Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sistem Pembayaran dan Strategi Penciptaan Pasar

Achmad Deni Daruri, Jumat, 9 Agustus 2019 | 22:12 WIB

Profesor Universitas Harvard Dani Rodrik mengatakan bahwa penciptaan pasar merupakan kunci penting dalam sistem perekonomian. Namun, ia mengasumsikan sistem pembayaran akan ada dengan sendirinya.

Pendapat Rodrik yang mengasumsikan penciptaan pasar tanpa memberikan kredit kepada sistem pembayaran sangatlah tidak tepat. Inilah kelemahan dari ahli ekonomi kelembagaan yang kerap kali menganggap remeh peran kelembagaan pembayaran dalam konteks sistem pembayaran.

Perlulah diingat bahwa penciptaan pasar tanpa dukungan dari system pembayaran akan membuat pasar yang tercipta tidak optimal secara Keseimbangan Nash. Barter dapat saja dilakukan, namun bagaimanapun barter merupakan sejarah masa lalu dari sistem pembayaran itu sendiri. Penciptaan pasar akan semakin efektif untuk mencapai Keseimbangan Nash, jika dan hanya jika system pembayaran juga menjadi terjadinya Keseimbangan Pareto di dalam perekonomian. Apakah barter akan mampu mencapai keseimbangan Pareto di dalam perekonomian?

Tidak ada jaminan. Penggunaan telepon genggam di Kenya sebagai instrumen pembayaran dalam system pembayaran di negara sedang berkembang lebih menjanjikan terjadinya Keseimbangan Pareto dalam perekonomian Kenya ketimbang penduduk Kenya hanya mengandalkan barter. Dengan demikian, strategi penciptaan pasar haruslah didukung oleh strategi pembangunan sistem pembayaran yang dapat mempermudah semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan kue ekonomi.

Rodrik lebih menekankan bahwa penciptaan pasar harus diimbangi oleh stabilisasi pasar, regulasi pasar, dan legitimasi dari pasar itu sendiri. Sementara itu, stabilisasi pasar, regulasi pasar, dan legitimasi dari pasar juga sangat tergantung kepada bagaimana perkembangan sistem pembayaran di dalam perekonomian tersebut. Menurut Rodrik dan Subramaniam, kelembagaan memengaruhi secara langsung tingkat pendapatan di dalam perekonomian melalui dua instrumen, yaitu property rights dan rule of law.

Sementara itu, tingkat pendapatan di dalam perekonomian akan memengaruhi permintaan masyarakatnya akan kelembagaan yang bagus. Keduanya akan terus bergerak untuk mencapai keseimbangan yang baru secara dinamis.

Boleh jadi, Rodrik dan Subramaniam menganggap sistem pembayaran sebagai bagian dari pasar itu sendiri. Bahkan juga mungkin sistem pembayaran juga berbentuk pasar. Harga dari sistem pembayaran akan direfleksikan oleh pasar sistem pembayaran itu sendiri. Pasar sistem pembayaran yang didukung oleh rule of law dan memiliki property rights akan menghasilkan perndapatan perkapita penduduk yang semakin tinggi.

Dengan demikian, Rodrik dan Subramaniam mengasumsikan bahwa pendapatan perkapaita yang semakin tinggi akan terus tumbuh secara berkelanjutan, selama peningkatan pendapatan yang semakin tinggi tersebut juga menuntut peningkatan kualitas kelembagaan yang berupa stabilisasi pasar, regulasi pasar, dan legitimasi pasar.

Di sinilah sistem pembayaran memainkan peran pentingnya. Sistem pembayaran yang bagus akan mendukung penciptaan pasar secara bersamaan dengan stabilisasi pasar, regulasi pasar, dan legitimasi pasar. Dengan demikian, program pembangunan sistem pembayaran haruslah berorientasi kepada hal-hal tersebut. Permasalahannya, hingga saat ini tidak ada satupun strategi pembangunan sistem pembayaran yang berorientasi kepada penciptaan pasar, regulasi pasar, stabilitasi pasar, dan legitimasi pasar.

Kasus perkembangan sistem pembayaran di Kenya yang menggunakan telepon genggam sebagai alat pembayaran lebih merupakan kecelakaan sejarah ketimbang sebuah upaya yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan sistem pembayaran yang pro kepada kelembagaan itu sendiri. Tidaklah mengherankan juga kalau dalam bukubuku kelembagaan maupun buku-buku sistem pembayaran tidak ada bahasan tentang hal tersebut sedikitpun.

Penulis melihat bahwa pendorong utama dari perkembangan sistem pembayaran adalah perkembangan teknologi itu sendiri. Bukan visi dari pembangunan strategi sistem pembayaran itu sendiri. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Penulis menduga bahwa telah terjadi proses pencarian rente dalam pembangunan sistem pembayaran di seluruh dunia. Hal ini dapat terjadi karena sistem pembayaran cenderung bersifat monopoli dan oligopoli yang disebabkan oleh hambatan entri ke pasar yang tidak mudah.

Sekarang Facebook mencoba membuat mata uangnya sendiri. Namun dengan kondisi pasar pembayaran yang cenderung bersifat monopoli, maka tampaknya upaya Facebook itu hanya akan menggantang asap saja. Upaya Facebook untuk melakukan diferensiasi produk tampaknya tidak akan berhasil dalam konteks sistem pembayaran.

Rule of law dan property rights tidak akan mampu menghalangi kekuatan monopoli dan kartel di dalam pasar. Mungkin Facebook mampu menciptakan pasar untuk produk pembayarannya tersebut, namun apakah kelembagaan pasar lainnya seperti stabilisasi pasar, regulasi pasar dan legitimasi pasar akan mampu mengikuti? Tampaknya tidak.

Dengan demikian, program pembangunan instrumen sistem pembayaran tidak cukup semata-mata hanya mengandalkan kepada strategi penciptaan pasar saja. Walaupun itu memang penting.

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA