Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zaenudin Abidin, Dosen Perbanas Institute dan Komisaris Bank Swasta

Zaenudin Abidin, Dosen Perbanas Institute dan Komisaris Bank Swasta

Profil Pimpinan Perbankan Nasional: Risiko versus Keberagaman Saat Covid-19

Selasa, 14 Juli 2020 | 23:57 WIB
Zaenal Abidin *)

Jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Per 13 Juli 2020, dilaporkan totalnya menjadi 76.981 orang. Total kasus sembuh 36.689 orang, dan kasus meninggal dunia mencapai 3.656 orang. Penderita didominasi kaum laki-laki yang mencapai 52,5% dan usia yang paling rentan adalah di atas 45 tahun, termasuk di dalamnya kasus yang meninggal (59,8%).

Berarti, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 itu, bila kita berjenis kelamin laki-laki dan berusia di atas 45 tahun mempunyai potensi lebih besar terjangkit Covid-19 sekaligus kemungkinan besar tidak akan terselamatkan.

Berkaitan fenomena di atas penulis melakukan riset profil risiko saat Covid–19 dan keberagaman (diversity) direksi dan dewan komisaris atau bisa disingkat Top Management Team (TMT) pada Bank Umum tahun 2018 dan 2019.

Dari 96 bank konvensional yang ada, kami menemukan 90 bank yang cukup lengkap dari sisi umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan pengalaman kerja.

Selanjutnya dari bank-bank tersebut kami bagi lagi berdasarkan kelompok bank berdasarkan besarnya modal inti atau lebih kita kenal dengan Bank Buku 1 sampai dengan Bank Buku 4. Di mana Bank Buku 4 minimal modal inti sebesar Rp 30 triliun, Bank Buku 3 berkisar Rp 5-30 triliun, Bank Buku 2 dengan modal inti Rp 1-5 triliun, dan Bank Buku 1 kurang dari Rp 1 triliun. Dari bank yang diteliti hampir sebagian besar atau sebesar 93% berumur lebih dari 45 tahun.

Jadi hanya 7% saja usia TMT yang di bawah 45 tahun. Penulis mengambil dasar umur 45 tahun karena berdasarkan info bahwa usia yang paling rentan dengan Covid–19 berusia di atas 45 tahun dan karena pernah dicanangkan pada berbagai riset sebelumnya bahwa pada usia lebih dari 45 tahun sudah kurang produktif lagi.

Selain itu, umur 45 tahun baru-baru ini diusulkan dari berbagai pihak sebagai batas usia pension di karenakan usia tersebut sudah dianggap kurang produktif lagi. Walaupun akhirnya usulan tersebut kurang mendapatkan respons dari kepala Badan Kepegawaian Negara yang menyatakan bahwa usia pensiun di atas 58 tahun.

Dari sisi teori keberagaman, ada kecenderungan usia TMT yang le bih lanjut akan lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan bi la dibandingkan dengan usia yang lebih muda. Kombinasi usia TMT akan berdampak positif dalam mengambil keputusan.

Ketika TMT dengan latar be lakang usia yang berbeda bi la mana memecahkan masalah bersama-sama, mereka akan me ng ambil keputusan dengan solusi yang lebih tepat sasaran dan yang mengarah ke proses dan hasil pengambilan keputusan yang sangat baik. Hal ini juga yang mendasari mengapa Presiden Jokowi merekrut staf khusus milenial yang berumur rata-rata 30 tahun, di samping para menterinya yang berusia di atas 45 tahun.

Dari segi gender, profil TMT sebagian besar laki-laki, yaitu mencapai 82% di tahun 2019 dan berada 84% di tahun 2018. Yang berarti komposisi wanita membesar menjadi 18% di tahun 2019. Hal ini berarti melebihi yang akan ditargetkan Menneg BUMN yang hanya 15% untuk mengisi TMT di beberapa BUMN.

Ada kecenderungan gender wanita lebih hati-hati dan teliti dalam setiap pengambilan keputusan dibandingkan gender laki-laki. Hal ini terlihat bahwa bilamana ada gender wanita dalam TMT per bankan, selalu ditempatkan sebagai direktur Kepatuhan.

Sejalan dengan usia TMT perbankan, jenis kelamin yang ada di perbankan juga mengalami risiko yang lebih besar pada saat berlangsung Covid–19.

Dari hasil riset khusus untuk profil usia dan jenis kelamin hampir sama untuk jenis kelompok Bank Buku 1 sampai dengan Bank Buku 4. Artinya hanya 7% usia TMT yang berumur kurang dari 45 tahun dan hanya sekitar 18% TMT dari gender wanita.

Berarti hampir semua kelompok TMT bank mempunyai potensi risiko yang cukup besar. Yang cukup menarik dari sisi pen didikan TMT perbankan, me reka yang mempunyai pendidikan terakhir S3 atau setingkat dok toral berada pada kelompok bank besar.

Jadi semakin besar kelompok bank, semakin besar pula komposisi pendidikan TMT yang mempunyai gelar S3. Bank Buku 4 mempunyai TMT yang bergelar S3 sebanyak 19%, sedangkan Bank Buku 1 hanya 3% saja. TMT yang bergelar S3 sebagian besar karena merangkap sebagai tenaga pengajar atau dosen.

Penempatan para dosen bi asanya ditempatkan sebagai Komisaris Independen yang akan berfungsi untuk mengevaluasi tata kelola (GCG) dan pengelolaan manajemen risiko bank.

Keberagaman antara dosen atau akademisi dan para praktisi akan membuat irama bisnis se makin terkendali. Ibarat sebuah mobil yang memerlukan kom binasi gas dan rem untuk melajunya bisnis yang lebih terkendali dengan baik.

Dari komposisi pengalaman kerja TMT, penulis berkeyakinan bahwa TMT yang terbaik harus punya pengalaman juga di nonperbankan. Pada Bank Buku 4, TMT yang juga punya pengalaman nonbank sebesar 59%, berarti sebagian besar TMT tersebut juga mempunyai pengalaman di industri selain bank, sedangkan pada Bank Buku 2 hanya sebesar 40%. Jadi bisa disimpulkan semakin besar kelompok bank akan mempunyai TMT yang lebih banyak pengalaman di nonperbankan.

Keberagaman pengalaman akan membuka peluang munculnya inovasi baru di perbankan tersebut dengan membawa pengalaman sebelumnya. Pengalaman TMT yang juga dari nonbank yang selanjutnya dapat diimplementasikan ke organisasi baru disebut absortive capacity.

Kini banyak TMT perbankan yang berasal dari telekomunikasi dan manufaktur, karena TMT ter sebut diharapkan membawa perubahan dalam sistem operasi perbankan yang lebih efisien dan tepat guna. Demikian juga TMT yang berasal dari telekomunikasi sangat dibutuhkan perbankan terutama untuk menghadapi persaingan

dengan fintech. TMT yang memiliki latar be lakang pengalaman sebagai pimpinan mantan dari regulator pengawas atau mantan menteri bahkan politisi, memiliki pengetahuan mengenai kondisi birokrasi yang akan berguna bagi BUMN dan bank asing dalam menjalankan operasinya terutama bilamana berhubungan dengan birokrat.

Keragaman pengalaman juga sangat dibutuhkan di dalam bank dalam mengambil keputusan pembiayaan. Dalam jumlah nominal besar keputusan kredit selalu diambil berdasarkan keputusan bersama.

Jadi semakin banyak keragaman pengalamam TMT akan semakin baik keputusan yang diambil. Namun keberagaman juga ada potensi risiko yang perlu di pikirkan.

Keberagaman yang sangat tinggi akan memudahkan potensi konflik bilamana tidak dibarengi dengan komunikasi yang baik dan rendahnya kepemimpinan. Potensi risiko lainnya adalah jika penunjukan anggota TMT yang sebenarnya kurang kompeten hanya demi meningkatkan keragaman.

Misalkan adalah penunjukan anggota TMT wanita atau dari etnis tertentu yang sebenarnya kurang kompeten dibandingkan dengan calon direksi pria dan atau etnis tertentu. Hal ini tentu akan menjadi kontra produktif sehingga manfaat dari keragaman malah tidak akan terwujud.

Jadi bila disimpulkan hasil sementara riset, dari sisi gender dan usia TMT dari setiap kelompok bank relatif hampir sama untuk semua kelompok Bank Buku 1 sampai Bank Buku 4, tetapi khusus untuk sisi pendidikan dan pe ngalaman kerja, kelompok bank yang semakin besar semakin beragam.

Pada hakikatnya bila mengacu data kajian Covid–19 memang TMT perbankan mempunyai risiko cukup besar karena didominasi laki-laki dan yang berusia di atas 45 tahun.

Tetapi bank sudah mempunyai pengalaman dalam memitigasi risiko, seperti sebagian besar TMT melakukan Work from Home (WFH) dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sedangkan mereka yang berusia di bawah 45 tahun lebih banyak bekerja di kantor dengan tetap mengikuti aturan protokol kesehatan. Keragaman TMT akan berdampak positif terhadap kinerja bank bila dibandingkan TMT bank yang kurang beragam.

Keberagaman akan meningkatkan kreativitas, inovasi yang lebih tinggi, dan pe ngambilan keputusan yang baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan laba. Tetapi shareholder juga harus memperhatikan perkembangan hasil kajian dari Gugus Tugas Covid–19 yang mungkin sebagai bahan pertimbangan pula dalam menentukan komposisi TMT perbankan di kemudian hari.

*) Dosen Perbanas Institute dan Komisaris Bank Swast

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN