Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Sinyal Pasar Setelah Konflik Iran vs AS

Tri Winarno *), Senin, 20 Januari 2020 | 11:40 WIB

Setelah pembunuhan terhadap Jenderal Iran Qassem Suleimani oleh Amerika Serikat (AS) dan serangan balasan awal Iran terhadap basis militer AS di Irak, pasar keuangan global demam tinggi: dalam sehari harga minyak melonjak 10%, pasar modal AS dan global terhuyung tajam disertai dengan penurunan yield safe-haven bond secara drastis. Namun akhirnya konflik antara Iran dan AS mereda sehingga membuat pasar uang global semakin tenang sehingga harga saham balik arah lagi, bahkan bergerak mendekati angka tinggi baru.

Kembalikan arah tersebut mencerminkan dua asumsi. Pertama, pasar yakin bahwa baik Iran maupun AS tidak akan berani bertempur dengan skala penuh karena akan mengancam rezim penguasa di Iran maupun prospek Donald Trump terpilih kembali sebagai presiden AS. Kedua, investor percaya bahwa dampak ekonomi koflik tersebut tidak terlalu signifikan.

Dengan alasan bahwa peran penting minyak sebagai input produksi dan konsumsi telah turun tajam sejak shock harga minyak di masa lampau, seperti pada waktu perang Yom Kippur 1973, Revolusi Iran 1979, dan invasiIrak ke Kuwait tahun 1990.

Di samping itu, saat ini AS merupakan produsen energi utama, dan ekspektasi inflasi sekarang sangat rendah serta kemungkinan bank sentral menaikkan tingkat bunga sangat kecil setelah adanya shock harga minyak.

Kedua asumsi tersebut sebenarnya cacat akal. Bahkan seandainya risiko perang terbuka antara Iran dan AS sudah menyusut, tidak ada alasan untuk meyakini bahwa hubungan antara Iran dan AS akan kembali pada status quo ante. Demikian pula, uatu pendapat bahwa Iran sudah terpuaskan hanya dengan menyerang balik basis militer AS di Irak adalah suatu pandangan yang naif. Dua roket Iran tersebut merupakan salvo pembuka menuju serangan-serangan lanjutan tatkala pemilu presiden AS semakin mendekat.

Konflik akan berlangsung, dapat berupa agresi yang dilakukan oleh masing-masing kaki tangan Iran, konfrontasi militer langsung tanpa berlanjut dengan perang terbuka, usaha sabotase ke Arab Saudi dan fasilitas minyak di negara-negara Teluk, mengacau navigasi pelayaran di kawasan Teluk, teror internasional dan regional, serangan terhadap fasilitas internet, hingga penyebaran teknologi nuklir. Dari setiap kemungkinan tindakan di atas akan dapat memicu konflik yang lebih besar.

Di samping itu, keberlangsungan rezim penguasa di Iran lebih terancam dari revolusi yang datang dari internal Iran daripada perang dengan skala penuh. Penguasa di Iran dapat bertahan dengan adanya perang dan bahkan sangat diuntungkan karena rakyat Iran akan berdiri di belakang pemerintahnya, seperti yang ditunjukkan oleh respons rakyat Iran terhadap pembunuhan Suleimani baru-baru ini.

Perang dengan skala penuh, lonjakan harga minyak, serta resesi global akan mengarah pada pergantian rezim di AS, sebagaimana yang diharapkan oleh Iran. Sehingga Iran tidak hanya dapat meningkatkan eskalasi konflik, bahkan Iran mempunyai insentif untuk melakukan eskalasi tersebut, yaitu melalui proksinya dan perang asimetrik, untuk menghindari provokasi reaksi langsung dari Trump.

Asumsi bahwa konfik tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar adalah jelas salah, walaupun saat ini AS tidak begitu tergantung pada minyak asing dibanding ketika masa lampau. Bahkan lonjakan harga minyak yang tidak besar pun dapat mengakibatkan resesi, seperti yang terjadi pada tahun 1990.

Walaupun lonjakan harga minyak mampu meningkatkan keuntungan produsen energi di AS, tetapi dampak kenaikan harga minyak terhadap penurunan konsumsi dan investasi di AS jauh lebih besar. Sehingga AS akan terjerembab dalam resesi, begitu pula bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, Tiongkok, India, Korea Selatan, Turki, dan Uni Eropa.

Terakhir, walaupun bank sentral tidak akan menaikkan tingkat bunga setelah adanya lonjakan harga minyak, namun bank sentral tidak punya ruang memadai lagi untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut.

Menurut perkiraan JPMorgan, konflik yang menyebabkan gangguan di Selat Hormuz selama 6 bulan dapat menaikkan harga minyak sebesar 126%, sehingga mencapai lebih dari US$ 150 per barel, dan dipastikan ekonomi global benar-benar akan resesi. Bahkan sedikit gangguan saja di selat tersebut, misal diblokade Iran satu bulan, maka dapat mendongkrak harga minyak sampai US$ 80 per barel.

Skenario tersebut belum menggambarkan dampak ikutan harga minyak keseluruhan. Yaitu ketika harga minyak mengalami shock, maka sektor dan negara yang tergantung pada minyak akan berjaga- jaga dengan melakukan penimbunan minyak untuk memenuhi kebutuhannya.

Karena itu, risiko yang terjadi tatkala Iran menyerang fasilitas minyak di Timut Tengah atau mengganngu rute pelayaran pengiriman minyak akan menciptakan ”fear premium”. Sehingga kenaikan harga minyak sedikit saja mendekati US$80 per barel akan mengirim sinyal miris pada pasar keuangan dunia dan akan berakibat pada penurunan harga saham setidak-tidaknya sekitar 10%. Pada kelanjutannya akan memukul investor, pengusaha, dan consumer confidence.

Perlu diingat bahwa belanja modal perusahaan global telah tereduksi signifikan tahun lalu karena adanya kekhawatiran eskalasi perang dagang antara AS vs Tiongkok dan kemungkinan ”hard” Brexit. Tepat seperti kasus di atas, kekhawatiran konflik Iran vs AS ini menjadi faktor penunggu bagi perusahaan global untuk melakukan belanja modal.

Di samping itu, karena kekhawatiran dampak kenaikan harga minyak, rumah tangga melakukan langkah berjaga-jaga dengan meningkatkan tabungan, yang berarti menurunkan konsumsinya, sehingga memperlemah permintaan yang berdampak pada deakselerasi pertumbuhan ekonomi global.

Di samping itu, bahkan sebelum risiko Iran tersebut muncul, berbagai analis mengingatkan bahwa per tumbuhan tahun ini hanya sedikit lebih kuat dari pertumbuhan di tahun 2019. Karena pasar sudah memperkirakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar dan berakhirnya isu Brexit serta tercapainya kesepakatan perang dagang AS-Tiongkok.

Sehingga para ekonom berharap bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi 2019 (ketika pertumbuhan hanya 3%, jauh dibandingkan dengan 3,8% tahun 2017) akan berakhir dan pertumbuhan tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 3,4%. Tetapi outlook ini telah mengabaikan banyak faktor kerentanan.

Karena sekarang walaupun ada optimisme di Wall Street, bahkan gangguan sedikit saja yang menyebabkan dimulainya ketegangan ASIran, akan mendorong pertumbuhan ekonomi global di bawah level pertumbuhan ekonomi medioker tahun 2019.

Konflik yang semakin besar akan mendongkarak harga minyak mencapai US$ 80 per barel, sehingga mendorong harga saham berada pada bear territory (turun 20%) dan akan mengakibatkan tersendatnya pertumbuhan ekonomi global. Akhirnya, perang terbuka akan mendorong harga minyak di atas US$ 150 per barel, sehinga sempurna sudah resesi global dan harga saham global akan jatuh lebih dari 50%.

Kalau itu terjadi, maka dampak terhadap kemiskinan dunia semakin merajalela, kriminalitas akan membara. Namun untuk saat ini probabilitas terjadinya perang terbuka tetap rendah sekitar 20%, tetapi peluang kembali ke status quo sebelum pembunuhan Jenderal Sulaimani hanya 5%. Kemungkinan terbesar adalah skenario di mana terjadi eskalasi di area abu-abu yang bisa mendorong pada perang terbuka.

Dengan skenario baseline baru tersebut, maka kegirangan pasar uang saat ini tidak hanya naif, tetapi benar-benar hanya khayalan. Karena, saat ini risiko resesi global bahkan semakin tinggi dan sedang meninggi.

*) Pengamat kebijakan ekonomi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA