Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Abdul Manap Pulungan, Ekonom Indef

Abdul Manap Pulungan, Ekonom Indef

Revolusi Industri 4.0, Covid-19, dan Sektor Ketenagakerjaan

Senin, 27 Juli 2020 | 20:16 WIB
Abdul Manap Pulungan *)

Sektor ketenagakerjaan terus menerus mendapat tekanan. Sebelum Covid-19 menyerang, pengaruh revolusi industri 4.0 telah mengancam pekerja di berbagai lapangan usaha. World Economic Forum (WEF) mencatat sekitar 7,1 juta tenaga kerja berpotensi kehilangan mata pencaharian pada 2020.

Walaupun demikian, peluang terciptanya pekerjaan baru, terbuka bagi 2,1 juta pekerja di bidang komputer, matematika, arsitektur, dan teknik.

Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, ancaman revolusi industri 4.0 sangat terasa, khususnya bagi sektor industri pengolahan.

Mengingat, sebagian besar bertumpu pada penggunaan tenaga manusia (padat karya). Porsi tenaga kerja di sektor padat karya mencapai 60% dari total tenaga kerja di industri manufaktur.

Covid-19 lebih ganas. Yang dihajar tidak pandang bulu, baik pe kerja formal maupun informal. International Labour Organization (ILO) memprediksi 25 juta pekerjaan terancam Covid-19. Tambahan pengangguran tersebut setara dengan kehilangan pendapatan sekitar US$ 3,4 triliun.

ILO menjelaskan lockdown memengaruhi 2,7 miliar pekerja atau 4 dari 5 pekerja di dunia. Sepanjang April-Juni, jam kerja di dunia turun sekitar 6,7%.

Empat sektor yang paling terdampak Covid-19 terbesar adalah makanan dan penginapan; penjual eceran dan grosir, bisnis pelayanan dan administrasi, serta manufaktur.

Sebanyak 37,5% pekerja global menggantungkan kehidupannya pada empat sektor tersebut. Sebelum Covid-19 melumpuhkan ekonomi dunia, ILO mencatat peng angguran dunia mencapai 190 juta. ILO mengkhawatirkan kondisi ke tenagakerjaan dunia semakin memburuk, terutama karena serangan Covid-19 melumpuhkan sektor informal.

Pekerja di sektor tersebut akan kehilangan pendapatan harian dan di sebagian negara mereka ti dak masuk di dalam program perlin dungan tenaga kerja (unemployment benefits). Ada sekitar 2 miliar pen duduk dunia yang bekerja di sektor informal (67%) dan sebagian be sar berada di negara-negara berkembang.

Ketenagakerjaan Nasional Tidak Imun

Lantas, bagaimana dampak dua peristiwa tersebut terhadap ketenagakerjaan di Indonesia? Dampak revolusi industri 4.0 dapat dilihat dari pergerakan data ketenagakerjaan di sektor industri pengolahan. Sebagaimana disebutkan di atas, penggunaan tenaga kerja di sektor manufaktur cukup besar dibandingkan dengan mesin atau kombinasinya.

Dari segi jumlah tenaga kerja di sektor industri, terlihat peningkatan dari 17,09 juta (Februari 2017) menjadi 18,46 juta (Februari 2020). Penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut tumbuh rata-rata 2,62% per tahun.

Namun, dari sisi pertumbuhan tahunan, penyerapan tersebut cenderung menurun. Pada Februari 2018, penyerapan tenaga kerja sektor industri naik 4,86% (yoy), sedangkan pada 2019 dan 2020 masing-masing tumbuh 1,73% (yoy) dan 1,26% (yoy).

Dari sisi porsi tenaga kerja industri terhadap total tenaga kerja nasional, juga terjadi penurunan, dari 14,17% pada Februari 2017 menjadi 14,09% pada Februari 2020.

Data lain yang perlu diperhatikan adalah perkembangan penyerapan tenaga kerja pada industri padat karya. Kementerian Perindustrian (2003) menetapkan dua syarat industri yang masuk kategori padat karya, yaitu: (i) mempekerjakan minimal 200 orang tenaga kerja; dan (ii) porsi biaya tenaga kerja terhadap biaya produksi minimal 15%. Industri- industri yang termasuk pada kelompok padat karya seperti industri makanan, minuman, dan tembakau; industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit dan barang kulit; industri alas kaki; industri mainan anak; dan industri furnitur.

Tahun ini, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) merevisi target pertumbuhan industrinya menjadi negatif 1,3% (yoy) dari posisi 3,5%. Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) juga mengikuti hal serupa, dengan mengoreksi tipis pertumbuhan kinerja tahun 2020 menjadi 8-9% dari 10%. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minum Indonesia (Gapmi) hanya menargetkan pertumbuhan 4-5% dari 8-9% pada target awal.

Sepanjang 2015-2019 (data Agustus), penyerapan tenaga kerja industri padat karya rata-rata tumbuh 5,7% per tahun. Sayangnya, pertumbuhan tahunan terus melambat. Pada 2016, penyerapan tenaga kerja industri padat karya tumbuh 4,9% (yoy); dan melonjak hingga 10,8% (yoy) pada 2017.

Sementara itu, pada 2018 dan 2019 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja masing-masing 3,42% (yoy) dan 3,67% (yoy). Dari individu industri, salah satu sektor yang penyerapan tenaga kerjanya terus menurun adalah industri pengolahan tembakau, rata-rata turun 10 ribu tenaga kerja per tahun atau 0,34%.

Sementara itu dampak Covid-19 di Indonesia belum terekam pada data kondisi ketenagakerjaan Februari 2020, karena menyajikan data enam bulan sebelumnya. Rekaman Covid-19 pada data pengangguran terlihat pada data Agustus, yang akan dirilis pada November tahun ini.

Berbagai publikasi dari lembaga kajian, menyimpulkan bahwa lonjakan pengangguran bergerak pada kisaran 3,5-5 juta. Tentu dengan skenario ringan, sedang, hingga berat. Hal tersebut menyebabkan total pengangguran di Indonesia bisa menembus sekitar 10-12 juta. Dari total tersebut, pengangguran nasional bisa bergerak di level 5-8% tahun ini.

Sementara itu, data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan 1,03 juta pekerja dirumahkan dan 377.249 di PHK. Pekerja informal yang terdampak Covid-19 mencapai 316.976 orang.

Sebanyak 41 ribu perusahaan mem-PHK karyawan dan 44 ribu lainnya merumahkan. Pemerintah mengalkulasi bahwa tambahan pengangguran mencapai 4,2 juta tahun ini; dari posisi 6,88 juta pada Februari lalu.

Dalam jangka pendek, ada beberapa kondisi yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pertama, pemerintah perlu mempercepat realisasi stimulus fiskal dan nonfiskal untuk membantu sektor industri, terutama padat karya.

Beberapa stimulus tersebut seperti penurunan harga listrik, minyak, dan gas untuk industri. Hal ini cukup logis karena koreksi harga minyak dunia sempat menyentuh level terendah dalam beberapa tahun teakhir.

Kedua, antisipasi lonjakan pengangguran dari pekerja migran yang habis kontrak mencapai 34.400 orang (dari 54 negara) serta merumuskan strategi untuk menghindari terjerumusnya pekerja tidak penuh (1-34 jam) menjadi pengangguran terbuka. Pekerja tidak penuh mencapai 40 juta orang atau 30% dari tenaga kerja nasional.

Ketiga, pemerintah perlu memikirkan bagaimana mengelola sektor informal ke depan, bukan hanya fokus pada pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT). Saat inilah waktunya pemerintah memperbaiki tata kelola sektor informal, agar berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

*) Ekonom Inde

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN