Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Prospek Pemulihan Kota

Jumat, 15 Januari 2021 | 22:08 WIB
Nirwono Joga *)

Memasuki tahun 2021 ada baiknya pemerintah melakukan refleksi dan melihat prospek pemulihan kota ke depan kala pandemi Covid-19 sekaligus memulihkan perekonomian kota. Pemerintah berencana mengembangkan 10 metropolitan baru yang diharapkan menjadi pengungkit percepatan pemulihan ekonomi nasional di kawasan perkotaan.

Kesepuluh metropolitan baru itu ialah Mebidangro (Medan, Binjai, Deli, Serdang, Karo), Patungagung (Palembang, Betung, Indralaya, Kayuagung) di Sumatera; Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Bandung Raya (Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Kabupaten Sumedang), Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi), Gerbangkertosusila (Gresik, Bang kalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) di Jawa. Kemudian, Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) di Bali; Banjarbakula (Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala) di Kalimantan; Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar), dan Bimindo (Bitung, Minahasa, Minahasa Utara, Manado, Tomohon) di Sulawesi. Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, transformasi berbagai kota menjadi sebuah kawasan metropolitan harus memperhatikan pertumbuhan penduduk yang pesat dan tingkat ke padatan tinggi. Aglomerasi beberapa kawasan permukiman skala kota akan membentuk satu kesatuan ekosistem yang berorientasi kepada inti metropolitan. Desentralisasi populasi dan aktivitasnya meliputi perekonomian, sosial, budaya, dan pendidikan.

Pun, keterpaduan antara pengembangan kawasan dengan prasarana, sarana umum dan utilitas.

Kedua, keterpaduan antarpemangku kepentingan dan kebija kan atas kawasan metropolitan da lam berbagai fase (perencanaan, perancangan, pembangunan, pemasaran/sosialisasi, perawatan, dan pengelolaan) sesuai tahapan. Ada tiga tahapan yang harus dilalui yakni tahap pengembangan, tahap pematangan, dan tahap menjaga stabilitas.

Ketiga, prasyarat rencana pengembangan kawasan perkotaan perlu memenuhi persyaratan komersial, selaras dengan peraturan, memenuhi alur birokrasi sumber pembiayaan (APBN, APBD, Non-APBN/APBD, KPBU), ser ta memenuhi kaidah politis. Kota sebagai sebuah ekosistem melibatkan pemerintah, dunia usaha, pendidikan, organisasi masyarakat, dan media massa.

Mereka berbagi/ kolektif, menjalin kemitraan/kola borasi, berdamai, konektivitas/ interaksi, dan mendapat manfaat bersama.

Keempat, penciptaan keunggulan daya saing wilayah yang berkelanjutan dengan menciptakan ‘pasar’. Pembangunan kawasan semakin ditandai oleh pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri yang akan mengandalkan berbagai jenis sumber daya alam.

Pemanfataan dan pemeliharaan sumber daya alam, tidak terlepas satu dari yang lainnya dalam pengembangan kawasan berkelanjutan.

Sebagai akibat pertumbuhan populasi, perkembangan industri dan transportasi, kota akan menghadapi isu lingkungan dalam pengembangan perkotaan, masalah keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, serta pembelajaran dari Covid-19 dan Revolusi Industri 4.0: yakni aksesibilitas terhadap teknologi informasi komunikasi.

Kelima, membangun tolok ukur utama keberhasilan (key performance index) pengembangan suatu wilayah yakni kemajuan pertumbuhan ekonomi tinggi, pendapatan per kapita merata, dan tingkat pengangguran rendah.

Ada 17 Tujuan Pembangungan Berkelanjutan (SDGs) sebagai tolok, ukur utama keberhasilan pengembangan suatu wilayah seperti mencapai kesehatan yang baik, pendidikan bermutu, akses air bersih dan sanitasi, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta infrastruktur industri dan inovasi.

Keenam, ada tiga isu utama tantangan pengembangan kawasan perkotaan yakni kepastian dan perlindungan investasi (tata ruang, pengadaan lahan, perizinan, hak kepemilikan, pengadaan infrastruktur dan jaringan utilitas, aturan yang menghambat/tumpang tindih), kebijakan fiskal dan pembiayaan, ser ta koordinasi antarkementerian/lembaga.

Ketujuh, potensi sektor swasta untuk menciptakan ‘pasar’ dalam pengembangan kawasan per kotaan. Untuk membangun permukiman berkelanjutan harus de kat dengan masyarakat, saling menguntungkan secara ekonomi, kualitas lingkungan dan ramah lingkungan.

Permukiman tidak hanya bentuk struktur fisiknya saja, namun bagaimana kota mampu mendorong kemakmuran masyarakatnya, menanggapi dinamika sosial budaya, serta menyesuaikan dengan lingkungan.

Pembangunan permukiman era kenormalan baru merupakan isu strategis untuk memenuhi salah satu kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan). Rumah layak dan sehat sesuai perilaku hidup bersih dan sehat. Potensi industri perumahan dan properti sebagai salah satu pendorong pengembangan kawasan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah, penyediaan rumah layak dan sehat, penyediaan prasarana sarana umum dan jaringan utilitas.

Industri properti akan membangkitkan efek berganda industri ikutan dan usaha kecil menengah, kebutuhan komponen material lokal, program padat karya (tenaga kerja lokal), memberikan kontribusi product domestic bruto (PDB), serta distribusi tanah ke masyarakat.

*) Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN