Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Prospek dan Risiko Ekonomi Global 2020

Tri Winarno *), Senin, 27 Januari 2020 | 11:35 WIB

Berdasarkan analisis yang didukung oleh data dan simulasi model ekonomi terbaru, prospek ekonomi global tahun 2020 akan ditandai dengan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi di atas capaian tahun 2019. Tingkat suku bunga dipastikan juga tetap berada pada level terendah, dan harga saham semakin meningkat.

Namun demikian, kondisi perekonomian tahun 2020 juga masih menghadapi sepuluh risiko utama yang harus tetap diwaspadai. Kabar baiknya, probabilitas bahwa ekspansi pertumbuhan ekonomi global melebihi kombinasi dari berbagai risiko tersebut masih di atas 75%.

Apa sepuluh risiko utama yang harus tetap diwaspadai tahun ini? Pertama, risiko terkecil adalah munculnya berbagai prediksi ekonom bahwa tahun ini akan terjadi resesi global, yang dipicu oleh resesi di Amerika Serikat (AS) atau di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Resesi memang tidak dapat terhindarkan, tetapi resesi yang terjadi di tahun 2020 kemungkinannya sangat kecil dibandingkan dengan waktu 10 tahun sebelumnya. Justru yang paling mengkhawatirkan telah berlalu, yaitu kondisi ekonomi di tahun 2016.

Ketika investasi dan produk manufaktur global terpukul oleh perang dagang antara AS dan Tiongkok di tahun 2019, kebijakan ekonomi di kedua negara tersebut telah memacu pertumbuhan belanja di sektor perumahan, jasa dan sektor publik.

Ekonomi global tahun ini akan tetap memperoleh manfaat dari pemangkasan tingkat suku bunga di AS tahun 2019 dan upaya Tiongkok untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya di level 6%. Kalau tidak ada beberapa shock baru yang dahsyat, maka kemungkinan resesi di tahun 2020 sangat kecil.

Kedua, risiko peningkatan suku bunga. Banyak investor dan pengusaha khawatir bahwa kondisi tingkat bunga rendah saat ini akan segera berakhir, setidak-tidaknya di AS. Inflasi dan tingkat bunga jangka panjang kemungkinan akan naik di tahun ini. Tetapi dapat dipastikan tidak akan ada agenda bahwa bank sentral utama dunia akan menaikkan tingkat suku bunga. The Fed dipastikan akan menjadi penentu dalam kebijakan ini, dan dapat dipastikan di tahun pemilu 2020 ini The Fed tidak akan menaikkan suku bunga.

Ketiga, memang betul Uni Eropa telah terasuki epidemi Euroskepticism, tetapi Brexit telah menjadi semacam vaksinasinya Uni Eropa. Sehingga daya tahan Uni Eropa semakin kuat. Bahkan pemimpin-pemimpin populis di Italia, Perancis, dan Jerman tampak terhalang oleh pengalaman Brexit, dan negosiasi tahun ini post-Brexit trade deal diperkirakan akan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar.

Memang politik selalu volatile, khususnya di Italia, sehingga krisis Uni Eropa yang dipicu oleh politik tetap kecil tetapi risiko ini tidak dapat diabaikan begitu saja.

Keempat, walaupun perang dagang antara AS dan Tiongkok telah membetot perhatian publik dan banyak negara di tahun 2019, Uni Eropa sebenarnya kurang begitu terpengaruh. Saat ini kinerja ekonomi Eropa telah stabil, yang ditopang oleh kebijakan yang dramatis.

Bank sentral Eropa sudah memulai kebijakan pelonggaran moneter dan sentimen politik saat ini berbalik menentang fiscal austerity. Hanya ekonomi Jerman yang memang masih di ambang krisis atau hampir resesi.

Yang disayangkan apabila politisi Eropa akan cenderung mengedepankan pemangkasan defisit fiskal tatkala ekonominya membutuhkan bantuan ekspansi fiskal. Dengan demikian, saat ini resesi di Uni Eropa adalah risiko ekonomi terbesar di tahun 2020, sama dengan kondisi tahun lalu.

Kelima adalah risiko yang berasal dari gangguan terhadap perdagangan minyak. Sejak pembunuhan Jenderal Iran Qassem Suleimani oleh AS, ekonomi global khawatir bahwa akan terjadi perang antara AS dan Iran sehinga harga minyak akan meroket. Karena fakta menunjukkan bahwa setiap resesi global selalu diawali dengan kenaikan harga minyak lebih dari dua kali lipat.

Jadi kalau harga minyak melebihi US$ 110 per barel, maka dipastikan ekonomi dunia akan langsung resesi. Kejadian ini akan terjadi kalau perang antara Iran dan AS menyebabkan terhalangnya pengapalan minyak di Teluk Persi. Diperkirakan resesi akibat dari krisis minyak ini masuk dalam skenario moderat.

Keenam adalah risiko moderat karena increased protectionism. Perang dagang antara AS dan Tiongkok telah menjadi faktor negatif dan telah dikalkulasikan oleh pasar, dan perjanjian “phase one” menyimpulkan bahwa eskalasi perang dagang tidak akan terjadi di tahun ini. Hanya saja, masih meninggalkan kekhawatiran bahwa akan terjadi pergeseran perang dagang dengan Uni Eropa serta gagalnya pembicaraan perjanjian Brexit. Naluri proteksionisme Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan bergeser dari Tiongkok ke mobil Jerman.

Hanya saja, Trump dipastikan sangat sibuk tahun ini, karena dua hal. Yakni, menghadapi konfrontasi dengan Iran dan mempersiapkan pemilu pemilihan presiden AS pada November 2020. Oleh karena itu, kecil kemungkinan Trump akan mengalihkan perang dagangnya ke Uni Eropa Sementara itu, hubungan dagang antara Uni Eropa dan Inggris akan tetap tidak berubah sampai dengan akhir Desember 2020.

Sehingga dapat dipastikan bahwa global protectionism tahun ini kemungkinannya lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2018 dan 2019.

Ketujuh, risiko moderat terhadap pertumbuhan ekonomi global tahun ini adalah rasio utang perusahaan AS telah meningkat ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, suatu level yang jauh melebihi tatkala terjadi sebelum krisis 2008. Hal ini karena tingkat suku bunga rendah yang sangat lama. Namun, kondisi ini tidak akan memacu risiko krisis, selama suku bunga tidak dinaikkan. Karena itu, corporate leverage hanya merupakan ancaman kecil untuk tahun 2020.

Kedelapan, risiko moderat lainnya adalah runtuhnya industri mobil. Tahun lalu penjualan otomotif turun tajam, sehingga mengempaskan ekonomi Jerman sebagai eksportir mobil dan mesin terbesar dunia. Produksi mobil di Jerman berada di bawah level pada waktu resesi 2009. Penurunan kinerja industry otomotif tersebut bukan sematamata masalah siklus ekonomi tetapi lebih karena struktural. Yaitu, karena dampak dari keprihatinan terhadap lingkungan, perubahan sosial, serta transisi energi dan teknologi, sehingga industri mobil dunia mengalami penurunan.

Kondisi ini mirip dengan proses deindustrialisasi tahun 1980-an. Penurunan demand otomotif tahun lalu sangat ekstrem. Karena itu, justru ada peluang pemulihan sektor industri otomotif akan terjadi tahun ini. Karena itu, sektor otomotif tahun ini dipastikan tidak akan menciptakan banyak masalah lagi.

Kesembilan adalah risiko yang bersumber dari technology sector. Tekanan politik akan sangat kencang terhadap model bisnis di sektor ini. Dahulu perusahaan besar AS dianggap sebagai inovator dan agen pertumbuhan, misalnya Facebook, Apple, Amazon, dan Google. Tetapi sekarang justru dicap sebagai monopolis dan memanipulasi politisi serta mengeksploitasi konsumen. Padahal, perusahaan ini sebagai mesin penggerak utama pasar modal dan ekonomi AS. Karena itu, tekanan politik yang mengubah model bisnisnya dalam bentuk regulasi, perpajakan, akuisisi akan mengakibatkan kasus seperti bencana dot-com 2000- 2002. Diperkirakan tekanan terhadap model bisnis ini akan semakin kencang tahun ini.

Dan terakhir, risiko kesepuluh dan tertinggi adalah pemilu presiden AS. Menurut Konsensus Global Markets, kalau Presiden Donald Trump memenangkan pemilu kembali, maka pada periode kedua kepresidenannya, dia akan semakin protectionist, semakin suka perang dan sulit diprediksi sehingga ekonomi global semakin tidak pasti.

Sebaliknya, kalau pesaingnya yang memenangkan pemilu, baik itu Bernie Sanders atau Elizabeth Warren, empat sektor ekonomi AS, –kesehatan, keuangan, teknologi,dan energi– akan menghadapi gangguan serius. Karena itu, kondisi politik AS dapat dipastikan akan memicu kepanikan sebelum 3 November 2020.

Mempertimbangkan kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2020 masih akan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global 2019, asalkan kesepuluh risiko di atas dapat dihindarkan.

*) Pengamat kebijakan ekonomi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA