Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Refleksi Ramadan dan Lebaran di Tengah Pandemi

Nirwono Joga *), Selasa, 26 Mei 2020 | 06:29 WIB

Puasa Ramadan yang dipuncaki dengan perayaan Lebaran (Idul Fitri) merupakan saat yang tepat untuk setiap muslim melakukan introspeksi dan refleksi diri terhadap tiga hal, yakni hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablum minnallah), relasi sesama manusia (hablum minannas), dan korelasi terhadap alam (hablum minalam).

Keterkaitan ketiga hal itu menemukan relevansinya di tengah pandemi Covid-19. Penyebaran wabah Covid-19 telah memaksa untuk mengubah kehidupan kita dan kota, meningkatkan kesadaran publik akan lingkungan hidup, dan menginspirasi tindakan untuk melindunginya.

Kondisi kota harus menjamin kelangsungan dan menyelamatkan kehidupan kita umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, kota mesti dibangun dengan menjaga dan memupuk aset kota-wilayah, seperti aset manusia sehat, warga yang terorganisasi, lingkungan sehat, pola budaya hidup sehat dan bersih, kreatif dan inovatif, hingga karunia sumber daya alam, lingkungan alami, serta kualitas prasarana kota.

Langkah konkretnya adalah mulai dari menjaga bagaimana alam tetap menyediakan air alami secara lestari, tidak pernah kekeringan di musim kemarau, namun tidak sampai banjir di puncak musim hujan. Sumber- sumber mata air di pegunungan mengalir mengairi sungai bercabang meliak-liuk mengisi situ/danau/embung/ waduk atau meresap ke dalam tanah melalui ruang terbuka hijau, sebelum berakhir di muara laut. Itu semua karena air adalah sumber kehidupan kota dan kita.

Kemudian, fokus pembangunan kota diarahkan ke perumahan dan infrastruktur layanan dasar yang layak, aman, dan terjangkau; peningkatan kualitas kawasan kumuh; urbanisasi yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan; keterkaitan kota-desa; mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; serta pengurangan risiko bencana dan pandemi. Mencegah penyebaran Covid-19 membuat kita harus menjaga jarak fisik, namun bukan berarti membuat kita bersuara pelan untuk menyelamatkan bumi. Kesehatan manusia dan kesehatan planet bumi jelas saling memiliki keterkaitan erat. Menyelamatkan bumi dari krisis iklim sama pentingnya dengan memberikan jaminan kesehatan bagi umat manusia.

Kota harus memberikan asa kepada masyarakat untuk dapat hidup aman, nyaman, inklusif, tangguh, dan lestari. Kota yang masyarakatnya memiliki budaya sadar hidup sehat. Masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan membiasakan cuci tangan, makan makanan sehat bergizi, rajin berolah raga, serta istirahat yang cukup.

Budaya hidup bersih dan sehat dibangun dari rumah kemudian ditularkan dan disebarkan di lingkup sekolah, kantor, rumah ibadah, pasar, rumah makan, terminal/stasiun/halte, dan ruang publik lain, dari tingkat RT/RW, kelurahan/desa, kecamatan, hingga kota/kabupaten. Kota difokuskan pada upaya antisipasi (pencegahan terjadinya bencana/ pandemi), mitigasi (pengurangan risiko bencana/pandemi), dan adaptasi (penyesuaian terhadap perubahan bencana/pandemi).

Oleh karena itu, selayaknya peta pengurangan risiko bencana/pandemic menjadi acuan pembangunan daerah dan jembatan agar sistem kota memiliki ketahanan, daya lenting, dan tangguh bencana/pandemi. Pengarusutamaan pengurangan risiko bencana/pandemi harus masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, rencana kerja perangkat daerah, serta rencana anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Sehingga program mitigasi bencana/pandemi dapat dilaksanakan setiap saat dibutuhkan. Kota harus mampu memperkirakan skenario dampak bencana/ pandemi di masa depan sehingga sistem pemerintahan dan tata kota lebih siap dan sigap. Pemerintah dapat melakukan antisipasi, berada di depan sebelum bencana/ pandemi terjadi. Pun, senantiasa bertindak adaptif sesuai kondisi dan potensi kelokalan. Tidak terlambat untuk menyusun rencana aksi mitigasi terhadap ancaman bencana/ pandemi yang mungkin akan terjadi.

Kota dirancang dengan skenario dalam kondisi terburuk. Bayangkan bila jaringan listrik padam, jalur telekomunikasi lumpuh, infrastruktur jalan terputus, ketiadaan air bersih.

Pendek kata, kota dalam keadaan lumpuh dan terisolasi. Kondisi setiap daerah tentu berbeda dan beragam dari sisi geologis, geografis, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup. Untuk itu, pemerintah dapat menetapkan karakter, tantangan, dan peluang yang tersedia di lokal.

Dengan pendekatan ekonomi yang inklusif, pemerintah dapat memperkuat perekonomian daerah tetap bisa bertahan saat terjadi bencana/pandemi. Pendekatan sosial budaya akan menciptakan masyarakat tangguh bencana/ pandemi. Pendekatan lingkungan akan memiliki ketahanan karena dukungan ekosistem yang lestari.

Kota sehat adalah asa kota di masa depan di mana anak-anak, orang tua, dan lansia dapat berjalan dengan aman dan nyaman. Kota yang masyarakatnya memiliki kebersamaan di ruang-ruang publik, saling bercanda menghabiskan waktu untuk keluarga, dan berdiskusi dalam memecahkan masalah di lingkungan.

Taman-taman kota memberikan nilai tambah untuk kenyamanan kota sekaligus menyeimbangkan kehidupan. Pandemi Covid-19 harus menjadi momentum untuk merencanakan kembali kota yang lebih baik secara fisik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kita harus membuat bumi semakin baik untuk semua orang sekaligus menuntaskan masalah pandemic Covid-19. Itulah hikmah puasa Ramadan dan lebaran di tengah pandemi.

*) Koordinator Peneliti Pusat Studi Perkotaan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN