Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Seni dan Peradaban Kota

Rabu, 7 Agustus 2019 | 23:48 WIB
Nirwono Joga

Pembongkaran instalasi seni berbahan bambu “Getih Getah” karya seniman Joko Avianto di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) menjadi pelajaran berharga bagi Jakarta. Menempatkan karya seni di ruang publik kota harus dilakukan secara hati-hati dan penuh pertimbangan matang. Apalagi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana untuk memajang lebih banyak lagi instalasi seni di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin.

Kota berseni menandakan peradaban kota. Semakin berseni semakin beradab kotanya. Sejumlah kawasan utama ruang publik di pusat kota sebaiknya berhias artistik, sengaja disulap menjadi galeri seni kontemporer yang bebas dinikmati publik. Ruang publik dapat menjelma menjadi galeri ruang luar yang efektif untuk menghadirkan efek sejuk jiwa dari karya seni, serta memiliki pesan untuk disampaikan dan menginspirasi bagi masyarakat.

Menghadirkan sebuah karya seni di ruang publik kota tentu memiliki persyaratan ketat, terutama menyelaraskan dengan aturan tata ruang kota dan menyesuaikan dengan kebutuhan warga. Lalu apa yang harus dilakukan?

Pertama, pemerintah daerah harus menyusun rencana induk penataan ruang publik yang memuat aturan main dan ketentuan baku perencanaan, penataan, dan pemanfaatan ruang publik kota. Panduan ini menjadi pegangan seluruh pihak dan pemangku kepentingan, termasuk untuk memilih dan menempatkan karya seni di ruang publik kota.

Dalam konteks kota, perlu dipetakan titik-titik lokasi mana saja yang memerlukan galeri di ruang dalam atau ruang terbuka, jenis karya seni apa yang tepat ditempatkan di kawasan pusat kota, apakah bersifat sementara (3, 6, 12 bulan atau selama kegiatan tertentu berlangsung) atau permanen, menetap, atau selamanya, serta melibatkan pakar dan institusi seni.

Kedua, tidak semua wilayah kota harus dipasangi instalasi karya seni. Karya seni di ruang public yang terlalu banyak dan berlebihan justru bisa menimbulkan rasa jenuh bagi masyarakat yang melihatnya. Penempatan instalasi seni di ruang publik harus dilakukan secara hatihati, kontekstual dengan lingkungan sekitar, dan tidak melanggar rencana tata ruang kota.

Untuk itu perlu pengkajian yang mendalam, tidak serampangan, tidak asal ikut tren, dan melalui pertimbangan matang (sosial budaya, adab sopan santun ketimuran, dan sensitivitas keagamaan). Proses pengkajian mencakup aspek teknis, titik-titik lokasi mana saja yang perlu dipasangi karya seni, seberapa besar dimensi ukuran dan luas lahan yang dibutuhkan, jenis karya seni apa yang sesuai ditempatkan di situ, serta berupa patung atau gambar mural.

Ketiga, kota harus mampu menata seni di ruang publik dengan baik, sebab bisa meningkatkan peradaban kota. Kota-kota yang memiliki peradaban tingga ditandai dengan kehadiran karya-karya seni yang tertata baik. Karya seni di ruang public dapat menciptakan atmosfer baru pada suatu lingkungan dan memberi energi positif bagi kota dan kita. Jiwa dan nilai estetika dari masyarakat kota akan tumbuh dan terasah.

Pasar rakyat, terminal bus, stasiun kereta, jembatan penyeberangan orang, trotoar, hingga taman kota adalah ruang-ruang publik ideal untuk menempatkan instalasi seni sekaligus dekat langsung bersentuhan dengan masyarakat sebagai penikmat utama karya seni. Pasar, terminal, dan stasiun yang ditata dan dihiasi seni mural yang artistik akan membuat suasana ruang menjadi semarak, bersih, dan tak kumuh. Masyarakat dapat menikmati sesuatu yang berbeda perpaduan warna, komposisi, dan bentuk karya seni.

Keempat, keberadaan karya seni di ruang publik kota sejatinya sangat penting. Setiap hari masyarakat kota harus menghadapi beragam sumber stres seperti kemacetan lalu lintas, tingkat polusi udara, dan kebisingan yang memekakkan telinga. Hal itu membuat kondisi kesehatan fisik maupun jiwa pada posisi sangat rentan.

Kondisi lingkungan yang semrawut dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti jantung dan darah tinggi. Tingkat stres yang tinggi pada lingkungan perkotaan juga berdampak meningkatkan agresivitas serta gangguan jiwa lain seperti psikosomatis. Pada kondisi ini diperlukan upaya intervensi dengan menyediakan semacam “penawar” berupa hiburan, secara visual, lewat beragam karya seni di ruang publik. Kehadiran karya seni di ruang publik akan sangat berguna sebagai cara dan sarana melepas kepenatan. Penempatan karya seni di ruang publik kota yang hiruk pikuk bisa menjadi oase penyejuk bagi jiwa-jiwa kehidupan masyarakat urban, terutama di tengah tekanan berbagai aktivitas kesibukan sehari-hari.

Sentuhan seni yang memberikan nuansa segar dan hiburan dapat membahagiakan masyarakat kota. Dengan bahagia, mereka diharapkan menjadi lebih kreatif, inovatif, dan produktif, bisa terinspirasi dan lebih apresiatif terhadap karya seni, serta membangun interaksi kesalingterhubungan dan kerukunan antarmasyarakat kota.

Pada akhirnya, semua orang bisa bebas menikmati seni di ruang publik, karena semua orang berhak (harus) bahagia. Berseni kotanya, bahagia warganya. Menjamin kota berseni merupakan keharusan, bukan pilihan.

Nirwono Joga, Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN