Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Benni Setiawan, Dosen Ilmu Komunikasi FIS dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, anggota Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Peneliti Maarif Institute

Benni Setiawan, Dosen Ilmu Komunikasi FIS dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, anggota Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Peneliti Maarif Institute

Ramadan #dirumahsaja

Kamis, 21 Mei 2020 | 14:13 WIB
Benni Setiawan *)

Apakah ada perbedaan antara Ramadan tahun ini dengan tahun lalu? Saya kira tidak banyak perbedaan. Tahun lalu jelang Ramadan iklan sirup selalu menjadi penanda datangnya bulan penuh hikmah. Tahun ini pun sama. Tahun lalu pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) juga menggelar rukyah untuk melihat bulan dan sidang isbat tanggal satu Ramadan.

Tahun ini pun sama, walaupun tanpa rukyah dan isbat pun sudah jelas kapan dimulainya ibadah puasa. Kemudian, apa yang membedakan? Mungkin yang membedakan hanya satu, Ramadan tahun ini didahului dengan seruan Kemenag, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan organisasi massa Islam agar umat Islam melaksanakan serangkaian kegiatan Ramadan di rumah saja.

Mulai dari salat jamaah dengan keluarga inti di rumah, buka puasa bersama di rumah, dan seruan agar menyelenggarakan salat tarawih juga di rumah. Pertanyaan yang muncul kemudian apakah seruan itu ditaati?

Sebagian ditaati tapi ada juga yang tetap menyelenggarakan kegiatan seperti tahun sebelumnya. Itu semua pilihan warga, namun sebagai umat dan warga negara yang baik, ada baiknya kita menyelenggarakan aktivitas Ramadan di rumah saja.

Eratkan Jalinan Cinta

Mengapa Ramadan di rumah saja? Pasalnya, kapan lagi kita dapat berjumpa dengan keluarga inti dalam nuansa penuh berkah jika tidak sekarang. Salat berjamaah misalnya, jika sebelum Covid-19 mewabah, mungkin kita jarang— untuk tidak menyebut tidak pernah-- salat berjamaah di rumah.

Salat berjamaah di rumah memungkinkan semua berperan. Misalnya, seorang ayah menjadi imam salat. Jika memang ayah tidak mampu menjadi imam, maka anak laki-laki yang bacaannya baik bisa menjadiimam salat.

Suasana salat jamaah juga semakin mengeratkan jalinan cinta keluarga, saat semua mau mendengarkan kultum setelah salat. Misalnya, setelah kultum salat tawarih di rumah. Jika di masjid diisi oleh mubaligh/dai maka di rumah kita akan mendengarkan ilmu dari anggota keluarga.

Seorang ibu bisa bertutur tentang keteraturan hidup dalam kultumnya. Seorang anak dapat bercerita tentang proses belajar daring, dan atau kisahkisah yang pernah diceritakan oleh gurunya di sekolah, dan seterusnya.

Kultum ini pun tidak melulu mengutip sebua  ayat atau pun hadis. Kultum kontekstual yang sesuai dengan kondisi rumah. Kultum kontektual ini mengingatkan saya pada catatan Fazlur Rahman.

Fazlur Rahman, pernah menulis, pemahaman Alquran tidak selalu ditarik dari teks. Alquran dapat dipahami dengan membaca konteks masyarakat sekitar. Kemudian tafsir sosial itulah yang akan menguatkan posisi teks Quran. Inilah double movement, teori klasik Fazlur Rahman yang masih sangat relevan untuk saat ini.

Belajar Alquran dengan demikian boleh dimulai dari membaca realitas sosial. Pembacaan realitas sosial inilah yang menjadikan Alquran selalu cocok di setiap zaman dan tempat (sholihun li kulli zaman wa makan). Mempelajari Alquran pun jadi semakin mudah. Semudah janji Allah dalam Surat al-Qamar (54: 22),

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Kultum ringan dan santai yang mungkin tidak terpaku oleh teks Alquran dapat mendorong anggota keluarga berpikir dan bertindak Islami. Anggota keluarga semakin tahu dan kenal lebih dekat.

Jika selama ini orang tua sibuk dengan pekerjaan, inilah waktu yang tepat untuk mendekatkan jiwa dengan anggota keluarga. Momentum work from home (WFH) menjadi sarana bagi orang tua rehat sejenak dari kesibukan luar rumah.

Orang tua pun dalam kesempatan kultum dapat menyimpulkan dan atau memberikan catatan terkait dengan apa yang anakanak sampaikan. Suasana ini tentu tidak dapat dibangun jika anggota keluarga tetap sibuk datang ke masjid.

Kapan lagi kita melatih anak-anak untuk percaya diri dengan mengumandangkan azan dan iqomah di rumah, melatih kepekaan dengan mendorong mereka menata dan merapikan tempat salat, dan juga melihat bagaimana mereka menyampaikan pendapat (unek-unek) dengan medium kultum.

Bukti Ketaatan

Ramadan di rumah saja pun menjadi bukti ketaatan kita kepada pimpinan ormas dan juga pemerintah. Ketataan itu pun sebagai sarana dan usaha bersama agar Covid-19 tidak terus menyebar.

Umat beragama sudah selayaknya menjadi garda terdepan dalam mencegah Covid-19. Garda terdepan pencegahan Covid- 19 adalah masyarakat, bukan dokter dan atau tenaga medis. Dokter dan tenaga medis merupakan garda terakhir pencegahan Covid- 19.

Saat masyarakat sehat, maka dokter dan tenaga medis tidak perlu bersusah payah menangani pasien Covid-19. Masyarakat sehat saat ini dapat dibangun dengan mencegah penyebaran Covid-19, salah satunya dengan tetap diam di dalam rumah.

Ketaatan dan kepatuhan untuk tinggal di rumah pun menjadi sumbangan umat beragama dalam mencegah Covid-19. Selayaknya seluruh umat beragama berkontribusi dalam membangun kesehatan bersama. Berdiam diri di rumah, melaksanakan aktivitas keagamaan di rumah, akan dapat memutus rantai Covid-19.

Jihad

Dengan demikian, Ramadan di rumah merupakan ijtihad. Artinya, jika seseorang melaksanakan kegiatan di rumah, maka dia dihitung sebagai jihad. Sebuah perkara yang sangat disukai oleh Allah SWT. Jihad dengan jiwa, dengan menyelamatkan kehidupan orang lain.

Ramadan adalah bulan mulia. Kemuliaan itu akan semakin sempurna saat setiap umat menjadikan dirinya sebagai penyelamat kehidupan orang lain, yaitu dengan tetap tinggal di rumah. Tinggal dan beribadah di rumah tidak akan mengurangi kemuliaan Ramadan sebagai bulan ampunan.

Beribadah di rumah pun bukan berar ti meninggalkan masjid. Masjid tetap berada di dalam hati dan tindakan kita. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa semua tempat di muka bumi adalah masjid, selain kuburan dan wc (Hadis Jami' at-Tirmidzi No. 291)? Wallahu a’lam.

*) Dosen Ilmu Komunikasi FIS dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, anggota Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Peneliti Maarif Institute

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN