Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sistem Pembayaran dalam Konteks Ilmu Electrical Vehicle

Achmad Deni Daruri, Selasa, 19 November 2019 | 11:11 WIB

Paradoks Arrow merupakan teorema ketidakmungkinan yang menyatakan bahwa ketika pemilih memiliki tiga alternatif (opsi) yang berbeda atau lebih, tidak ada sistem pemilihan peringkat yang dapat mengubah preferensi peringkat individu menjadi peringkat masyarakat (lengkap dan transitif) sementara juga memenuhi serangkaian perangkat yang ditentukan.

Paradoks Arrow menentukan berhasil atau tidaknya perkembangan kendaraan listrik. Perkembangan kendaraan bertenaga listrik di Indonesia memang masih seumur jagung. Namun demikian, pada masa depan ketika kendaraan bertenaga listrik sudah menjadi kendaraan dominan maka akan terbuka peluang di mana kendaraan tersebut juga menjadi bagian dari sistem pembayaran.

Kendaraan listrik, juga disebut electrical vehicle (EV), menggunakan satu atau lebih motor listrik atau motor traksi untuk propulsi. Kendaraan listrik dapat diberdayakan melalui sistem pengumpul oleh listrik dari sumber di luar kendaraan, atau dapat diisi sendiri dengan baterai, panel surya atau generator listrik untuk mengubah bahan bakar menjadi listrik. Tahap tertinggi dari kendaraan di masa depan adalah kendaraan bertenaga listrik yang dioperasikan oleh kecerdasan buatan yang juga dapat berfungsi sebagai alat pembayaran.

Tempat parkir mobil listrik di kota Paris, Prancis dilengkapi dengan gardu charger pengisian baterai kendaraan. Foto : Investor Daily/Gora Kunjana
Tempat parkir mobil listrik di kota Paris, Prancis dilengkapi dengan gardu charger pengisian baterai kendaraan. Foto : Investor Daily/Gora Kunjana

Berita publik dalam pengembangan kendaraan masih terjangkar oleh kendaraan listrik dan paling jauh adalah pengembangan kecerdasan buatan untuk menjalankan kendaraan tersebut. Penulis sendiri pernah melihat uji coba kendaraan yang dioperasikan oleh kecerdasan buatan di Singapura beberapa waktu yang lalu. Namun penulis belum pernah melihatnya di Indonesia. Indonesia masih berkutat dalam mengembangkan mobil rakyat dengan teknologi fosil dan tanpa kecerdasan buatan. Sehingga dapat diperkirakan Singapura akan terlebih dahulu menguasai teknologi kendaraan berbasis listrik yang didukung oleh kecerdasan buatan ketimbang Indonesia.

Dengan posisi itu, maka Singapura tinggal selangkah lagi mengombinasikan kendaraan tersebut dengan teknologi pembayaran. EV meliputi, tetapi tidak terbatas pada, kendaraan jalan dan kereta api, kapal permukaan dan bawah air, pesawat listrik dan pesawat ruang angkasa listrik. EV pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-19, ketika listrik adalah salah satu metode yang disukai untuk penggerak kendaraan bermotor, memberikan tingkat kenyamanan dan kemudahan operasi yang tidak dapat dicapai oleh mobil-mobil bensin saat itu. Mesin pembakaran internal modern telah menjadi metode pendorong dominan untuk kendaraan bermotor selama hampir 100 tahun, tetapi tenaga listrik tetap umum di jenis kendaraan lain, seperti kereta api dan kendaraan kecil dari semua jenis.

Cetak biru milik Kementerian Perindustrian Indonesia masih gamang dalam menerjemahkan tren dunia masa depan dari EV ini. Cetak biru tersebut mencoba memasukkan Industri 4.0 namun luput dalam memberikan grand design bagi industry EV. Lebih parahnya lagi cetak biru tersebut mengabaikan peran alat pembayaran pada EV.

Pada abad ke-21, EV dikembangkan ditopang perkembangan teknologi dan peningkatan fokus pada energi terbarukan. Banyak permintaan untuk kendaraan listrik dikembangkan dan tim inti kecil insinyur do-it-yourself (DIY) mulai berbagi rincian teknis untuk melakukan konversi kendaraan listrik. Insentif pemerintah untuk meningkatkan adopsi diperkenalkan, termasuk di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun, lagi-lagi pemerintah Indonesia juga terus luput memberikan insentif bagi pengembangan EV, padahal negara super power sudah memberikan contohnya.

Padahal kendaraan listrik (EV) diperkirakan akan meningkat dari 2% pangsa global pada 2016 menjadi 22% pada 2030. EV berbeda dari kendaraan bertenaga bahan bakar fosil karena listrik yang mereka konsumsi dapat dihasilkan dari berbagai sumber, termasuk bahan bakar fosil, tenaga nuklir, dan sumber terbarukan seperti tenaga pasang surut, tenaga surya, tenaga air, tenaga angin, dan tenaga angin atau kombinasi apa pun dari mereka. Jejak karbon dan emisi lain dari kendaraan listrik bervariasi tergantung pada bahan bakar dan teknologi yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Sembari parkir mobil listrik di kota Paris, Prancis bisa sekalian mengecharge baterai di gardu charger. Foto : Investor Daily/Gora Kunjana
Sembari parkir mobil listrik di kota Paris, Prancis bisa sekalian mengecharge baterai di gardu charger. Foto : Investor Daily/Gora Kunjana

Listrik kemudian dapat disimpan di dalam kendaraan menggunakan baterai, flywheel, atau super kapasitor. Kendaraan yang menggunakan mesin yang bekerja berdasarkan prinsip pembakaran biasanya hanya dapat memperoleh energinya dari satu atau beberapa sumber, biasanya bahan bakar fosil yang tidak terbarukan.

Keuntungan utama dari kendaraan listrik hybrid atau plugin adalah pengereman regeneratif, yang memulihkan energi kinetik, biasanya hilang selama pengereman gesekan sebagai panas, karena listrik dikembalikan ke baterai on-board. Pada Januari 2018, dua mobil allelectric terlaris di dunia dalam sejarah adalah Nissan Leaf, dengan 300.000 penjualan global dan Tesla Model S, dengan lebih dari 200.000 penjualan global. Pada Maret 2018, ada sekitar 45 seri mobil all-electric berkemampuan jalan raya yang tersedia di berbagai Negara kecuali Indonesia.

Awalnya dikenal sebagai Renault- Nissan Alliance, Renault dan Nissan menjadi mitra strategis pada tahun 1999 dan memiliki hampir 450.000 karyawan dan mengendalikan sepuluh merek utamanya, yakni Renault, Nissan, Mitsubishi, Infiniti, Renault Samsung, Dacia, Alpine, Datsun, Venucia, dan Lada.

Mobil listrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST
Mobil listrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Grup mobil ini menjual 10,6 juta kendaraan di seluruh dunia pada tahun 2017, menjadikannya grup manufaktur kendaraan ringan terkemuka di dunia. Aliansi mengadopsi nama saat ini pada September 2017, satu tahun setelah Nissan mengakuisisi saham pengendali di Mitsubishi dan kemudian menjadikan Mitsubishi mitra setara dalam aliansi. Konon dalam cetak biru aliansi ini pada akhirnya akan memasukkan alat pembayaran dalam kendaraan mereka.

Jika hal itu dapat direalisasikan maka bukan hanya telepon genggam tetapi juga EV akan menjadi alat pembayaran di masa depan. Namun harus diingat (berdasarkan teorema ketidakmungkinannya Arrow) bahwa ketika masyarakat memiliki tiga alternatif pilihan teknologi yang berbeda atau lebih, tidak ada sistem pemilihan peringkat yang dapat mengubah preferensi peringkat individu menjadi peringkat masyarakat.

Jika preferensi setiap konsumen antara X dan Y tetap tidak berubah, maka preferensi grup antara X dan Y juga akan tetap tidak berubah (bahkan jika preferensi pemilih antara pasangan lain seperti X dan Z, Y dan Z, atau Z dan W berubah). Mengubah preferensi individu konsumen merupakan kata kuncinya.

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN