Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Spiritualitas Pohon Kehidupan

Jumat, 20 November 2020 | 23:53 WIB
Nirwono Joga *)

Setiap 21 November masyarakat merayakan Hari Pohon Dunia. Tujuannya mengingat kan kembali akan pentingnya keberadaan pohon bagi kehidupan kota dan kita. Pohon telah lama memberikan jasa lingkungan bagi keberlanjutan semua makhluk hidup, kita, dan kota. Kota bukanlah sekadar bangunan dan penghuninya.

Pada kota yang hidup, selalu ada ruang terbuka hijau (RTH) yang dipenuhi pepohonan pembangun peradaban dan kehidupan. Di RTH orang berinteraksi, berolahraga, berkesenian, dan melepas penat di tengah pandemic Covid-19.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) pada Tujuan 11 kota dan komunitas berkelanjutan menetapkan target capaian penyediaan dan akses universal RTH yang aman, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. RTH bisa diakses semua warga, termasuk perempuan hamil, anak-anak, orang lanjut usia, dan disabilitas.

Penyediaan RTH merupakan wujud keseimbangan infrastruktur sosial kota. Keberadaan RTH diperkirakan bisa menjadi solusi bagi tercapainya 17 tujuan dalam SGDs, antara lain mencapai kesehatan yang baik, mendukung ketersediaan air, menjaga mutu udara, mengendalikan perubahan iklim, penyediaan energi bersih, kehidupan kota dan komunitas berkelanjutan, melestarikan kehidupan di darat, serta membangun kemitraan.

Di tengah pandemi Covid-19, kehadiran RTH dibutuhkan warga untuk melepaskan kepenatan (karantina/pembatasan sosial berskala besar), mengolah tubuh agar tetap bugar (kesehatan jasmani rohani), menghirup udara segar dan berjemur menghangatkan badan (kedekatan ke alam).

Pohon sebagai roh RTH kota sudah lama memberikan fungsi dan peran yang signifikan, bahkan konstitutif dalam kehidupan kota dan kita. RTH yang dipenuhi pepohonan memiliki fungsi ekologis yang mampu menyerap polutan udara, meredam kebisingan, meresapkan air dan mengendalikan banjir, menjadi tempat evakuasi bencana, menciptakan iklim mikro kota (meredam pulau panas kota/ urban heat island). RTH yang terkelola baik membuat kota lebih tahan terhadap perubahan iklim.

RTH dengan pepohonan rindang ibarat oase surga kota sekaligus paru-paru kota. Idealnya, kota memiliki minimal RTH sebesar 30% dari total wilayah suatu kota agar kota dapat bernapas lega. Penyediaan RTH bermutu di daerah perkotaan memengaruhi mutu manusia di kota itu.

Satu hektare RTH dengan 16 pohon besar berkanopi 20 meter menghasilkan 0,6 ton oksigen per hari atau setara dengan 219 ton per tahun. Sejumlah ini juga menyerap 2,5 ton karbon dioksida per tahun atau rata-rata 6 kilogram karbon dioksida per batang tiap tahun.

Sejumlah pohon tersebut juga menyimpan 900 meter kubik air tanah per tahun, menurunkan suhu 5-8 derajat Celsius, meredam kebisingan 25-80%, dan mengurangi kekuatan angin 75-80%. Satu pohon besar berdiameter batang 30-50 sentimeter dengan tinggi 15-20 meter mampu menyerap CO2 2,3 kilogram per jam (55,2 kilogram per hari) dan menghasilkan O2 1,7 kilogram per jam (40,8 kilogram per hari).

Rata-rata satu orang dewasa memerlukan O2 sebanyak 2,9 kilogram per hari. Berarti satu pohon bisa melayani O2 bagi 14 orang. Jika 1,4 kilogram O2 seharga Rp 600 ribu, satu orang harus membayar jasa lingkungan ke pohon sebesar Rp 1,249 juta per hari (Rp 37,47 juta per bulan; Rp 449,64 juta per tahun) untuk bernapas.

Keberadaan RTH sejatinya menjadi bagian kearifan budaya bangsa. Hal itu merujuk pada adanya alunalun kota sejak dulu. Alun-alun menjadi tempat warga bertemu, berekspresi, dan rekreasi keluarga.

Di perdesaan juga ada RTH lapangan terbuka bagi warga berkumpul dan berkegiatan bersama. Semua agama menempatkan pohon sebagai simbol dan sumber kehidupan semua makhluk hidup.

Pohon beringin (Ficus benjamina) kembar yang dikurung di tengah alun-alun sebagai pusat kota memiliki nilai filosofi kehidupan yang tinggi bagi masyarakat Jawa. Pohon keben atau lebih popular disebut kalpataru (Barringtonia asiatica) dipilih sebagai lambang penghargaan bagi kota/kabupaten yang dinilai berhasil menata lingkungan hidupnya. 

Dalam riwayat agama Budha, Sidharta Gautama bertapa di bawah pohon bodhi (Ficus reliogosa) ketika mendapatkan pencerahan kehidupan. Sidharta mendapati dirinya duduk di atas tanah empuk dan lem but di bawah pohon ara/bodhi. Na pas alam bercampur dengan na pasnya, pohon-pohon dan tanaman rambat seakan tumbuh dari tu buhnya, tulis Deepak Chopra (Buddha, 2011).

Hal ini menunjuk kan betapa kesatuan manusia dan po hon dapat melambungkan mata batin spiritualitas manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Pohon bodhi ba nyak ditanam di kawasan Candi Borobudur sesuai yang terpahat di relief candi. Pohon kiara payung (Filicium de cipiens) yang terpahat di relief Candi Prambanan menjadi simbol sebagai “tangga ke langit”.

Pohon kamboja (Plumeria alba) dipercaya ma syarakat Afrika, yang kemudian di anut masyarakat Hindu, untuk me ngusir roh jahat sehingga banyak ditanam di pura atau taman pemakaman.

Kesadaran mental dan spiritual dapat memperkuat logika atau akal untuk bertekad melestarikan pohon sebagai wujud keselarasan antara manusia dan alam. Selamat Hari Pohon.

*) Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN