Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Setahun Pandemi, Sebuah Pembelajaran dari IHSG

Selasa, 9 Maret 2021 | 11:29 WIB
Agus Sugiarto *)

Bursa efek di seluruh dunia mengalami volatilitas yang luar biasa pada saat pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 yang menular ke hampir semua negara. Akibatnya kinerja saham dari berbagai korporasi hampir secara keseluruhan mengalami gejolak penurunan harga. Seperti ada sebuah komando, indeks harga saham di berbagai lantai bursa di seluruh dunia serentak memperlihatkan tren penurunan.

Penurunan indeks tersebut merupakan refleksi ketakutan dari para investor mengenai ketidak pastian ekonomi global ke depan. Mereka beramai-ramai menjual saham yang mereka miliki untuk dicairkan secepatnya guna mencegah kerugian yang lebih besar.

Kondisi serupa terjadi dalam perdagang an di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga mengalami penurunan mengikuti tren penurunan yang terjadi bursa efek negara-negara lain. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan 30 Desember 2019 masih memperlihatkan kinerja yang bagus di level 6.299.

Namun dengan mencuatnya kabar bahwa pe nularan virus corona baru tersebut telah menjalar ke berbagai negara, mendorong penurunan bur sa global. Akibatnya IHSG mengikuti tren penurunan bursa global, sehingga turun ke level 5.452 pada penutupan 28 Februari 2020.

Pada saat pemerintah secara resmi mengumumkan penemuan kasus covid-19 yang pertama di Indonesia tanggal 2 Maret 2020, IHSG langsung drop ke level 5.361, terus mengalami kontraksi dan mencapai titik terendah 3.937 pada tanggal 23 Maret 2020. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu dan berbagai upaya pemerintah dalam menanggulangi krisis kemanusiaan dan juga pemulihan ekonomi, se cara perlahan tapi pasti kinerja IHSG telah memperlihatkan tren kenaikan.

Pada penutupan perdagangan tanggal 30 Desember 2020, IHSG kembali mencapai level 5.979, dan pada tanggal 2 Maret 2021, setahun setelah pemerintah mengumunkan adanya Covid- 19, IHSG telah mencapai level 6.359.

Di sinilah kita bisa melihat adanya suatu fenomena yang bisa kita pelajari bahwa apabila terjadi suatu krisis yang membuat harga saham menjadi anjlok, namun menyimpan suatu peluang yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Efek Domino

Informasi menjadi instrument penting bagi para investor yang me nanamkan uangnya di bursa efek. Informasi inilah yang akan menjadi dasar utama bagi investor untuk memutuskan membeli ataupun menjual saham. Dalam sis tem ekonomi liberal dan terbuka, semua orang bebas untuk mendapatkan informasi tersebut dari berbagai sumber secara cepat.

Kondisi demikianlah yang menyebabkan antara satu bursa efek dan bursa efek lainnya di berbagai belahan dunia memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Hasil penelitian dari Markwat, Kole dan van Dijk (2009), menunjukkan bahwa kejatuhan bursa efek global tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dimulai dari bursa efek secara lokal dari satu negara ke negara lainnya.

Efek domino ini muncul karena kejatuhan ekonomi di satu Negara akan memengaruhi kinerja ekonomi negara lainnya. Hal itu me ngingat mata rantai produksi barang dan jasa sudah melibatkan negara lain sebagai pemasok bahan baku, pasar produk barang dan jasa, serta sebagai penyedia likuiditas.

Ekonomi Tiongkok merupakan sa lah satu motor penggerak ekonomi dunia, sehingga kejatuhan ekonomi negeri Tirai Bambu itu akibat Covid-19 tentunya akan memengaruhi ekonomi Negara lain. Tiongkok merupakan pasar yang besar bagi produk barangbarang yang berasal dari negaranega ra lain. Industri Tiongkok juga memiliki matai rantai yang luas dan besar dengan negara-negara lain.

Sekitar 20% ekspor bahan mentah dan komoditas Indonesia dengan negara tujuan Tiongkok, se hingga terpuruknya ekonomi Tiongkok sangat berpengaruh terhadap Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka positif 2,3% pada ta hun 2020 kemarin, tentunya mem bawa angin segar bagi per ekonomian Indonesia. Oleh ka re na itu, pulihnya ekonomi Tiong kok akan memengaruhi indeks harga saham di berbagai negara, termasuk IHSG.

Sulit Diramalkan Seberapa Lama

Gejolak penurunan harga saham tidak dapat diramalkan sampai seberapa jauh penurunannya, baik dari sisi waktu maupun angka indeksnya. Penurunan indeks harga saham tidak bisa dipastikan apakah akan berlangsung selama seminggu, sebulan atau beberapa bulan, dan juga tidak bisa diprediksi sampai ke angka berapa penurunan tersebut.

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Williams (2020), menyebutkan bahwa rata-rata bursa efek mengalami kejadian “crash” atau koreksi sekitar 6 bulan dengan mengamati kinerja indeks S&P 500 sejak tahun 1950. Sedangkan analisis dari Franck (2020), rata-rata penurunan indeks harga sa ham adalah 13,7% dan rata-rata waktu “crash” atau koreksi adalah 4 bulan. Namun bukti empiris yang terjadi akibat Covid-19 ke ma rin sangat berbeda, IHSG me ng alami penurunan sampai 37% hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan.

Emosi Mengalahkan Faktor Fundamental

Bagi investor yang menginvesta sikan uangnya di bursa efek dengan membeli saham tentunya memiliki keyakinan dan juga ha - rapan bahwa harga sahamnya akan naik di kemudian hari. Investor akan bersikap rasional dan me milih saham yang memiliki fundamental kinerja yang bagus, se hingga berharap di kemudian hari harga sahamnya akan naik terus.

Namun demikian, pada saat pa sar mengalami “crash” sebagai akibat dari pandemi, sebagian dari mereka menjual saham-saham yang dimilikinya sehingga membuat pasar menjadi terkoreksi. Terlihat di sini bahwa dalam situasi genting seperti itu, investor menjadi panik dan tidak lagi bersikap rasional, tetapi lebih bersifat emosional mengikuti perilaku investor lainnya yang juga ramai-ramai menjual sahamnya.

Munculnya faktor emosional tersebut didasari adanya rasa ketakutan bahwa harga sahamnya akan terus anjlok apabila tidak dijual secepatnya. Investor merasa panik bahwa pandemi Covid-19 akan memunculkan ketidakpastian tinggi di masa depan, sehingga tidak ada cara lain kecuali menjualnya untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Kondisi bursa saham menjadi berbalik ketika beberapa perusahaan farmasi global mengumumkan keberhasilan uji coba vaksin untuk Covid-19. IHSG juga ikut mengekor kenaikan indeks harga saham di berbagai bursa dunia lainnya, sebagai refleksi bahwa ketidakpastian ke depan akan segera berakhir dengan penemuan vaksin tersebut. Bagi investor yang berpengalaman, mungkin tidak akan melepas sahamnya walaupun harganya murah, tetapi justru membeli lagi dengan harga yang murah.

Di Balik Kejatuhan Ada Peluang

Bagi sebagian investor, kejatuhan indeks harga saham bukan dilihat sebagai suatu kerugian, tetapi sebagi peluang untuk membeli beberapa saham yang masuk kategori bluechip dengan harga murah. Menurut seorang analis pasar modal yang bernama Kennon (2020), untuk menjadi kaya tidak selalu harus memiliki IQ yang tinggi, tetapi diperlukan kedisiplinan yang tinggi untuk mengamati pasar saham setiap waktu.

Selain itu, berinvestasi di pasar modal saat harga-harga jatuh merupakan peluang besar untuk meraup keuntungan dalam jangka panjang, ketika kondisi ekonomi mulai membaik kembali. Marquit (2019) berpendapat bah wa pada saat ekonomi sudah pulih kembali, investor yang telah membeli saham di saat harga ja tuh tersebut, akan memiliki da ya tawar yang bagus apabila ingin menjualnya lagi.

Memang tidak semua harga saham bisa melakukan rebound dengan cepat akibat pandemi, namun sebagian bisa rebound apabila memiliki fundamental kinerja yang kokoh. Sebagai contoh, harga saham BCA sempat seharga Rp 22.150 pada tanggal 23 Maret 2020, namun pada tanggal 2 Maret 2021 kemarin telah kembali mencapai Rp 35.075. Dengan waktu kurang dari setahun, seorang investor yang jeli dan membeli di saat harga mu rah tersebut akan meraup capital gain atau keuntungan sebesar 58,3%.

*) Kepala OJK Institute

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN