Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sistem Pembayaran dalam Konteks Teori Moneter Modern

Achmad Deni Daruri, Kamis, 12 September 2019 | 21:36 WIB

Resesi di dunia diperkirakan akan terjadi pada tahun depan atau paling lambat dua tahun lagi. Diperlukan kerangka kebijakan publik yang mampu mengatasi resesi tersebut. Kerangka tersebut adalah teori moneter modern. Berdasarkan teori moneter modern (MMT), peran sistem pembayaran sangatlah vital.

Gagasan utama MMT adalah bahwa pemerintah dengan system mata uang fiat dapat dan harus mencetak sebanyak uang yang perlu mereka keluarkan karena mereka tidak dapat bangkrut atau bangkrut kecuali keputusan politik untuk melakukannya diambil. Ini merupakan asumsi dasar dari teori moneter modern, yang pada dasarnya teori ini menekankan kepada kekuatan dari sistem pembayaran untuk membangun perekonomian. Pemikiran tradisional mengatakan, pengeluaran seperti itu secara finansial tidak bertanggung jawab karena utang akan membengkak dan inflasi akan meroket.

Tetapi, menurut MMT, utang pemerintah yang besar bukanlah jaminan perekonomian akan runtuh. Fakta empiris memperlihatkan bahwa negara-negara seperti Amerika Serikat dapat mempertahankan defisit yang jauh lebih besar tanpa terganggu oleh defisit anggaran pemerintah yang besar.

Pada kenyataannya, defisit atau surplus anggaran yang kecil justru dapat sangat berbahaya dan menyebabkan resesi karena pengeluaran defisit adalah apa yang dikenal dengan efek pengganda dalam perekonomian.

Efek pengganda dalam perekonomian akan berjalan mulus jika sistem pembayaran dalam perekonomian juga mulus sehingga kecepatan uang beredar juga akan menjadi maksimum. Ahli teori MMT menjelaskan bahwa utang hanyalah uang yang dimasukkan pemerintah ke dalam perekonomian dan tidak dikenakan pajak. Mereka juga berpendapat bahwa membandingkan anggaran pemerintah dengan anggaran rata-rata rumah tangga adalah sebuah kesalahan.

Para pendukung teori MMT mengakui bahwa inflasi secara teoritis merupakan hasil yang mungkin dari pengeluaran tersebut. Namun secara empiris, mereka mengatakan itu sangat tidak mungkin, dan dapat dieleminasi dengan keputusan kebijakan moneter yang tepat yang tidak bersifat dovish di masa depan jika diperlukan. Mereka sering mengutip contoh Jepang yang memiliki utang publik, jauh lebih tinggi daripada Amerika Serikat, tetapi tidak mengalami krisis berupa depresi ekonomi. Bahkan perkembangan sistem pembayaran Jepang juga semakin pesat seiring dengan perkembangan teknologi pendukung sistem pembayaran itu sendiri. Menurut MMT, satu-satunya batasan yang dimiliki pemerintah dalam hal pengeluaran adalah ketersediaan sumber daya nyata, seper ti misalnya pekerja, perlengkapan konstruksi, dan tanah.

Ketika pengeluaran pemerintah terlalu besar terkait dengan sumber daya yang tersedia, inflasi dapat melonjak jika pembuat keputusan tidak cermat. Pajak menciptakan permintaan berkelanjutan untuk mata uang dan merupakan alat untuk mengambil uang dari ekonomi yang menjadi terlalu panas, menurut teori MMT.

Hal demikian bertentangan dengan gagasan konvensional bahwa pajak terutama dimaksudkan untuk menyediakan uang kepada pemerintah untuk dibelanjakan dalam membangun infrastruktur dan mendanai program kesejahteraan sosial. MMT menyatakan bahwa pemerintah tidak perlu menjual obligasi untuk meminjam uang, karena itu adalah uang yang dapat dibuatnya sendiri. Pemerintah menjual obligasi dalam rangka untuk mengurangi kelebihan cadangan dan mencapai target suku bunga satu malam jangka pendek. Dengan demikian keberadaan obligasi, menurut Mosler yang juga merupakan penemu dari teori MMT, dikatakan sebagai “rekening tabungan di The Fed”, bukan merupakan persyaratan utama bagi pemerintah tetapi pilihan kebijakan.

Dalam konteks inflasi, system pembayaran bersifat netral. Pengangguran adalah akibat dari hasil dari pengeluaran pemerintah terlalu sedikit secara relatif terhadap pajak, menurut teori ini. Dikatakan juga oleh teori ini bahwa mereka yang mencari pekerjaan dan tidak dapat menemukan pekerjaan di sektor swasta harus diberi upah minimum, pekerjaan transisi yang didanai oleh pemerintah dan dikelola oleh masyarakat setempat. Tenaga kerja ini akan bertindak sebagai cadangan penyangga untuk membantu pemerintah mengendalikan inflasi dalam perekonomian.

Dalam konteks pasar tenaga kerja, peran dari sistem pembayaran juga bersifat netral. Pandangan ekonom pemenang Hadiah Nobel Paul Krugman tentang utang Amerika Serikat mirip dengan banyak teori MMT, tetapi Krugman sangat menentang teori tersebut. Dalam New York Times op-ed pada 2011, ia memperingatkan publik bahwa penerapan teori ini akan menyebabkan hiperinflasi dan investor menolak untuk membeli obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Krugman mengatakan, “Lakukan perhitungan, dan menjadi jelas bahwa setiap upaya untuk mengekstraksi terlalu banyak dari seigniorage; lebih dari beberapa persen PDB, mengarah ke peningkatan inflasi yang tak terbatas.” Ini tidak akan terjadi, bahkan dengan defisit yang sama, jika pemerintah masih dapat menjual obligasi. Teori ini memberikan ketergantungan yang sangat besar kepada sistem pembayaran khususnya melalui bank komersial. MMT didasarkan pada akun dari “realitas operasional” interaksi antara pemerintah dan bank sentral, dan sektor perbankan komersial.

Sebagai pendukung, Scott Fullwiler berpendapat bahwa memahami akuntansi cadangan sangat penting untuk memahami opsi kebijakan moneter. Sistem pembayaran dalam teori moneter apapun memang selalu menjadi titik sentral teori-teori tersebut.

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA