Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Saham Gorengan atau Goreng Saham?

Selasa, 14 Januari 2020 | 11:33 WIB
Hamdi Hassyarbaini *)

Akhir-akhir ini, setelah merebaknya kasus Jiwasraya, masyarakat Indonesia khususnya investor pasar modal dihebohkan oleh istilah saham gorengan. Pertanyaan yang mungkin muncul di benak masyarakat adalah, apakah saham gorengan itu ada dan kalau memang ada bagaimana wujudnya?

Saya mencoba mencari istilah saham gorengan di berbagai sumber referensi, mulai dari Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) sampai ke seluruh peraturan turunannya, namun tidak ada satu peraturanpun yang menyebutkan istilah saham gorengan.

Lalu, saya meneruskan pencarian guna menemukan padanan istilah saham gorengan ke sumber-sumber luar negeri, antara lain Securities and Exchange Commission (SEC), otoritas pasar modal Amerika Serikat, yang selama ini menjadi salah satu rujukan otoritas pasar modal berbagai negara termasuk Indonesia, dan International Organization of Exchange Commission (IOSCO), yang merupakan perkumpulan otoritas pasar modal dunia.

Saya juga tidak menemukan padanan istilah saham gorengan di peraturan dan publikasi lain yang dikeluarkan oleh kedua lembaga tersebut.

Kalau tidak ada satupun peraturan atau publikasi dari otoritas pasar modal yang menyebutkan istilah saham gorengan, lalu dari mana munculnya istilah tersebut? Kemungkinan besar, istilah itu diciptakan oleh para investor pasar modal sendiri untuk mendeskripsikan saham-saham yang pergerakan harganya di luar kewajaran, bisa naik atau turun secara tiba-tiba dengan persentase yang signifikan tanpa didukung oleh informasi yang memadai tentang saham tersebut. Namun, pertanyaan yang masih perlu dijawab adalah, bagaimana wujud saham gorengan tersebut?

Beberapa pihak termasuk media khususnya media online mencoba membuat deskripsi mengenai saham gorengan. Namun, tentu saja deskripsi yang dibuat hanya berdasarkan persepsi masing-masing.

Ada yang mengatakan bahwa saham gorengan adalah saham yang berkapitalisasi kecil, atau saham yang harganya murah (malah ada yang berani mengatakan harganya di bawah Rp 1.000), atau yang kepemilikan publiknya sedikit, saham yang berasal dari lapis kedua atau ketiga. Bahkan ada yang berani menunjuk saham yang baru IPO dan harganya naik signifikan.

Itu semua merupakan deskripsi subjektif, tak ubahnya seperti cerita tiga orang buta yang mencoba mendeskripsikan seekor gajah. Penilaian subjektif ini tentu saja dapat merugikan pihak-pihak tertentu, khususnya perusahaan-perusahaan yang sahamnya masuk ke dalam kategori tersebut. Nanti akan timbul persepsi di masyarakat bahwa saham yang kapitalisasinya kecil atau yang harganya murah (misalnya di bawah Rp 1.000) pasti saham gorengan, atau saham yang baru IPO pasti digoreng.

Hal yang terakhir ini sudah menjadi persepsi di beberapa komunitas investor, sehingga mereka cenderung menghindari saham-saham IPO karena diduga pasti digoreng.

Kalau persepsi keliru ini terus berlangsung tentu saja dapat menghambat perkembangan pasar modal Indonesia. Khususnya dalam upaya mendorong perusahaan-perusahaan untuk mencari pendanaan dari pasar modal dengan menjual sahamnya kepada public melalui proses IPO.

Kembali kepada pertanyaan yang ada pada awal tulisan ini, apakah saham gorengan itu ada? Pada dasarnya semua saham bisa digoreng dan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggoreng atau menggerakkan harga suatu saham. Bukan tidak mungkin saham berkapitalisasi besar atau big cap juga digoreng oleh pihak tertentu. Penggorengan terang-terangan biasanya terjadi pada hari terakhir perdagangan menjelang tutup tahun, berupa upaya mempercantik diri atau lazim dikenal dengan istilah window dressing.

Banyak pihak yang berkepentingan melakukan ini dengan tujuan yang kurang lebih sama: manajer investasi ingin nilai aktiva bersih (NAB) produk reksa dananya tinggi saat penutupan tahun, pengurus dana pensiun ingin menunjukkan rapor yang bagus berupa hasil investasi yang “tinggi” supaya dapat bonus yang besar, emiten ingin harga sahamnya tampil cantik saat penutupan tahun.

Entah karena merebaknya kasus Jiwasraya atau tidak, upaya window dressing tidak begitu terlihat pada hari penutupan perdagangan tahun 2019, di mana IHSG malah berada di zona merah. Contoh lain, dulu sebelum Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan mekanisme pre-closing, pada detik-detik terakhir jam perdagangan ada saja pihak yang sengaja menaikkan atau menurunkan harga suatu saham dengan melakukan transaksi dalam jumlah kecil, misalnya 1 atau 2 lot saja.

Tujuannya semata-mata untuk membuat harga penutupan baru yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada harga sebelumnya atau lazim dikenal dengan istilah marking the close. Pelakunya, lagi-lagi, kemungkinan besar manajer investasi yang ingin NAB reksa dananya tinggi pada hari itu atau bandar yang sedang dalam “program” menaikkan atau menurunkan harga suatu saham. Namun dengan penerapan mekanisme pre-closing, modus ini tidak lagi atau kecil kemungkinannya bisa dilakukan.

Jadi, adalah suatu keniscayaan mengatakan bahwa hanya saham kecil yang bisa digoreng. Besar kecilnya saham yang digoreng tentu saja tergantung pada kekuatan modal pihak penggoreng atau di pasar lebih popular dengan sebutan bandar.

Untuk menggoreng saham berkapitalisasi besar atau big cap tentu saja membutuhkan modal yang besar. Bandar yang bermodal kecil tentu saja hanya mampu menggoreng saham-saham yang berharga murah. Padahal di luar sana ada banyak manajer investasi yang dana kelolaannya barangkali jauh lebih besar dari nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia.

Bagi mereka tidaklah sulit untuk menggerakkan harga saham-saham Indonesia, termasuk saham-saham big cap. Barangkali di antara pembaca pernah dibuat bingung saat menyaksikan harga suatu saham big cap tiba-tiba terjun, sementara IHSG dalam tren naik, tanpa adanya informasi negatif terkait saham tersebut.

Kasus lain, pada tahun 2008 sekelompok sekuritas asing diduga menjadi penyebab kejatuhan IHSG dengan melakukan transaksi short selling, walaupun pada akhirnya dugaan tersebut sulit dibuktikan.

Dalam konteks pengawasan pasar, otoritas pasar modal manapun di dunia tidak berfokus pada objek, dalam hal ini sahamnya, melainkan pada tindakan menggorengnya atau dalam bahasa peraturan dikenal dengan istilah manipulasi pasar atau market manipulation.

Hal ini juga menjadi pesan Presiden Jokowi saat pembukaan perdagangan pertama tanggal 2 Januari 2020 di BEI agar semua pihak menghentikan praktik menggoreng saham atau manipulasi pasar di pasar modal Indonesia.

Manipulasi pasar adalah tindak pidana dan sudah jelas diatur dalam UUPM yaitu di pasal 91 dan 92, yang secara umum menyatakan bahwa setiap pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek; menaikkan harga efek yang seharusnya tidak naik, menurunkan harga efek yang seharusnya tidak turun, atau bahkan mempertahankan harga suatu efek sekalipun.

Tindakan apapun yang memenuhi kriteria yang dimaksud UUPM tersebut merupakan manipulasi pasar. Jadi, bagi investor, dari pada pusing memilah saham mana yang gorengan mana yang bukan, lebih baik fokus saja pada pola transaksi suatu saham, apakah wajar atau tidak.

BEI sebetulnya sudah turut membantu investor dengan menerbitkan pengumuman UMA (unusual market activity) atas saham-saham yang aktivitas atau pergerakan harganya di luar kebiasaan.

Investor hendaknya berhati-hati bertransaksi atas saham-saham tersebut, karena bisa jadi saham tersebut sedang digoreng. Pada tulisan berikutnya saya akan mengupas modus atau teknik-teknik yang biasanya digunakan oleh para bandar dalam menggoreng saham.

*) Penulis adalah Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-201

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN