Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Potret Buram Penerbangan Perintis

Oleh Arif Minardi, Kamis, 8 Oktober 2015 | 11:49 WIB

Sektor penerbangan kembali berduka dengan jatunya pesawat Twin Otter milik Aviastar di Latimojong, Luwu, beberapa waktu lalu. Sebelumnya, kecelakaan menimpa ATR42-300 milik Trigana Air di Oksibil, Papua.


Rentetan kecelakaan ini menunjukkan angkutan udara perintis berada dalam kondisi yang rawan. Faktor cuaca dan kondisi alam yang ekstrem memang harus dihadapi oleh para operator penerbangan perintis yang rata-rata memiliki pesawat berbadan kecil dan berusia tua. Namun, kerawanan penerbangan perintis semakin bertambah akibat infrastruktur bandara yang ada dipelosok Nantara masih kurang memadai.


Begitu juga dengan kondisi teknis pesawat yang perawatannya terpaksa dengan prosedur minimalis akibat kurangnya sumber daya manusia (SDM) penerbangan dan peralatan pendukung. SDM yang terlibat dalam angkutan udara perintis seperti penerbang, mekanik penerbang, personel pemandu lalu lintas udara dan teknisi ground supporting di bandara sangat tidak memadai, baik dari sisi jumlah maupun dari sisi penguasaan teknis.


Infrastruktur dan peralatan di bandara yang melayani penerbangan perintis juga banyak yang tidak sesuai dengan perkembangan tenologi terbaru. Tidak heran jika masalah teknis pengoperasian pesawat sering terjadi dalam penerbangan perintis.


Persoalan menjadi bertambah rumit karena operator penerbang perintis tidak menyediakan pesawat cadangan untuk menggantikan pesawat yang tengah mengalami gangguan teknis.


Langkahl-Langkah Pembenahan

Masyarakat berharap pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah penting dalam menghadapi kecelakaan pesawat terbang yang akhir-akhir ini terjadi beruntun. Selama ini, pemerintah selalu berkilah menunggu hasil penyelidikan pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Publik sudah bisa menebak hasil penyelidikan yang memakan waktu lama itu hasilnya akan mengambang. Seperti kasus yang sebelumnya, KNKT menjadikan human error dan faktor alam sebagai kambing hitam. Akibatnya, penyebab mendasar berbagai kecelakaan transportasi di negeri ini tetap menjadi teka-teki.


Agar tidak menjadi preseden buruk di masa depan, pemerintah/ otoritas harus berani mengaudit secara tuntas terkait dengan kondisi berbagai jenis pesawat terbang perintis dan bandara yang digunakan. Ini terutama kondisi pesawat untuk penerbangan perintis yang selama ini banyak didapat dari pesawat bekas dan sewa dari pihak yang kurang kredibel.


Faktor keselamatan memang harus merupakan faktor utama dalam mengoperasikan pesawat terbang jenis apa pun. Faktor keselamatan itu bahkan sudah diperhitungkan sejak fase desain jenis pesawat terbang sesuai dengan Civil Aviation Safety Regulation (CASR) yang merupakan pedoman wajib bagi proses desain, fabrikasi, dan pengoperasian pesawat terbang.


Angkutan udara perintis selama ini banyak didukung oleh jenis pesawat nonjet atau turboprop seperti Twin Otter, ATR dan sebagainya. Banyak di antara pesawat tersebut yang berumur tua dan masih dioperasikan tanpa perawatan yang memadai.


Pesawat Twin Otter yang jatuh di Luwu selama ini tergolong pesawat yang andal mengarungi medan pedalaman. Pesawat ini termasuk dalam jenis STOL (short take-off landing) aircraft. Jenis pesawat tersebut sangat berjasa dan populer di kalangan masyarakat daerah terpencil. Masyarakat yang tinggal di wilayah seperti di Papua, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara Timur, atau Kepulauan Sangir Talaud tentu tidak akan pernah lupa akan jasa pesawat udara kecil berdaya angkut 18-20 penumpang itu.


Pesawat ini lincah dan tangguh melayani operasi di area dataran rendah berawa-rawa atau pun area pegunungan dengan kondisi cuaca yang beragam dan terkadang ekstrim. Pesawat mampu mendarat dan lepas landas pada kondisi landas pacu yang sederhana. Seperti lapangan rumput dengan panjang 600 meter bisa dijadikan lapangan pendaratan.


Meski ketangguhan sudah sangat teruji, faktor peralatan yang tersedia di bandara juga harus mendapat perhatian. Sejujurnya, banyak peralatan yang tersedia di bandara penerbangan perintis seperti radar cuaca dan pemancar radio cuaca juga sudah kurang memadai lagi.


Pada prinsipnya perihal cuaca dalam dunia penerbangan terbagi atas dua kondisi, yakni visual meteorological condition (VMC) dan instrument meteorological condition (IMC). VMC merupakan keadaan cuaca yang memungkinkan dilihat secara visual. Sedangkan penerbangan dalam kondisi cuaca IMC harus memenuhi persyaratan instrument flight rules (IFR). Dengan mengetahui kondisi cuaca secara tepat serta menyadari keterbatasan kemampuan pesawat terbang maupun kemampuan penerbang, maka kecelakaan penerbangan akibat cuaca buruk dapat dihindari.


Berkat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kini para penerbang bisa melihat kondisi cuaca secara real time untuk menghindari fenomena alam yang bisa membahayakan penerbangan seperti front, badai petir, windshear dan jetstream.


Jalankan Peran Pemersatu

Masalah penerbangan perintis tidak bisa dilepaskan dengan bandara kecil atau biasa disebut bandara perintis. Bandara seperti ini kebanyakan memiliki struktur bisnis yang tidak sehat alias selalu mengalami kerugian. Sebenarnya dalam Undang-Undang Penerbangan tidak ada istilah bandar udara perintis yang ada adalah angkutan udara perintis.


Meski demikian pengoperasian bandar udara perintis tetap harus memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan penerbangan sipil yang berlaku. Pada umumnya, angkutan udara perintis masih disubsidi oleh pemerintah, pengelolaan bandar udaranya masih dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda) dan bilamana angkutan udara tersebut secara komersial telah menguntungkan, bandar udaranya diserahkan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.


Bandar udara perintis sebenarnya merupakan bandar udara umum, tapi karena keberadaannya adalah untuk melayani angkutan udara perintis, maka bandar udara tersebut tidak dikategorikan

bandar udara khusus. Tujuan angkutan udara perintis adalah untuk menghubungkan daerah isolasi yang belum berkembang, sehingga daerah tersebut dapat merangsang pertumbuhan pembangunan.


Jadi, apa pun persoalan, pemerintah harus memberikan perhatian khusus untuk bandara perintis ini. Peranannya sangat vital untuk Indonesia. Di samping sebagai alat transportasi yang cepat dan kemampuan penetrasinya hingga ke pelosok wilayah yang terpencil di Indonesia, penerbangan perintis juga sebagai salah satu alat pemersatu bangsa.


Oleh karena itu, diperlukan kondisi dunia penerbangan perintis yang solid, kuat, terarah, dan terkelola dengan baik, sehingga mampu menghubungkan beriburibu pulau dan membangun setiap daerah yang ada di Indonesia secara adil dan merata.


Arif Minardi, Praktisi industri, ketua umum Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronika dan Mesin

BAGIKAN