Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chandra Bagus Sulistyo, Manajer Riset Bisnis & Ekonomi Bank Negara Indonesia

Chandra Bagus Sulistyo, Manajer Riset Bisnis & Ekonomi Bank Negara Indonesia

Sistem Klaster Percepat Ekspansi Kredit

Chandra Bagus Sulistyo *), Sabtu, 1 Februari 2020 | 15:07 WIB

Pertumbuhan ekspansi kredit perbankan tahun 2020 diharapkan mampu menembus double digit. Pada 2019, laju ekspansi kredit melambat, hanya tumbuh 6,08%, jauh di bawah ekpektasi regulator dan pelaku industri sebesar 8-10%.

Industri perbankan mempunyai peranan penting dalam perekonomian sebagai lembaga intermediasi yang menyalurkan dana masyarakat ke dalam investasi aset produktif sehingga mendorong produktivitas sektor riil, akumulasi kapital, dan pertumbuhan output agregat.

Mekanisme fungsi intermediasi kredit perbankan melalui sistem klaster diharapkan mampu meningkatkan kredit lebih ekspansif sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Industri perbankan memiliki kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Melalui ekspansi kredit perbankan double digit, diharapkan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional 2020 yang ditargetkan sebesar 5,3%.

Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan kredit perbankan tahun 2020 lebih tinggi pada kisaran 10-12% dibanding tahun 2019 yang dipatok tidak melebihi 8,0%. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap optimistis memprediksikan pertumbuhan kredit perbankan 2020 akan bergerak ekspansif, yaitu melebihi 10,0%, di mana angka ini melampui proyeksi tahun 2019 yang hanya dipatok tidak lebih dari 9,0%.

Oleh karena itu, untuk dapat merangsang pertumbuhan ekspansi kredit double digit di tahun 2020, diperlukan beberapa faktor pendorong kredit, antara lain; pertama, kebijakan suku bunga rendah. Saat ini, suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate berada pada posisi 5,0%. Mashab suku bunga rendah dilakukan oleh BI untuk dapat mendorong secara moneter pergerakan suku bunga kredit berada pada level yang diharapkan.

Langkah moneter ini diharapkan dapat segera menurunkan bunga funding, yang kemudian berimbas pada penurunan bunga lending. Bunga lending yang turun, merangsang pelaku usaha untuk melakukan aktivitas bisnis dengan memanfaatkan kredit perbankan dengan bunga rendah secara optimal.

Kedua, kenaikan belanja pemerintah 2020. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), belanja pemerintah pusat yang diproyeksi sebesar Rp 1.683,5 triliun, mengalami kenaikan Rp 13,5 triliun dari usulan awal. Di mana belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) sebesar Rp 884,6 triliun dan belanja non-K/L mengalami kenaikan Rp 13,5 triliun menjadi Rp 798,9 triliun.

Kemudian dari belanja transfer ke daerah (TKD) mengalami kenaikan Rp 1,8 triliun menjadi Rp 784,9 triliun, sedangkan dana desa tetap sebesar Rp 72 triliun. Belanja pemerintah tersebut mendorong aktivitas produksi sehingga mengakibatkan efek domino berupa kebutuhan kredit perbankan oleh para pelaku usaha.

Ketiga, perlunya peningkatan aktivitas ekspor-impor Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ke- giatan ekspor-impor 2019 mengalami perlambatan. Di mana, secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari- Desember 2019 mencapai US$ 167,53 miliar atau menurun 6,94% dibanding periode yang sama tahun 2018.

Demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 154,99 miliar atau menurun 4,82%. Hal yang sama terjadi pada nilai impor Indonesia yang mengalami penurunan. Tercatat, Desember 2019 mencapai US$ 14,50 miliar atau turun 5,47% dibanding November 2019.

Demikian juga apabila dibandingkan Desember 2018 turun 5,62%. Bagaimanapun caranya, kegiatan ekspor- impor harus dirangsang tumbuh. Tujuannya agar dapat mendorong pertumbuhan kapasitas produksi sehingga berdampak pada peningkatan kredit perbankan.

Keempat, kebijakan pemerintah yang mendukung kemudahan berinvestasi. Pemerintah berupaya keras menggenjot investasi langsung (direct investment). Salah satu caranya adalah penerapan Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi (SPBT) atau program Online Single Submission (OSS) yang saat ini dikomandani oleh BKPM.

Sistem ini memungkinkan calon investor mengantongi izin investasi hanya dengan menyampaikan satu salinan dokumen persyaratan. Selain itu, pemerintah akan mempermudah pemberian insentif pajak kepada para investor yang berinvestasi di Indonesia.

Kemudahan berinvestasi akan banyak menarik investor dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan kredit.

Dan kelima, perlunya implementasi kredit sistem klaster. Klaster adalah kumpulan orang atau kelompok orang yang mempunyai keseragaman usaha/ lokasi, terhubung dalam lingkungan/ ekosistem yang saling menguntungkan sehingga memberi manfaat lebih dalam menciptakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Key points dalam klaster yang dimaksud adalah tergabung dalam suatu kelompok atau perkumpulan, kesamaan usaha (homogenitas), berada dalam satu lokasi/ wilayah, kesamaan supplier, kesamaan buyer (off-taker).

Manfaat dari sistem klaster adalah bisa mempermudah akses pembiayaan perbankan, dan melalui konsep clustering masyarakat bisa menerima manfaat berupa pembinaan usaha yang sedang dijalankan; dukungan CSR perbankan dapat berupa sarana pertanian dan infrastruktur untuk menunjang produksi budidaya per tanian.

Dengan konsep clustering, petani tidak perlu merasa khawatir lagi dalam memperoleh akses pasar, serta usaha yang dijalankan mengalami peningkatan dan terjaminnya kelangsungan usaha dengan membentuk klaster.

Selain itu, kredit yang diberikan dalam program klaster lebih berkualitas. Dalam program klaster, monitoring dilakukan dengan cukup ketat, yaitu secara berkelompok, sehingga antar-anggota saling melakukan kendali terhadap pengembalian dana. Terbukti dalam pembiayaan menggunakan pendekatan klaster ini tingkat pengembalian dana atau kualitas kredit mencapai lebih dari 99%.

Melihat faktor-faktor pendorong di atas, kiranya bukan hal yang mustahil, untuk penyaluran kredit perbankan nasional tahun ini mampu menembus ekspansi sebesar double digit. Namun, perbankan harus tetap berpegangan pada mitigasi risiko yang ada, sehingga kualitas ekspansi kredit double digit dapat efektif dan maksimal mendorong pertumbuhan ekonomi nasional 2020 sebesar 5,3%.

*) AVP Program Pemerintah–BNI Divisi Bisnis Usaha Kecil 2

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN