Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Sensasi Pelemahan Dolar AS

Senin, 7 September 2020 | 10:10 WIB
Tri Winarno

Dolar AS terjun bebas. Mata uang yang dikenal sebagai the greenback, sebagai cadangan devisa utama global tersebut menuju sandyakala. Begitulah berita utama yang sempat mencuat akhir-akhir ini, baik di media cetak maupun media elektronik di seantaro jagad. Kejatuhan nilai dolar AS pada bulan Juli 2020 merupakan yang terendah sejak dua tahun terhadap mata uang euro.

Sebenarnya, depresiasi dolar AS baru-baru ini adalah salah satu dari serangkaian fluktuasi dolar AS terhadap mata uang kuat lainnya yang mudah dijelaskan. Misalnya, ketika pandemi Covid-19 mengglobal pada Maret 2020, dolar AS mengalami penguatan karena dolar AS memang menjadi safe-haven untuk penempatan dana internasional pada US Treasuries, dan ini terjadi setiap krisis yang mengglobal.

Pada Mei 2020, The Fed yang bertindak sebagai lender of the last resort, kemudian melakukan kebijakan akomodatif dengan cara memompa likuiditas dolar AS di pasar uang sehingga nilai dolar AS kembali ke posisi semula.

Namun, pelemahan dolar AS akhir-akhir ini, terutama terhadap euro, menggambarkan perubahan prospek ekonomi antara AS dan Uni Eropa. Dengan menggilanya Covid-19, outlook perokonomian AS semakin memburuk, sehingga investor berekspektasi The Fed akan menahan tinggkat bunga rendah lebih lama lagi. Sedangkan di Uni Eropa penanganan penyebaran virus corona relatif terkendali. Data dari purchasing managers’ surveys terkini juga menunjukkan bahwa Uni Eropa sedang menuju pemulihan. Tentu ini merupakan berita yang menggembirakan bagi Uni Eropa maupun ekonomi global.

Perbaikan outlook ekonomi Uni Eropa ini tidak serta merta akan mendorong European Central Bank menaikkan tingkat bunga kebijakanya segera. Tetapi investor yakin bahwa bank sentral Eropa tersebut akan memulai normalisasi tingkat bunga kebijakannya lebih dulu dari AS.

Hubungan outlook tingkat bunga dan perubahan nilai tukar tersebut adalah sangat erat, dan ini dikenal sebagai teori “interest parity”. Memang teori ini tidak berlaku sempurna, tetapi setidak-tidaknya dapat dijadikan acuan analisis fluktuasi nilai tukar mata uang utama. Dan tidak ada teori yang mampu menjelaskan penentuan nilai tukar sebaik teori “interest parity”.

Selain itu, penguatan euro baru-baru ini ditunjang oleh keputusan pemimpin Uni Eropa untuk memperkuat konsolidasi kebijakan fiskalnya. Yaitu dengan persetujuan untuk menerbitkan obligasi Uni Eropa sebesar €750 miliar (US$ 884 miliar). Tetapi sebenarnya jumlah ini sangat kecil, karena kurang dari 5% stok utang pemerintah AS yang dipegang publik.

Tentu hal itu menjadi sinyal awal yang positif bagi sentimen pasar untuk ekonomi Uni Eropa, walaupun kebijakan tersebut belum bisa menjadikan Uni Eropa sebagai safe heaven yang menggantikan peran AS. Untuk mencapai likuid setingkat pasar obligasi pemerintah AS, maka Uni Eropa masih perlu meningkatkan penerbitan 20 kali US$ 884 miliar, yang masih membutuhkan waktu puluhan tahun. Karena itu, masih butuh waktu lama euro dapat menjadi benchmark asset dengan likuiditas sama dengan obligasi pemerintah AS.

Namun demikian yang paling mengejutkan adalah daya tahan dolar AS yang luar biasa. Normalnya, investor akan memegang mata uang jika kebijakan penerbit mata uang tersebut tepat dan stabil. Padahal saat ini kebijakan pemerintah AS adalah sangat riskan dan erratic, namun dolar sangat stabil.

Meskipun kebijakan dan tindakan pemerintahan Presiden Donald Trump mengacaukan perdagangan AS dengan mitra dagangnya, tetapi dolar AS masih stabil. Di bawah Trump, AS saat ini bukan lagi mitra dan sekutu yang dapat dipercaya seperti dahulu, tetapi dolar AS masih tetap stabil.

Dengan demikian peran dolar AS sebagai mata uang internasional masih tak tergoyahkan. Dolar AS masih merupakan mata uang yang digunakan sebagai cadangan devisa negara, yaitu masih bertahan pada angka 75%.

Mencermati fenomena tersebut, dapat dijelaskan kenapa dolar AS masih merupakan mata uang yang paling stabil di jagad ni, seperti dikatakan maka kata mendiang PM Inggris Margaret Thatcher, yakni “TINA”: there is no alternative.

Euro bukan alternatif mata uang global. Karena stok euro sebagai safe assets tetap tersegmentasi di antara garis nasional dan tidak signifikan, belum menyatu menjadi euro yang utuh. Begitu terjadi guncangan, belum ada tindakan penyelamatan dalam skala satu satuan Uni Eropa, belum ada fungsi bank sentral Eropa yang menyerupai The Fed sebagai lender of the last resort dunia.

Apalagi renminbi. Jelas bukan alternatifnya dolar AS. Mengingat ketegangan antara negara Barat dan Tiongkok yang semakin meningkat, maka negara Barat jelas bersatu padu untuk tidak merekomendasikan rakyatnya bergantung pada People’s Bank of China untuk mengelola likuiditasnya, sebagaimana mereka tidak akan menggantungkan kebutuhan 5G-nya pada Huawei.

Dengan demikian, selama The Fed masih dapat dan mau menjadi lender of the last resort dunia, maka kondisi status quo seperti sekarang ini masih dapat ditoleransi oleh pelaku pasar global. Perubahan satu personil dewan gubernul The Fed tidak akan mengubah persepsi pasar terhadap kebijakan The Fed secara keseluruhan. Namun, apabila perubahan satu anggota dewan gubernur The Fed memengaruhi anggota lainnya, maka pada saat itu tidak ada pilihan lain kecuali berpaling ke lain mata uang. Jadi, penentuanya adalah The Fed.

Sebenarnya solusi yang paling tepat mengatasi kekacaun sistem moneter saat ini, yaitu sistem moneter yang sangat bertumpu pada dolar AS, adalah memberikan sumber daya lebih besar pada International Monetary Fund (IMF), sehingga IMF dapat men-supply dolar AS kepada negara-negara yang mengalami krisis tatkala kelak The Fed gagal untuk menyediakan kebutuhan dolar AS yang dibutuhkankan oleh dunia. Sistem ini sebenarnya pernah diusulkan oleh ekonom Inggris John Maynard Keynes pada tahun 1944.

Mengingat kondisi di atas, jangan berharap bahwa dolar AS akan dapat tergantikan dalam waktu dekat, dan depresiasi dolar AS hanya temporer.

 

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN