Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan
globalisasi.

Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

Sengkarut Jagung: The Devil are in The Details

Kamis, 28 Oktober 2021 | 18:11 WIB
Khudori *)

Kita cukup sering mendengar idiom The Devils are in The Details. Ungkapan ini menggambarkan bahwa detail yang terlihat kecil dan sederhana bisa sangat berpengaruh terhadap hal yang lebih besar. Detail, yang bagi orang yang biasa berpikir makro selalu dihindari, justru menjadi sesuatu yang sangat penting. Betapa detail itu penting juga terjadi pada komoditas jagung.

Sengkarut jagung yang terjadi hari-hari ini adalah cermin betapa para otoritas abai terhadap detail. Ini menyangkut detail ane ka jenis jagung, ragam kadar air jagung, di mana jagung itu disimpan, dan milik siapa, serta penyediaan data.

Bagi yang belum tahu, kadar air jagung itu beragam. Jagung yang baru dipanen kadar air pipilannya biasanya tinggi, berkisar 28-30%. Jagung dengan kadar air sebesar ini tak bisa langsung di buat bahan pakan ternak. Karena itu, detail pengetahuan kadar air jagung jadi penting.

Ketika bertemu perwakilan peternak, 15 September 2021, Pre siden Joko Widodo meminta dua pembantunya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Perdagangan M Lutfi, menyediakan 30 ribu ton jagung seharga Rp 4.500/kg buat peternak telur ayam di Blitar. Yang dipahami peternak tentu jagung berkadar air 14%.

Mengapa? Karena jagung berkadar air demikian bisa langsung diolah jadi bahan campuran pa kan. Kepada peternak, Presiden berjanji menyelesaikan masalah jagung dalam seminggu. Seminggu berlalu, alih-alih selesai, dua menteri justru terlibat saling bantah di ranah publik. Bukan hanya itu. Bantuan jagung atas nama Presiden itu pun kini membelah rakyat di level bawah: peternak daging dan telur ayam versus petani jagung. Pangkal masalah nya, peternak mendapatkan kiriman jagung berkadar air 25-29%.

Berikutnya, jagung di pasar juga bukan satu jenis. Karena itu, detail jenis jagung menjadi penting. Karena tidak semua jagung bisa untuk pakan ternak.

Selain untuk pakan (ternak), ada jagung industri (untuk tepung mai zena), dan jagung konsumsi (jagung pulut, jagung manis, dan sebagainya). Kementerian Pertanian mengklaim, saat ini stok jagung mencapai 2,3 juta ton. Apakah jagung itu semua bisa untuk pakan? Atau termasuk jagung konsumsi dan untuk industri? Apakah semua jagung itu berkadar air sekitar 14%?

Menurut Kementerian Pertanian, jagung berjumlah 2,3 juta ton itu tersebar di tangan sejumlah pihak. Sebanyak 31% di gudang pabrik pakan, 32% di pengepul, 18% di agen, sisanya di usaha lain hingga eceran rumah tangga.

Akan tetapi, data ini belum juga lengkap. Masih perlu penjelasan detail. Terutama rincian alamat gudang penyimpanan, berapa harganya, dan apa jenis jagungnya.

Yang paling penting: jagung itu milik siapa? Kalau sudah di gudang pabrik pakan, pengepul, dan agen itu berarti di tangan pembeli. Bagaimana cara pemerintah memobilisasi jagung yang sudah ada di tangan pihak lain?

Saat ini ada 110 unit pabrik pakan dengan kapasitas produksi 29 ,6 juta ton/tahun. Sebagian besar, persisnya 81 unit (73,6%), berada di Jawa. Sisanya di Sumate ra 19 unit (17,2%), Sulawesi 7 (6,3%), dan Kalimantan 3 (2,7%).

Masalahnya, produksi jagung terpusat di beberapa provinsi, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tiga provinsi ini menyumbang 66% dari produksi jagung nasional. Karena produksi di Jawa tak cukup, pabrik pakan di Jawa memerlukan pasokan jagung dari luar pulau. Seringkali jagung di luar Jawa terpencar dalam jumlah kecil-kecil. Ini membuat biaya angkut mahal.

Selain terpusat, produksi ja gung bersifat musiman. Produksi ter tinggi terjadi pada Ja nuari-Maret. Pada 3 bulan ini produksi melimpah: produksi melebihi ke butuhan. Pada 9 bu lan berikut nya, produksi jagung tetap ada dengan volume menurun. Selama 9 bulan ini terjadi defisit alias produksi tidak mampu menutupi kebutuhan.

Ilustrasi Jagung
Ilustrasi Jagung

Di sisi lain, kebutuh an jagung untuk pakan relatif te tap: 859.500 ton/bulan. Jumlah itu terbagi 787.500 ton/bulan buat pabrik pakan dan 72 ribu ton untuk peternak petelur ayam mandiri atau layer. Kalkulasi Kementerian Pertanian menyebutkan, hingga akhir 2021 diperkirakan ada sur plus jagung 2,045 juta ton.

Masalahnya, surplus tidak terjadi sepanjang tahun, tapi hanya 3 bulan. Karena produksi musiman, sementara kebutuhan ber sifat tetap, mau tidak mau diperlukan silo-silo untuk menampung jagung saat produksi berlimpah.

Stok jagung ini dikeluarkan saat paceklik. Menjadi masalah karena kapasitas silo pabrik pakan relatif ter batas: hanya 1,738 juta ton (Desianto, 2021). Kapasitas silo ini masih belum memadai, terutama un tuk menjamin kontinuitas pasokan jagung buat pakan secara berkelanjutan.

Uraian detail-detail ini masih bisa diperpanjang. Tetapi itu tidak perlu. Uraian ini lebih dari cukup untuk memberikan gambaran bah wa ada segepok detail-detail yang harus diakrabi agar sengkarut jagung bisa berbuah solusi.

Diakui atau tidak, sengkarut ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Mengapa selalu berulang dan seolah lingkaran setan yang tidak berujung (vicious cycle)?

Salah satunya karena keengganan para pemangku kepen tingan untuk menyentuh hal-hal detail. Tanpa mau menyentuh hal-hal detail, jangan berharap karut marut jagung yang sudah menahun bakal bisa diurai satu per satu.

Ujung dari detail-detail ini, diakui atau tidak, semua bermuara pada kredibilitas data. Data produksi jagung diduga tidak akurat. Ini karena aku rasi metode pengumpulan data produksi jagung sulit diuji se cara statistik. Hampir bisa dipastikan, data produksi dilaporkan melebihi produksi yang sesungguhnya.

Sebagai pemilik program dan pengumpul data, Kementerian Pertanian berkepentingan untuk “menja ga” produksi tetap bagus. Ada konflik kepentingan yang berujung pada laporan “asal bapak senang”.

Agar ABS ini tak berlanjut, pengumpulan data harus diserahkan pada pihak independen: BPS. *) Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi. Telah menghasilkan lebih 1200 artikel/ working paper, menulis 8 buku, dan mengeditori 17 buku.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN