Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Nur Hidayat

Achmad Nur Hidayat

Resesi dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Rabu, 12 Agustus 2020 | 11:33 WIB
Achmad Nur Hidayat MPP *)

Resesi sudah terjadi di Indonesia jika berdasarkan fakta PDB quarter to quarter (kuartal ke kuartal)_dan fakta yang dirasakan publik sampai kuartal II-2020. Namun, Tim Ekonomi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani membantah Indonesia sudah resesi pada kuartal II-2020 dengan berdasarkan hasil rilis BPS yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia -5,32% (yoy) baru terjadi.

Alasan belum resesi menggunakan terminology resesi yang diukur dari penurunan ekonomi dua kuartal berturut-turut yang diukur dari perbandingan year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2020 adalah 2,97% (yoy) dan kuartal II-2002 adalah -5,32% (yoy).

Namun, konsensus dunia menyatakan bahwa: Economic recessionis a period of time when a nation’s GDP declines for at least two consecutive quarters in a quarter-toquarter comparison.

Bila kita membandingkan kuartal ke kuartal maka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 adalah -2,41% (qoq) dan kuartal II-2020 adalah -4,2% (qoq).

Tulisan Prof Anthony Budiawan (Judul: Meluruskan Simpang Siur Resesi) dan Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier (Judul: Kembalilah ke Jalan Lurus dan Benar: Indonesia Resesi) mencoba meluruskan bahwa definisi resesi yang diukur dari penurunan ekonomi dua kuartal berturut-turut tidak lah tepat dan tidak best practice.

Sebaliknya, berdasarkan perbandingan PDB kuartal ke kuartal, Indonesia sudah mengalami resesi teknikal sejak Juni atau kuartal II-2020.

Memahami Resesi

Biro Riset Ekonomi Nasional Amerika Serikat yang dikenal dengan NBER, menyatakan secara resmi bahwa definisi resesi melalui penurunan PDB riil selama dua kuartal berturut-turut tidak dinyatakan lagi (NBER, 7 Januari 2008).

NBER mendefinisikan resesi sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh ekonomi, berlangsung lebih dari beberapa bulan, biasanya terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.

Jadi, resesi bukan soal angka-angka PDB namun resesi adalah penurunan ekonomi yang dirasakan masyarakat secara luas dalam beberapa waktu tertentu.

Data Penjualan Eceran

Ukuran yang dirasakan oleh publik adalah pendapatan riil, ketersediaan lapangan pekerjaan, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.

Beberapa indikator dini permintaan domestik menunjukkan pelemahan seperti tercermin pada penjualan ritel, Purchasing Manager Index, ekspektasi konsumen, dan berbagai indikator domestik lain.

Data penjualan eceran mengalami penurunan -17,4% per Juni 2020. Penurunan eceran terutama terjadi pada belanja sandang, peralatan informasi dan komunikasi, makanan, minuman dan tembakau serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Penurunan tajam penjualan eceran terjadi sejak Januari 2020 sampai April 2020 seiring dengan perberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Seiring dengan relaksasi PSBB, penjualan eceran masih terlihat landai bahkan sampai Juni 2020. Penurunan sandang (-73,1% yoy), peralatan informasi dan komunikasi (-21,1% yoy), penurunan perlengkapan rumah tangga lainnya turun -18,6% dan makanan, minuman dan tembakau turun -6,9% pada akhir Juni 2020.

Data Purchasing Manager Index

Optimisme pelaku usaha yang tercermin pada purchasing manager index nyatanya sampai Juni 2020 masih dibawah 50. Akhir Juni 2020 tercatat PMI 39,1%, jauh di bawah rata-ratanya 50. Penurunan tajam terjadi sejak Februari 2020 seiring dengan pemberlakuan PSBB.

Ekspektasi pelaku ekonomi juga terlihat rendah. Data Indeks Ekspektasi Ekonomi dari Bank Indonesia dan Danareksa menunjukkan hal yang sama. Penurunan terjadi sejak kuartal I dan kuartal II-2020.

Data Indeks Ekspektasi Ekonomi

Melihat data-data penjualan eceran, optimisme pelaku usaha dan ekspektasi pelaku ekonomi berdasarkan definisi NBER tersebut, resesi ekonomi di Indonesia sudah dirasakan publik.

Jika ada dua fakta, yaitu pertama, fakta resesi teknikal yang diukur dari perbandingan PDB kuartal ke kuartal bahwa sudah terjadi penurunan berturut-turut di kuartal I dan II-2020, dan fakta kedua data yang dirasakan pelaku usaha berupa penjualan eceran, purchasing manager indeks dan indeks ekspektasi ekonomi yang ketiganya menunjukkan penurunan bersamaan dalam kuartal pertama dan kuartal kedua, maka resesi sudah benar-benar terjadi.

Pengambil kebijakan harus menjadikan momentum ini untuk kontemplasi diri karena keterlambatan daya serap belanja pemerintah merupakan salah satu penyebab resesi ini terjadi.

Memang selama kuartal pertama dan kedua, belanja negara sangat kecil dan di bawah ekspektasi publik. Pemerintah harus evaluasi sungguh-sungguh kemampuan daya serapnya. Bukan saatnya membantah, namun sekarang yang diperlukan kerja, yaitu bagaimana resesi berhenti di kuartal III dan IV-2020.

Caranya, salah satunya mempercepat belanja fiskal, penurunan lebih cepat dari suku bunga bank pelat merah/ BUMN, dan memperbesar bantuan sosial tunai kepada mereka yang membutuhkan.

Pemulihan Ekonomi Nasional jangan lagi wacana, publik menunggu efektivitas PEN yang dibuktikan dari pertumbuhan ekonomi kuartal III yang tidak negatif. Dengan begitu, semoga resesi segera berakhir.  

*) Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN