Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wagiman S,

Wagiman S,

Sinergi Ekosistem Ultramikro Memperkuat Perekonomian

Selasa, 28 September 2021 | 20:34 WIB
Wagiman S *)

Seberapa waktu terakhir ramai pemberitaan dan perbincangan di media, seminar maupun diskusi mengenai holding ultramikro (UMi) yang melibatkan tiga BUMN yaitu Bank BRI, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani (PNM).

Holding adalah perusahaan induk yang_membawahi beberapa perusahaan lain yang berada dalam satu grup perusahaan. Perusahaan induk berperan sebagai pemegang saham di beberapa perusaha an anak dengan tujuan agar kinerja perusahaan meningkat dan memungkinkan terciptanya nilai pasar perusahaan.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, tahun 2018 di Indonesia terdapat sekitar 62 juta usaha mikro, 57 juta di antaranya masuk kategori ultramikro (UMi) dan sekitar 45 jutanya masih membutuhkan pendanaan tambahan.

Dari 45 juta UMi, yang telah mendapat sentuhan pembiayaan modal lembaga keuangan baru sekitar 15 juta UMi, di mana hanya 3 juta yang dapat dilayani bank, sedangkan melalui layanan gadai 3 juta, melalui group lending 6 juta, dan 1,5 juta melalui Bank Pembangunan Rakyat (BPR), serta melalui fintech 1,5 juta UMi.

Masih sekitar 30 juta UMi belum terlayani lembaga pembiayaan formal; masih ada sekitar 12 juta UMi melakukan pinjaman untuk usahanya melalui rentenir, kerabat atau keluarga, dan 18 juta UMi belum terlayani sama sekali.

Data tersebut memberikan gambaran tantangan tugas bersama agar pelaku usaha UMi bisa menjangkau layanan keuangan formal, dengan rencana yang matang dan lebih terstruktur dengan membangun suatu ekosistem.

Membangun ekosistem inilah yang menjadi semangat pembentukan holding ultramikro. Pembentukan holding harus melalui mekanisme dan prosedur. Pertama, rights issue BBRI dilakukan setelah mendapat arahan dari Komite Privatisasi dan rekomendasi dari Menteri Keuangan, serta kon sultasi dengan DPR RI. Ini sebagaimana proses rights issue yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan.

Kedua, seluruh sahan seri B negara pada PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) akan disetorkan ke Bank BRI dalam rangka partisipasi pemerintah dalam rights issue Bank BRI.

Ketiga, penyertaan atau penyetoran seluruh saham seri B negara pada PT Pegadaian dan PT Permodalan Na sional Madani (PNM) kepada Bank BRI dilakukan sesuai dengan PP Nomor 76 Ta hun 2016 tentang Tata Cara Penyertaan Modal Ne gara kepada BUMN.

Keempat, setelah rights issue, Bank BRI akan memiliki seluruh saham seri B Pegadaian dan PNM, sedangkan Pemerintah RI masih memiliki satu lembar saham seri A Dwiwarna pada PT Pegadaian dan PT PNM. Kelima, nilai transaksi akan didasarkan pada hasil penilaian independen Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP) sesuai ketentuan pasar modal.

Proses holding telah resmi ditandatangani pada tanggal 13 September 2021. Dengan bergabungnya tiga BUMN tersebut, maka jaringan untuk sektor ultramikro semakin banyak dan luas; BRI memiliki 9.618 kantor cabang dan 441.791 agen BRILink yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kemudian, Pegadaian memiliki 4.915 kantor cabang, 11.000 agen, dan 21.000 te naga penjual, sedangkan PNM memiliki 2.860 kantor cabang dan 24.000 tenaga penjual. Dari sisi model bisnis, BRI sudah lama fokus pada sektor UMKM dengan pembiayaan KUR Mikro minimal Rp 5 juta dan boleh tanpa agunan dengan tenor pinjaman 1-5 tahun.

Sedangkan Pegadaian memiliki layanan pembiayaan dengan jaminan kebendaan dan jangan waktu pembayaran pendek yaitu dari 2 minggu sampai 6 bulan, serta memiliki sumber pendanaan yang kuat dari perbankan atau obligasi.

Sementara itu, PNM memiliki layanan yang fokus pada pinjaman kelompok (group lending) dengan rata-rata pinjaman Rp 3 juta, serta memiliki struktur biaya operasional yang tinggi dan memiliki pendanaan yang kuat dari perbankan, obligasi, dan surat utang jangka menengah (MTN). Tiga entitas ini dapat diintegrasi ser ta dikonsolidasikan untuk saling melengkapi agar usaha ultramikro dapat terla yani secara luas dan menyeluruh.

Setelah terbentuk holding ultramikro, banyak potensi untuk memperkuat peningkatan perekonomian Indonesia, di mana ke depan dalam integrated journey na sabah ultramikro akan berkembang menjadi pengusaha dengan kapasitas bisnis lebih baik lagi dan siap naik kelas ke segmen mikro, serta menjadi pertumbuhan baru yang sustainable.

Dari sisi ekonomi dapat memberi nilai tambah bagi pemegang saham dan usaha ultramikro, dan dari sisi sosial dapat meningkatkan kapabilitas usaha ultramikro melalui pemberdayaan usaha dan tentu juga berkelanjutan yang dapat berkontribusi terhadap literasi serta inklusi keuangan Indonesia.

Selain memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan, juga akan memberikan value proposition bagi pemangku kepentingan termasuk pelaku ultramikro sendiri. Seperti pilihan produk-produk keuangan yang semakin lengkap dan lebih teringrasi karena layanan dilakukan secara end to end, di mana proses peningkatan kapabilitas nasabah ultramikro dapat dimonitor dengan baik untuk pelayanan efektif dan efisien.

Sinergi ekosistem ultramikro dapat menciptakan semakin banyak lagi pelaku usaha mikro yang terjangkau layanan keuangan formal. Ekspektasi lainnya yang diharapkan dari kehadiran holding ultramikro adalah pertama, integrasi BUMN dalam holding diharapkan menciptakan efisiensi biaya dana (cost of fund) dari BUMN terlibat.

Kedua, sinergi jaringan sehingga ekspansi bisnis dapat dilaksanakan dengan biaya murah, dengan demikian cost of serve & acquire customer menjadi lebih murah.

Ketiga, sinergi digitalisasi dan platform pemberdayaan pelaku usaha kecil yang juga menghasilkan pusat data Usaha Mikro Kecil dan Mengenah (UMKM) untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber data skala nasional.

Adanya pusat data ini akan membantu pemerintah memberikan berbagai program yang lebih tepat sasaran. Selain itu, pembentukan holding ini merupakan salah satu upaya untuk mengakselerasi akses keuangan formal UMKM di Indonesia, dan memperkuat perekonomian dalam membangun negeri.

*) AVP Divisi CLS Bank BRI & Dosen Pasca Sarjana (Tulisan merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili tempat penulis bekerja.)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN