Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Puasa dan Keragaman Pangan Kota

Nirwono Joga, Sabtu, 25 Mei 2019 | 17:07 WIB

Selama bulan puasa Ramadan dan puncaknya perayaan Hari Raya Idul Fitri menunjukkan tren peningkatan kebutuhan pangan bagi warga kota. Hal ini harus diantisipasi dengan serius oleh pemerintah.

Di sisi lain, seiring perkembangan kota, sudah seharusnya ditopang oleh sistem penyangga ketahanan pangan. Penyediaan pangan menjadi tantangan pada masa sekarang dan mendatang, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

Semakin banyak penduduk yang tinggal di kota dan kawasan perdesaan yang mulai mengkota telah berdampak pada penyusutan lahan pertanian produktif. Selain tata ruang wilayah, perkembangan kota yang semakin pesat mengubah konfigurasi lingkungan hidup, sosial masyarakat, dan ekonomi lokal, termasuk urusan pangan dan gizi warganya.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 318 juta jiwa (2045). Porsi penduduk perkotaan tumbuh dari 53% (2015) menjadi 67% (2045) dan 70% (2050). Pertumbuhan penduduk perkotaan tentu membutuhkan ketersediaan pangan kota yang memadai.

Penyediaan pangan kota di masa depan, tak kalah penting dibandingkan pemenuhan kebutuhan papan, energi listrik, air bersih, dan transportasi. Perebutan sumber-sumber pangan akan semakin pelik. Ketika kebutuhan pangan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk, lahan pertanian justru semakin susut luas dan kualitasnya. Dari kurun waktu 2013-2018, luas baku sawah berkurang dari 7,75 juta hektare menjadi 7,1 juta hektar atau terjadi alih fungsi lahan 130.000 hektare per tahun atau setara dengan dua kali luas wilayah ibu kota Jakarta (Badan Pusat Statistik, Oktober 2018).

Ironisnya, alih fungsi lahan pertanian produktif justru masif terjadi di Pulau jawa yang diberkahi tanah subur. Perubahan alih fungsi lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan industri, membangun infrastruktur jalan, permukiman rumah tapak masyarakat, dan kebutuhan non pertanian lainnya.

Untuk itu, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah meluncurkan inisiatif “Food for the Cities” (Pangan untuk Kota, 2001) sebagai upaya mengatasi tantangan urbanisasi dan mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Pada 2017, Kementerian Pertanian mengenalkan konsep pengembangan wilayah penyangga pangan (city region food systems/CRFS) yang mencakup proses produksi, pengolahan, dan konsumsi.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan mengamanatkan semua pihak untuk melindungi dan menyediakan kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. Pemerintah juga berkewajiban meningkatkan kemakmuran dan memberdayakan petani, meningkatkan penyediaan lapangan kerja pertanian yang layak, serta mempertahankan keseimbangan ekologis.

Untuk mewujudkan ketahanan pangan kota dilakukan dengan menggerakkan pertanian kota berbasis masyarakat/komunitas, membangun pola distribusi yang memangkas rantai pasok dari daerah penghasil, mempertahankan lahan pertanian yang masih ada, dan mengoptimalkan ruang terbuka hijau kota sebagai kebun pangan lokal.

Pemerintah daerah harus mulai mengidentifikasi komoditas yang dibutuhkan warga, memetakan kemampuan kota dan daerah sekitar (penyangga) untuk memproduksi bahan pangan, serta melakukan kerja sama (kontrak pertanian) dengan daerah penghasil untuk memastikan pasokan. Ketahanan pangan dijaga dengan memperkuat ketersediaan dan akses pangan. Rantai logistik terus diperbaiki agar distribusi makin lancar.

Di sisi lain, produksi pertanian bagi pangan memicu degradasi kualitas lingkungan dan penyusutan keragaman hayati. Untuk itu masyarakat harus didorong untuk mengonsumsi ragam pangan local yang diproduksi secara berkelanjutan. Hal itu bertujuan untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan lokal bermutu. Pengembangan pangan lokal selaras dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Kebijakan diversifikasi pangan lokal harus terus dikembangkan.

Tanaman pangan memiliki karakteristik berbeda dalam beradaptasi pada kondisi beragam. Keragaman sumber daya genetik menjadi kunci ketahanan pangan, keragaman pangan lokal menjadi penopang fondasi kehidupan. Pangan bijak adalah solusi mengurangi tekanan produksi dan konsumsi sektor pangan pada lingkungan. Itu sekaligus memitigasi pencemaran air, tanah, dan udara.

Prinsip pangan bijak antara lain bersifat lokal, adil bagi konsumen dan produsen, sehat atau organik, serta lestari di mana produksinya memperhitungkan lingkungan dan keragaman sumber pangan. Pangan bijak memastikan keberlanjutan kehidupan warga sejahtera dan sehat. Produk pangan local menghargai aspek kesehatan, keadilan ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Produk pangan lokal harus enak agar diterima warga.

Untuk itu dibutuhkan bahan bermutu, kreasi dan inovasi kuliner daerah. Tradisi buka puasa dan sahur bersama, serta perayaan Hari Raya Idul Fitri merupakan kesempatan bagi warga untuk menghidangkan masakan khas masing-masing daerah dimulai dari lingkup keluarga inti, keluarga besar, hingga seluruh warga kota. Setiap kota dapat mengembangkan lebih masif lagi makanan khas daerahnya sebagai identitas kuliner daerah. Beragam makanan tradisional mulai dari soto, sate, bubur, rujak, pecel, gudeg, empek-empek, sampai papeda.

Beberapa contoh produk pangan lokal seperti beras Cianjur, Jawa Barat; minyak kelapa murni dari Nias, Sumatera Utara; gula semut aren dari Kolaka, Sulawesi Tenggara; madu hutan dari Danau Sentarum, Kalimantan Barat; dan sagu dari Sungai Tohor, Riau, juga harus terus dilestarikan dan dikembangluaskan.

Mengembangkan ketahanan pangan lokal bukan merupakan pilihan, melainkan sebuah keharusan. Selamat menikmati makanan local bersama keluarga.

Nirwono Joga, Pusat Studi Perkotaan

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN