Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri

Achmad Deni Daruri

Regulasi Usaha Kelapa Sawit yang Produktif

Kamis, 10 Juni 2021 | 19:45 WIB
Achmad Deni Daruri *)

Pesan Presiden Joko Widodo tahun lalu terkait kegiatan usaha kelapa sawit adalah memaksimalkan kemajuan teknologi, peremajaan perkebunan sawit rakyat, perluasan pasar ekspor, dan hilirisasi. Untuk itu diperlukan langkah cepat berupa regulasi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang harus lebih difokuskan kepada peningkatan produktivitas lahan d an daya saing.

Kementerian Pertanian harus segera merealisasikan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan dukungan pen danaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Target yang harus dicapai tahun 2021 ini adalah seluas 185 ribu hektare (ha). Apabila ada hambatan, harus segera diselesaikan.

Selanjutnya dengan masih tingginya potensi koreksi harga kelapa sawit pada tahun ini, dan dalam rangka untuk meningkatkan daya saing usaha kelapa sawit di Indonesia, maka pajak ekspor (pungutan ekspor) kelapa sawit sebaiknya segera dihapus hingga krisis akibat Covid-19 berakhir.

Oba do, Syaukat dan Siregar (2009) mengatakan bahwa dampak kebijakan pajak ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terhadap industri CPO Indonesia yang dinilai dengan metode 2 Stage Least Square, yang merupakan model ekonometrik, memperlihatkan bahwa pajak ekspor berhubungan negatif dengan luas tanaman kelapa sawit yang menghasilkan, produksi, ekspor, dan harga CPO dalam negeri. Sebaliknya, berhubungan positif dengan konsumsi dan stok CPO. Kebijakan pajak ekspor menguntungkan konsumen CPO dalam negeri.

Inti penelitian tersebut, kebijakan pajak ekspor mengurangi daya saing industri sawit Indonesia karena merugikan produsen CPO. Koreksi harga kelapa sawit tahun 2021 ini telah dikemukakan oleh berbagai pihak.

Harga produk pertanian secara umum telah meningkat secara substansial tahun ini, terutama untuk komoditas pangan, yang didorong oleh kekurangan pasokan di Amerika Selatan dan permintaan yang kuat dari Tiongkok. Namun, sebagian besar pasar komoditas pangan global masih cukup dipasok secara standar historis, dan harga diperkirakan akan stabil pada tahun 2022.

Meski harga komoditas pangan global masih stabil barubaru ini, bukti yang muncul terus mengonfirmasi bahwa pan demi Covid-19 berefek pada kerawanan pangan yang di perkirakan akan berlanjut hingga tahun 2022. Semakin ba nyak negara menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang terus meningkat, mem balikkan keuntungan pem ba ng u n an tahun- tahun sebelumnya.

Meskipun pasar komoditas pangan dipasok dengan baik secara global, pandemi Covid-19 telah sangat mempengaruhi tenaga kerja lokal dan pasar pangan di seluruh dunia. Termasuk mengu rangi pendapatan, mengganggu rantai pasokan, serta mengintensifkan masalah ketahanan pangan dan gizi yang hadir bahkan sebelum pandemi melanda.

Oleh karena itu, saat ini adalah waktu yang tepat bagi pembuat kebijakan untuk mengatasi sumber yang mendasari ketidakamanan pangan. Menurut Bank Duni, harga minyak sawit diper kirakan rata-rata pa da 2.800 ringgit Malaysia (US$ 694,9) per ton tahun ini, tertinggi sejak 2012, dibandingkan dengan RM 2.685/per ton tahun lalu.

Hal itu merupakan estimasi median dari jajak pendapat terhadap 18 analis dan pelaku industri. Bank Dunia memperkirakan bahwa harga minyak sawit pada tahun 2021 akan lebih bergejolak. Produksi minyak sawit di dua ne gara produsen teratas dunia diperkirakan akan pulih dan mendorong volatilitas harga tahun ini, yang kemungkinan akan mendo rong harga minyak sawit naik ke level tertinggi dalam sembilan tahun terakhir.

Harga minyak nabati utama, seperti minyak sawit dan minyak kedelai, menurut Konferensi Outlook Harga Minyak Lauric, ke mung kin an telah mencapai puncak tertinggi pada 2021, terangkat oleh serangkaian gangguan produksi, pemulihan konsumsi makanan dan prospek optimistis untuk permintaan biofuel.

Namun, pemulihan yang terhambat dalam produksi minyak sawit karena kekurangan tenaga kerja yang berkepanjangan di Malaysia, dan perlambatan produksi mi nyak kedelai di Tiongkok karena terhentinya pertumbuhan permintaan soymeal, akan mencegah harga minyak sawit turun terlalu tajam.

Di pasar berjangka, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada pertengahan Maret 2021 mencapai RM 4.000 (US$ 968,7) per ton, atau naik ke level tertinggi dalam 13 tahun terakhir (sejak tahun 2008). CPO diperdagangkan dengan rata-rata RM 3.638 (US$ 883,0) per ton sepanjang tahun ini, meningkat dari rata-rata RM 2.700 per ton tahun 2020.

Harga kelapa sawit berada dalam kondisi “balon”, dan “balon”, demikian menurut ketua konsul tan komoditas LMC International. Ia memperkirakan minyak sawit berjangka Malaysia akan turun menjadi RM 3.300 (US$ 799,22) per ton pada akhir tahun 2021.

Ia juga memperkirakan harga CPO ber tahan di level RM 3.300 per ton hingga Juni 2021, sebelum men capai level RM 2.700 (US$ 653,91) per ton sekitar bulan September 2021.

Persediaan minyak sawit Malaysia pada akhir 2021 diproyeksikan Dewan Minyak Sawit Malaysia ((Malaysian Palm Oil Board/MPOB) terus menurun dalam tiga tahun terakhir, menjadi sekitar 1,12 juta ton.

Stok minnyak sawit di produsen terbesar kedua di dunia itu turun menjadi 1,27 juta ton tahun lalu karena kombinasi tantangan tenaga kerja dan logistik yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, dan karena kondisi cua ca hujan yang disebabkan oleh La-Nina yang mengganggu hasil panen.

MPOB mengharapkan pemulih an yang moderat dalam ekspor dan produksi tahun ini, dan memproyeksikan stok cenderung di bawah 1,5 juta ton sepanjang tahun ini. Harga CPO diperkirakan akan tetap kuat di tengah kekhawatiran pasokan karena hujan lebat pada Januari dan Februari berdampak pada produksi.

Chief Execu tiveOf ficer Dewan Minyak Sawit Malaysia memperkirakan harga minyak sawit mentah Malaysia diproyeksikan rata-rata RM 3.846 (US$ 928,9) per ton selama paruh per tama tahun ini.

Harga CPO akan berada dalam rentang level te rendah RM 3.502 per ton dan level puncakpada RM 4.190 per ton. Harga minyak nabati termurah dan paling banyak digunakan di dunia ini rata-rata RM 2.700 (US$ 655,3) per ton tahun 2020. Meski begitu, MPOB mempertahankan proyeksi harga minyak sawit mentah tahun 2021 pada rata-rata RM 3.000 (US$ 724,6) per ton.

Dalam konteks kegiatan usaha kelapa sawit di Indonesia, regulasi yang berkaitan dengan sektor ini adalah mencakup pedoman penetapan har ga pembelian tandan buah segar kelapa sawit produksi pekebun, pedoman peremajaan ta naman kelapa sawit pekebun, pengembangan sumber daya ma nusia, hingga bantuan sarana dan prasarana dalam rangka pen danaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Regulasi terkait meliputi ekosistem gambut, badan restorasi gambut, peremajaan kebun ke lapa sawit, integrasi sawit dengan sapi potong, perizinan usaha perkebunan, pemanfaatan lahan gambut, hingga revitalisasi perkebunan dan pajak (pungutan) ekspor.

Eksplorasi peraturan Pemerintah Republik Indonesia terkait dengan kegiatan usaha sek tor kelapa sawit Indonesia pada hakikatnya harus selalu terkait dengan peningkatan usaha kelapa sawit yang semakin produktif.

Namun, dalam era pandemi Covid-19 saat ini, di mana terjadi gangguan pada sisi permintaan dan penawaran CPO, maka relevansi dalam jangka pendek untuk mendu kung perintah Presiden Joko Widodo adalah peremajaan perkebunan kelapa sawit dan penghapusan pajak ekspor kelapa sawit.

Dengan permintaan yang belum pulih dan dalam rangka menjaga tidak terjadi kelebihan pasokan mi nyak sawit di era pandemic Co vid-19, maka peremajaan perkebunan kelapa sawit merupakan pilihan yang paling logis. Dari sisi harga CPO yang berfluktuatif dengan tekanan harga yang kemungkinan besar juga belum akan hilang, maka peningkatan produktivitas kelapa sawit harus cepat dilakukan dalam jangka pen dek melalui instrumen harga.

Yang paling cepat dapat dilakukan adalah dengan menghapus pajak ekspor CPO, sehingga daya saing produsen CPO meningkat. Perintah Presiden Jokowi memang tepat, regulasi harus diarah kan untuk meningkatkan produk tivitas usaha kelapa sawit, di tengah ancaman ketidakpastian akibat krisis Covid-19 yang akan mempengaruhi produksi dan harga kelapa sawit.

*) President Director Center for Banking Crisis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN