Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Perumahan Rakyat yang Berkelanjutan

Minggu, 25 Agustus 2019 | 01:06 WIB
Nirwono Joga

Meski sudah merdeka 74 tahun, masih banyak masyarakat yang belum memiliki hunian layak. Untuk itulah peringatan Hari Perumahan Nasional pada 25 Agustus sebagai momentum untuk bertekad mewujudkan hunian yang layak huni dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Urusan perumahan rakyat bukan sekadar soal rumah (house), melainkan hunian (home). Jika hunian menjadi dasar, ukurannya adalah kenyamanan, keterjangkauan, kesehatan penghuni, dan terjadi peningkatan kesejahteraan.

Pembangunan perumahan rakyat juga harus berkelanjutan, cerdas melayani masyarakat dalam kehidupan dan penghidupannya, serta mendukung fungsi kota sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi wilayah.

Pembangunan perumahan rakyat dapat menjadi peluang sebagai mesin pertumbuhan yang mengurangi kesenjangan sosial dan mendorong tanggung jawab sosial, mempromosikan keberlanjutan lingkungan hidup, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan perumahan rakyat dikembangkan untuk mencapai kehidupan permukiman layak huni, membangun pusat pertumbuhan ekonomi dan layanan mobilitas, melestarikan lingkungan hidup, serta didukung tata kelola dan komunitas masyarakat.

Pembangunan per umahan rakyat harus berbasiskan pada wilayah pengembangan kawasan strategis, saling terhubung dan saling mendukung dalam hal membangun ketahananan pangan lokal, mengatasi banjir dan mengurai kemacetan lalu-lintas, menyediakan rumah layak huni dan terjangkau, serta membuka lapangan kerja dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan perumahan rakyat harus sesuai kapasitas daya dukung lingkungan. Semua tahu dan patuh terhadap perencanaan dan perancangan perumahan dan kawasan permukiman ramah lingkungan. Perumahan dan kawasan permukiman dikembangkan menjadi kawasan percontohan yang menerapkan prinsip hijau secara utuh (kompak, terpadu) dan cerdas (sesuai kearifan lokal, potensi daerah).

Pembangunan perumahan rakyat dan kawasan permukiman harus selaras dengan rencana tata ruang dan wilayah, rencana detail tata ruang dan peraturan zonasi, serta rencana tata bangunan dan lingkungan. Perumahan rakyat dan kawasan permukiman menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) minimal sebesar 30% dari luas kawasan, di mana RTH publik 20% dan RTH privat 10%. Taman dan jalur hijau dengan pepohonan besar membentuk jaringan infrastruktur hijau. Pembangunan perumahan rakyat harus mempertahankan dan melindungi lahan pertanian (sawah), sekaligus mengembangkan kebun pertanian kota dengan menanam sayuran dan buah-buahan, serta menanam pohon produktif di halaman rumah, kantor, taman, jalur hijau.

Penghuni dibiasakan berjalan kaki atau bersepeda ke tempat sekolah, pasar, kantor. Tersedia trotoar ramah untuk anak-anak, wanita hamil, disabilitas, dan lansia. Ada infrasruktur sepeda berupa jalur, marka, rambu, parkir, bengkel, ruang ganti, tempat sewa. Perumahan rakyat harus terhubung/ didukung dengan jaringan transportasi massal.

Penghui diajak memilih dan memilah sampah mulai dari rumah. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sampah anorganik diolah melalui 3R+ (reduce, reuse, recycle, repair). Perbanyak bank sampah dan komposter di tingkat RT/RW diiringi dengan kegiatan kreatif seperti bazaar sampah, tukar sampah dengan sembako, jual beli barang daur ulang, atau cek kesehatan (asuransi sampah).

Sampah mesti terolah semua, sesedikit mungkin sampah yang tersisa/tidak bisa diolah/harus dibuang ke tempat pengolahan sampah terpadu. Lingkungan perumahan pun akan terlihat bersih. Perumahan dan kawasan permukiman menerapkan sistem ekodrainase. Perumahan dilengkapi sumur resapan di halaman rumah, sekolah, persimpangan jalan (gang), dan taman. Kolam penampung (tandon) di bawah area parkir, serta memasang jaringan air minum dan mengurangi penggunaan pompa air. Penghuni mudah dan murah mengakses air bersih, ada jaminan ketersediaan air bersih terutama di musim kemarau.

Bangunan perumahan rakyat tetap harus menerapkan persyaratan bangunan hijau. Hemat bijak lahan. Instalasi hemat air, tercukupi, dan tidak ada yang terbuang. Hemat listrik dan terpenuhi kebutuhan. Sirkulasi udara segar,

mengalir lancar, dan pencahayaan memadai. Penggunaan material lokal atau daur-ulang dan berarsitektur lokal.

Perumahan rakyat dan kawasan permukiman memanfaatkan energi terbarukan sesuai potensi local seperti energi mikrohidro, biogas, surya, atau bayu. Penghuni beralih bertahap ke energi terbarukan, sehingga tagihan listrik turun, pasokan aman, dan terpenuhi kebutuhan energi dasar. Perumahan juga perlu didukung jaringan infrastruktur listrik dan internet kuat, serta perangkat teknologi memadai.

Pembangunan perumahan rakyat harus mampu menumbuhkan ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatkan pendapatan asli daerah secara berkelanjutan. Pembangunan perumahan rakyat menggunakan produk lokal, produk hijau, konstruksi ramah lingkungan, serta perawatan dan pemeliharan perumahan secara berkelanjutan.

Yang tak kalah penting, pembangunan perumahan rakyat yang berkelanjutan harus didukung peraturan daerah dan sistem penganggaran daerah yang pro lingkungan, serta memberikan teladan kepada masyarakat dalam menerapkan prinsip hidup hijau cerdas.

Sehingga perumahan rakyat yang berkelanjutan bisa diharapkan sebagai penggerak roda perekonomian, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan melestarikan lingkungan hidup. Membangun perumahan rakyat yang berkelanjutan merupakan keharusan, bukan pilihan.

Nirwono Joga, Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN