Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tito Sulistio. Foto: IST

Tito Sulistio. Foto: IST

Predator Makan Gorengan

Senin, 6 Januari 2020 | 11:12 WIB
Tito Sulistio *)

Sambutan Bapak Presiden Joko Widodo pada saat pembukaan perdagangan hari pertama bursa efek, menyisakan satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan otoritas pasar modal. Presiden secara khusus menekankan perlunya menertibkan ‘gorenggorengan’ saham dan para manipulator.

Presiden adalah pimpinan negara. Jadi, walaupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga negara (independen) nonpemerintahan, maka pernyataan Presiden di atas perlu mendapat atensi. Sebagai orang yang karatan di pasar, saya mempunyai pertanyaan besar mengenai apa itu saham ‘gorengan’.

Pertanyaan ke ‘saham gorengan’ lebih kepada definisinya. Saya tidak punya definisi itu, karena buat saya tidak ada saham gorengan. Karena itulah saya bertanya kepada para pelaku pasar. Saya bertanya dan mendapat respons dari sekitar 50 pelaku pasar yang terdiri atas para investor (termasuk dana pensiun dan manajer investasi), pimpinan sekuritas, pimpinan asosiasi di pasar modal, lembaga penunjang (penasihat hukum dan akuntan publik), emiten, dan mantan regulator.

Begini tanggapan mereka, saya sudah ringkas sesuai maknanya. Pertama, yang terbanyak tidak memberikan jawaban tuntas ada atau tidak, tapi hanya memberi definisi. Maaf, saya anggap ini keraguan ada tidaknya ‘saham gorengan’. Kedua, saham yang harganya naik-turun secara volatile, terlihat dimainkan/ dimanipulasi, sehingga harganya terbentuk tidak berdasar mekanisme pasar.

Caranya bisa pakai isu liar biar terlihat menarik, misal volume perdagangannya, berita/ informasi palsu, sampai window dressing laporan keuangan, atau melalui perdagangan yang bersifat semu. Sehingga harga sahamnya tidak mencerminkan fundamental ataupun refleksi dari ekonomi makro.

Ketiga, saham berkualitas jelek yang direkayasa untuk ambil keuntungan. Kemudian yang secara straight forward mengatakan ada, tidak memberi definisi, beberapa hanya memberi contoh (saya tidak tuliskan disini). Anggapannya saham gorengan adalah sama dengan perdagangan semu. Saham ‘gorengan’ arahnya adalah cornering. Yang terbanyak adalah yang langsung mengatakan tidak ada, dengan pandangan bahwa semua saham ada kepentingan pemegang mayoritas. Beda harga pasar dengan nilai fundamental tidak bisa jadi patokan ada tidaknya yang memainkan harga saham itu. Seorang investor yang membeli dalam jumlah banyak lalu menjual pada harga tinggi, bahkan bila berkali-kali jual-beli, tidak dilarang oleh peraturan di dunia manapun.

Secara implisit terkandung pendapat bahwa saham itu kalau hanya diperjualbelikan (apakah ini ‘dimainkan’) dalam jumlah besar bukan berarti langsung dosa. Tapi menjadi eksplisit dosa jika perdagangannya itu semu, atau ada manipulasi (informasi atau laporan keuangan, misalnya). Sesuai dengan larangan yang ada di UU No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pasal 90.

Jadi saham ‘gorengan’ itu apa? Mayoritas sepakat bahwa saham yang dipanggil ‘gorengan’ itu adalah saham yang naik tinggi dalam waktu relatif cepat, lalu bergejolak naik turun karena ada yang berkepentingan. Tapi apakah hanya saham jelek, hanya saham dengan kapitalisasi kecil, saham dengan fundamental tidak kuat yang bisa dipanggil ‘gorengan’? Secara eksplisit bahkan ini dibantah. Ada saham BUMN yang dimainkan, dalam arti dibeli secara bersama-sama oleh beberapa dana pensiun secara berkala, sehingga harganya naik tinggi.

Ada saham BUMN yang naik melesat tinggi, lalu terbanting karena pemerintah tidak konsisten dalam menentukan harga jual produknya. Atau saham BUMN yang dari mulai IPO sudah dipaksakan untuk ditelan oleh perseroan negara lainnya dan sampai saat ini tidak pernah kembali ke harga IPO.

Apakah itu semua juga ‘gorengan’? Tapi semua sepakat bahwa melakukan perdagangan semu untuk memainkan harga saham itu suatu pelanggaran dan pantas untuk dihukum. Yang pasar dan mayoritas emiten tidak bisa terima adalah bahwa dosa ‘gorengan’ atau ‘manipulasi’ ditimpakan hanya ke saham lapis dua.

Bukankah ini adalah prioritas pemerintah dan otoritas untuk meng-encourage perusahaan menengah untuk go public agar punya sumber dana yang efisien. Tapi struktur bursa Indonesia memang secara keaktifan berat ke bawah. Sekitar 8% atau 52 emiten di bursa menguasai lebih dari 75% kapitalisasi pasar, dengan nilai perdagangan hanya 56,8%. Tapi keaktifan saham berkapitalisasi besar ini sangat kecil. Volume hanya 10,8% dan frekuensi keaktifan 33%.

Artinya, keaktifan transaksi di Bursa Efek Indonesia yang dibanggakan sebagai salah satu teraktif di Asean itu, 90% volume dan 67 frekuensi adalah kontribusi dari perusahaan lapis dua. Tolong perseroan ini jangan di-bully sebagai manipulator. Jadi apakah ‘menggoreng’ saham itu berdosa. Bagaimana jika semua transaksinya riil dilakukan oleh yang berkepentingan secara terbuka melalui mekanisme di bursa efek, tanpa perdagangan semu?

Satu respons menganggap ‘gorengan’ adalah market making. Di banyak bursa efek, market maker diperbolehkan. Di New York Stock Exchanges (NYSE), para market maker-lah yang mayoritas masih duduk di floor, bahkan menjadi show room peninggalan tradisi sejarah perdagangan di sana. Di beberapa Negara gugusan Nordic, market making direkomendasikan untuk dilakukan oleh emiten yang sahamnya tidak aktif, dengan tujuan utama aktivitas transaksi di bursa untuk meningkatkan likuiditas perdagangan.

Saya membayangkan bagaimana mereka yang harus terbang lebih dari 12 jam untuk sampai ke Indonesia, apalagi yang belum pernah ke Indonesia, sebagai seorang investor menerjemahkan arti ‘predator’ dan ‘gorengan’ dalam strategi investasi mereka di Indonesia.

Pembukaan dan penutupan perdagangan tahunan di bursa efek adalah suatu ritual seremonial yang biasanya dilakukan oleh para tokoh, dengan tujuan agar menyebarkan nafas segar wangi untuk mengundang investor berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Pembukaan dan penutupan adalah saat yang paling tepat untuk membantu ekspos keberhasilan kerja bursa efek. Keberhasilan mencetak 58 saham perdana atau kelancaran efisiensi transaksi di bursa efek selama 2019, patut diacungi jempol dan seyogianya ini lah yang menjadi topik utama untuk ditonjolkan.

Predator di bursa efek, saya berani katakan tidak ada. Saham ‘gorengan’, satu istilah khas di pasar modal Indonesia yang menggambarkan aktivitas perdagangan aktif saham tertentu, yang jika dilakukan tanpa perdagangan semu atau niat cornering, belum tentu berdampak negatif untuk pasar.

Bagaimanapun, saya menghargai perhatian Presiden untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal kita. Dalam konteks itu, saya mengimbau perlunya pengawasan yang lebih ketat dari otoritas dan regulator.

*) Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN