Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Ramadanomics

Edy Purwo Saputro, Senin, 10 Juni 2019 | 23:38 WIB

Ramadan sudah berjalan meski dibayangi inflasi musiman serta riak konflik pasca penetapan pemenang pilpres. Dan seperti biasanya sejumlah instansi, jika tidak mau disebut semua, menerapkan kebijakan jam kerja lebih pendek. Pengurangan jam telah diterapkan di instansi pemerintah dan kemudian juga diikuti sejumlah instansi yang bervisi Islami serta beberapa instansi swasta.

Ada banyak alasan dari pengurangan jam kerja. Yang menarik adalah pengurangan jam kerja dinilai tidak berpengaruh negatif terhadap produktivitas kerja.

Salah satu alasan logis dari pengurangan jam kerja tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai produktivitas adalah anjuran bahwa berpuasa tidak harus diikuti dengan kegiatan yang cenderung bermalas-malasan. Bahkan, ajaran agama justru memacu semua orang yang sedang berpuasa untuk terus berkarya karena di akhir Ramadan ada tuntutan untuk dapat berbagi kepada sesama, mulai dari sedekah sampai zakat.

Komitmen untuk berbagi tentu harus ada “sesuatu” yang harus dibagikan dan “sesuatu” ini hanya akan bisa diraih jika melakukan kegiatan produksi atau kegiatan lain yang memberikan hasil manfaat selama Ramadan yaitu sedari awal sampai menjelang Lebaran.

Spirit

Fakta di atas bisa dilihat dari ragam geliat semua sektor yang terkait ataupun tidak terkait dengan Ramadan. Paling tidak, selama Ramadan ada banyak sektor informal dan UKM dadakan yang berproduksi, mulai dari membuat takjil rumahan sampai kebutuhan untuk usaha katering memenuhi pesanan buka bersama. Ibaratnya tidak ada celah waktu yang tersisa untuk Ramadan, dan kesemuanya terkait dengan kegiatan produktif.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika di setiap ruas jalan protokol di perkotaan dan juga gang-gang di pelosok perdesaan muncul dan berkembang warung dadakan menjajakan ragam menu takjil dan buka puasa. Geliat ekonomi Ramadan ini tidak bisa terlepas dari faktor produktivitas, meskipun hanya 30 hari saja. Inilah yang disebut berkah Ramadan.

Realitas tersebut secara tidak langsung menegaskan bahwa ritme usaha selama bulan Ramadan adalah dari subuh sampai subuh lagi. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa tidak ada celah waktu yang tidak melakukan kegiatan produktif jika semua mau melihat potensi ekonomi yang sangat besar dari momen Ramadan yang cuma sebulan. Artinya, Ramadhan adalah peluang bisnis yang sangat menjanjikan.

Tidaklah mengherankan jika semua stasiun televisi berani berlombalomba mengubah setting dengan menyesuaikan diri dengan momen Ramadan. Oleh karena itu, semua stasiun TV berlomba-lomba menjual nuansa religi untuk meraih profit terbesar berbalut berkah Ramadan.

Fakta ini menguatkan argument bahwa sinergi antara pahala dan laba mengalir selama Ramadan sehingga berkah ramadan bersifat universal. Fakta yang ada juga memperkuat keyakinan terkait nilai perputaran uang selama Ramadan-Lebaran yang diprediksi mencapai Rp 190 triliun, yang melibatkan rantai kegiatan produksi–distribusi–konsumsi di semua kegiatan usaha di perkotaan dan perdesaan.

Apakah kemudian hal tersebut salah? Tuntutan industrialisasi adalah menyajikan yang terbaik kepada konsumen. Ketika pasar berkenan dengan apa yang ditampilkan televisi, akan meningkatkan daya tarik pasar dan kontinuitasnya memberikan manfaat dalam bentuk profit. Artinya, tanpa mengebiri makna hakiki dari ibadah Ramadan, maka kegiatan ekonomi– bisnis tetap jalan serasi. Simbiosis mutualisme terjadi dengan label era industrialisasi berkah Ramadan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika syiar agama selama Ramadan juga dikemas secara atraktif.

Ceramah agama tidak lagi dilihat dari perspektif informasi menyampaikan ajaran agama, tapi juga dikemas secara profesional dengan sisipan iklan untuk menarik daya beli. Bahkan, kini model ceraham bisa ditampilkan secara dua arah dengan interaksi bukan saja dengan penonton di TV tetapi juga yang di rumah sehingga menjadi lebih menarik dan atraktif.

Adanya simbiosis mutualisme tersebut wajar jika kemudian terjadi perilaku yang minor, yaitu realitas kecenderungan tingginya impulse buying atau pembelian yang tidak terencana yang dilakukan mayoritas masyarakat selama Ramadan. Realitas ini didukung dengan peredaran uang yang diprediksi mencapai Rp 190 triliun.

Meskipun perilaku ini dalam perspektif agama dianggap kurang mendidik, tapi dari perspektif ekonomi hal ini sangatlah menjanjikan karena dari setiap impulse buying bukannya tidak mungkin dapat menciptakan permintaan baru yang kemudian bersinergi dengan kepuasan konsumen.

Jika satu orang konsumen terpuaskan maka dapat melakukan promosi getok tular (word of mouth). Jika hal ini dapat berkelanjutan akan menciptakan strategi pemasaran yang sangat efektif karena tidak mengeluarkan cost. Oleh karena itu, wajarlah jika ngabuburit untuk sekadar membuang waktu sembari menunggu Maghrib menjadi peluang yang sangat potensial untuk bisa dimanfaatkan demi meraih keuntungan ekonomi–bisnis.

Manfaat

Yang juga menarik dicermati adalah peluang dari pelaku usaha besar industri ritel yang juga memanfaatkan momen Ramadan ini untuk meningkatkan omzet penjualan. Banyak cara dilakukan, termasuk misalnya dengan format undian umrah untuk setiap transaksi penjualan tertentu. Selain itu, ada juga model donasi kepada anak-anak yatim di berbagai daerah jika konsumen membeli dengan kelipatan tertentu.

Realitas ini secara tidak langsung menunjukkan adanya sinergi antara konsumerisme dan sedekah. Indahnya kebersamaan dengan berbagi kepada sesama, meski harus terlibat dengan transaksi pada jumlah penjualan tertentu tetap harus dilihat dari dua kepentingan, yaitu keagamaan dan ekonomi–bisnis. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika Ramadan dianggap sebagai bulan penuh berkah karena memang ada banyak berkah yang tersedia, mulai dari omzet atau nominal yang kecil sampai miliaran rupiah.

Terlepas dari berbagai aspek yang mendasari beragam kegiatan ekonomi-bisnis selama Ramadan, yang pasti, tidak ada alasan bahwa pengurangan jam kerja selama Ramadan justru dianggap menurunkan produktivitas kerja. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa selama Ramadan yang cuma 30 hari justru membangkitkan banyak kegiatan produktif, mulai dari yang bisnis kecil-kecilan sampai omzet miliaran rupiah. Tentu ini berkah Ramadan.

Mari kita sambut Ramadan, bukan hanya sebagai bulan penuh berkah tetapi juga bulan yang penuh prospek dan peluang bisnis yang sangat menjanjikan bagi semuanya, bukan hanya bagi kaum muslimin.

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA