Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri

Achmad Deni Daruri

Sistem Pembayaran dan Public Confidence

Selasa, 11 Agustus 2020 | 22:02 WIB
Achmad Deni Daruri *)

Kepercayaan publik menjamin terlaksananya sistem pembayaran dengan baik, di mana harga sama besarnya dengan biaya marjinal. Namun de mikian, kepercayaan publik saja tidak mencukupi karena juga perlu didampingi oleh efisiensi, baik skala ekonomi maupun cakupan ekonomi.

Tanpa kepercayaan publik dan efisiensi maka sistem pembayaran tidak akan dengan mudah menyelesaikan transaksi yang mudah dan sering dilakukan.

Sistem pembayaran yang aman dan efisien menjamin terlaksananya sistem perbankan dan pasar ke uangan yang sehat dan juga sa ngat penting untuk menjalankan kebijakan moneter.

Tanpa adanya kebijakan moneter maka dalam situasi krisis seperti krisis ekonomi saat ini yang disebabkan oleh Covid-19 maka perekonomian akan mengalami hambatan yang sangat besar untuk mengurangi dampak krisis yang ditimbulkannya.

Kepercayaan oleh mereka yang mempelajari subjek ini adalah sejauh mana publik berpikir dan merasa tindakan publik akan mencapai hasil positif. Katalis untuk menghidupkan fungsi kepercayaan diri pada publik adalah kesadaran bahwa tindakan publik akan memengaruhi hasil publik.

Dengan kata lain, terserah publik. Jika publik tidak percaya sepenuhnya, publik tidak akan melakukan yang terbaik karena hasilnya di luar kendali publik.

Menerima bahwa publik dapat memengaruhi hasil akan menciptakan rasa kontrol dan merupakan titik awal untuk memulai kepercayaan.

Salah satu titik awal itu adalah keamanan dan kenyamanan dalam mendapatkan jasa pembayaran yang dirasakan oleh publik.

Di tengah pandemi Covid-19 yang mengikis kepercayaan publik. maka peran regulator sistem pembayaran yang utama, dalam hal ini bank sentral, wajib meningkatkan rasa aman dan nyaman publik dalam menggunakan jasa sistem pembayaran.

Untuk itu, instrumen sistem pembayaran seperti perbankan juga harus ditingkatkan kepercayaan publiknya. Regulator harus rutin melakukan survei publik untuk mengukur kepercayaan publik dari waktu ke waktu dengan menerapkan berbagai macam control variable sehingga benar-benar dapat mengukur naik atau turunnya kepercayaan public dalam konteks sistem pembayaran.

Sayangnya hal tersebut sampai hari ini belum dilakukan oleh bank sentral. Krisis Covid-19 saat ini seharusnya menjadi momentum untuk menciptakan indikator-indikator dan survei-survei yang mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap sistem pembayaran. Jika kepercayaan publik terhadap sistem pembayaran turun pada saat Covid-19 saat ini maka harus dilakukan analisis dengan hati-hati.

Publik dengan kepercayaan diri rendah dapat mengingat beberapa peristiwa krisis kepercayaan seperti saat ini. Lebih tepatnya, itu berarti bahwa publik tidak memperhatikan kesuksesan dari sistem pembayaran yang telah ada.

Publik yang percaya diri akan mengembangkan diri dengan mencatat dan sering merayakan keberhasilan mikro mereka dan menggunakannya, mungkin secara tidak sadar, untuk menciptakan harapan positif untuk pengalaman yang lebih sukses.

Dengan demikian perlu terlebih dahulu diadakan penelitian apakah publik memang bersifat seperti itu (baca: memiliki rasa percaya yang lebih tinggi). Jika demikian maka upaya untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem pembayaran tidak akan terlalu sulit. Jika publik tidak terlalu secara relatif memiliki kepercayaan akan dirinya sendiri maka akan sangat sulit meningkatkan kepercayaan publik akan sistem pembayaran.

Dalam konteks mikro, sebuah meta-analisis dari 12 artikel menemukan bahwa umumnya ketika individu menghubungkan kesuksesan mereka dengan penyebab yang stabil (masalah di bawah ken dali mereka), mereka cenderung tidak percaya diri untuk men jadi sukses di masa depan.

Jika seorang individu menghubungkan kegagalan mereka dengan penyebab yang tidak stabil (faktor di luar kendali mereka, seperti badai yang tiba-tiba dan tidak terduga), mereka cenderung percaya diri untuk berhasil di masa depan.

Dalam konteks yang lebih makro maka kondisi itu merupakan cermin an dari publik yang harus di sikapi dengan seksama. Dengan cara berpikir publik yang seperti itu, maka upaya meningkatkan ke percayaan publik pada sistem pembayaran harus memperhatikan faktor di luar kendali publik itu sendiri atau faktor di dalam kendali mereka sendiri.

Itulah pentingnya desain survei yang benar. Hal lain yang juga menentukan adalah peran budaya. Beberapa masyarakat berpendapat bahwa kepercayaan diri lebih adaptif dalam budaya, di mana publik tidak terlalu peduli tentang menjaga hubungan yang harmonis.

Bagi negara seperti Indonesia seharusnya memiliki mental publik yang tidak terlalu peduli dengan kepercayaan public termasuk kepercayaan public terhadap sistem pembayaran. Berbeda misalnya dengan masyarakat Amerika Serikat.

Dengan demikian, rendahnya kepercayaan public terhadap sistem pembayaran, mi salnya di Indonesia, bukanlah ber arti sistem pembayaran sedang memiliki kinerja yang buruk.

*) Presindent Director Center for Banking Crisis 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN