. Bank BTN memiliki keahlian dalam menyalurkan dana pembangunan rumah dibandingkan bank-bank lainnya.

Berdasarkan penelitian yang pernah penulis lakukan, dampak netto peningkatan nilai tambah sektor perumahan sebesar 1% akan meningkatkan nilai tambah produk domestik bruto (PDB) secara kumulatif sebesar 9,53% pada akhir tahun kelima.

Dengan demikian, sektor perumahan adalah sektor yang sangat strategis untuk membuat perekonomian Indonesia pulih dalam bentuk huruf V.

Dampak peningkatan nilai tambah pada sektor perumahan terhadap sektor pertanian, industri, listrik dan gas kota juga positif hingga lima tahun ke depan. Sehingga program pembangunan perumahan sangat cocok untuk membantu petani yang terpukul oleh krisis Covid-19, seperti petani tanaman pangan.

Selain itu, dampak peningkatan nilai tambah pada sektor perumahan terhadap sektor komunikasi, perbankan, dan sektor keuangan non bank juga positif hingga lima tahun ke depan.

Dengan demikian sangat sulit dicari sektor yang sangat strategis seperti sektor perumahan. Apalagi dampak peningkatan nilai tambah pada sektor perumahan terhadap pengeluaran konsumsi juga positif hingga lima tahun ke depan.

Sektor konsumsi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga jika sektor konsumsi kembali cepat pulih maka perekonomian Indonesia juga dengan sendirinya akan cepat pulih.

Bagi pemerintah, target program pembangunan satu juta rumah juga dipastikan akan berjalan dengan baik karena BTN memang bank yang memiliki spesialisasi dalam pembangunan perumahan.

Untuk mencapai target itu, selain memberikan seluruh fasilitas LFPP kepada BTN, pemerintah juga dapat memberikan insentif kepada variabel penentu “nilai tambah perumahan” yang juga merupakan upaya paling efektif untuk meningkatkan nilai tambah sektor perumahan hingga lima tahun ke depan. Yaitu dengan meningkatkan pengeluaran untuk sektor jasa yang terkait dengan keuangan, lembaga keuangan non perbankan, dan jasajasa bisnis.

Seperti kata pepatah, sekali dayung maka tiga pulau terlewati karena krisis Covid-19 merupakan momentum untuk berbenah ke arah yang lebih baik. *) Direktur Utama Centre for

Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN