Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dato Sri Tahir dan Badri Munir Sukoco

Dato Sri Tahir dan Badri Munir Sukoco

Stimulus Covid-19

Dato’ Sri Tahir *) dan Badri Munir Sukoco **), Senin, 23 Maret 2020 | 21:03 WIB

Sejak Covid-19 diumumkan sebagai pandemi global oleh Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) 11 Maret lalu, tingkat kekhawatiran akan perekonomian dunia semakin meningkat. Hal ini seiring dengan pesimisme yang disampaikan oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) bahwa Covid-19 akan membuat pereknomian dunia hilang + US$ 1 triliun dan pertumbuhan ekonomi dunia di bawah 2%, jauh di bawah prediksi sebelumnya yang mencapai 2,5% (World Bank, Januari 2020).

Selain gangguan supply chain dari dan ke Tiongkok, kebijakan lock-down dan semi lockdown di banyak negara, maupun ketidakpastian yang diakibatkan harga minyak, berisiko memperparah kondisi yang ada.

Tanda-tanda akan resesi mulai terlihat dengan memudarnya tingkat kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis yang ada. Per 16 Maret 2020, Bloomberg melaporkan indeks Dow Jones turun 19%, sedangkan indeks Nikkei turun 27%, dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) -33%.

Sektor industri paling terdampak adalah industri penerbangan, di mana International Air Transport Association (IATA) memprediksi pandemi Virus Korona baru atau novel coronavirus 2019 (2019- nCoV) yang merupakan penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menghilangkan pendapatan sebesar US$ 113 miliar dikarenakan sedikitnya orang yang bepergian, baik domestik maupun antarnegara.

Hal ini tentunya berdampak pada industri ikutannya, seperti turisme, hotel, restoran, taksi dan lain sebagainya. International Civil Aviation Organization (ICAO) memprediksi bahwa Jepang akan kehilangan US$ 1,29 miliar dari wisatawan Tiongkok, sedangkan Thailand akan kehilangan US$ 1,15 miliar.

Bagaimana dengan di Indonesia? Dalam 2 minggu terakhir kita menyaksikan menurunnya kepercayaan investor pada kinerja perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari awal tahun, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 31,09% ke 4.330,67 (19 Maret). Dibandingkan awal tahun, Rupiah terdepresiasi hingga 15,12% terhadap US$. Hal ini patut dipahami, mengingat ketidakpastian yang terjadi akan membuat semua orang akan mengubah investasi yang dianggap memberikan kepastian dengan nilai yang stabil.

Selain US$, emas menjadi pelarian yang mengakibatkan harganya naik hingga 22,41% (19 Maret 2019) dibandingkan 2 Januari 2019. Apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia agar kontraksi ekonomi dapat diminimalisir? Richard Kozul-Wright, salah satu direktur UNCTAD, menyarankan tiada lain agar masing-masing pemerintahan perlu mengeluarkan stimulus untuk menggerakkan ekonomi yang terdampak sangat keras oleh pandemi Covid-19.

Respons Negara Lain

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan proposal 3 tahap kepada Kongres Amerika Serikat untuk merespons pandemi. Pertama, stimulus ekonomi sebesar US$ 8,3 miliar untuk meminimalisir pandemi Covid-19 guna membiayai riset terkait vaksin, stimulus bagi pemerintah negara bagian dan kota untuk memerangi penyebaran virus, dan mengalokasikan dana untuk mencegah tersebarnya virus ke luar AS.

Kedua, memberikan fasilitas gratis untuk tes Covid-19 bagi yang membutuhkan, cuti darurat yang dibayar, asuransi yang diperluas bagi penganggur, keamanan makanan, serta peningkatan dana Medicaid.

Selain itu, memperpanjang pembayaran pajak bagi wajib pajak individu maupun badan usaha hingga 90 hari dari 15 April, sehingga dana US$ 300 miliar terbebaskan selama 3 bulan untuk diputar ulang. Individu bisa menunda pembayaran pajak hingga maksimal US$ 1 juta dan badan usaha hingga maksimal US$ 10 juta.

Ketiga, stimulus ekonomi sebesar US$ 1 triliun dengan rincian sebagai berikut: membagikan stimulus ekonomi sebesar US$ 500 miliar melalui pendistribusian US$ 1,000 (rata-rata, tergantung tingkat pendapatan dan jumlah keluarga) kepada setiap pembayar pajak (tahap pertama 6 April dan kedua 18 Mei 2020).

Tahapan ini juga memberikan bantuan bagi pelaku usaha yang terdampak, misalnya US$ 50 miliar untuk industri penerbangan dan kargo; US$ 150 miliar untuk severely distressed sectors berupa jaminan pinjaman bagi sektor pariwisata, khususnya perhotelan dan cruise ship; US$ 300 miliar untuk garansi 100% bagi pinjaman sektor UKM agar ada kontinuitas pekerjaan dengan 500 karyawan atau kurang.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, tanggal 12 Maret mengumumkan stimulus ekonomi sebesar A$ 17,6 miliar dengan tujuan utama agar warga negara Australia tetap memiliki pekerjaan dan pebisnis (khususnya UKM) tetap berbisnis. Terdapat 4 bagian stimulus ekonomi: Pertama, mendukung investasi bisnis (A$ 3,9 miliar). Kedua, menyediakan bantuan arus kas (pinjaman) agar UKM tetap berbisnis (A$ 6,7 miliar) dan mempertahankan pegawainya bekerja (A$ 1,3 miliar).

Ketiga, membantu sektor bisnis, kota, dan komunitas yang terdampak berat sebesar A$ 1 miliar. Keempat, stimulus A$ 4,8 miliar bagi rumah tangga (pensiunan, veteran, social security, dan lain yang mendapatkan bantuan selama ini) yang akan memberikan kemanfaatan bagi ekonomi Australia secara keseluruhan.

Korea Selatan mengumumkan stimulus ekonominya pada 4 Maret 2020 sebesar 11,7 triliun won (setara dengan US$ 9,8 miliar) untuk memulihkan perekonomiannya. Sama dengan negara lain, Menteri Keuangan Hong-Nam Ki akan memfokuskan pada sektor perekonomian yang rentan, UKM dan sektor informal lainnya.

Penutupan defisit pendapatan negara menghabiskan 3,2 triliun won, sedangkan layanan kesehatan dan karantina diberikan alokasi sebesar 2,3 triliun won, UKM yang kesulitan membayar pegawainya dan subsidi perawatan anak sebesar 3 triliun won, sisanya digunakan untuk injeksi fiskal.

Bagaimana dengan Tiongkok, negara asal pandemi Covid-19? Meskipun sampai saat ini belum diumumkan stimulus keuangan, namun lewat People’s Bank of China (PBOC), bank sentral Tiongkok, pada 3 Februari 2020 memperpanjang pinjaman sebesar US$ 174 miliar untuk membuat pasar uang stabil dan perbankan memiliki cash on hand. Besoknya, jumlah tersebut ditambah sebesar US$ 71 miliar.

Selain mengurangi lending facility rate pada 16 Februari, pada 13 Maret persyaratan cadangan bank yang bisa dipinjamkan ke sektor riil diturunkan sebesar US$ 79 miliar.

Hal yang sama juga dilakukan negara-negara lain dengan menyediakan stimulus ekonomi, seperti Jepang, Inggris, Italia, Prancis, Jerman, Kanada. International Monetary Fund (IMF) menyediakan US$ 50 miliar pada 4 Maret, di mana US$ 10 miliar di anaranya adalah pinjaman dengan bunga 0% bagi negara anggotanya.

Bahkan IMF menjanjikan bisa memobilisasi pinjaman hingga US$ 1 triliun bila diperlukan, di mana masing-masing anggota bisa meminjam hingga US$ 1 miliar (dari US$ 400 juta kapasitas maksimal saat ini).

Bank Dunia pada 3 Maret mengeluarkan paket awal pinjaman sebesar US$ 12 miliar untuk negara-negara yang terdampak oleh Covid-19, di mana US$ 8 miliar adalah pinjaman baru dan sisanya merupakan perpanjangan dari pinjaman saat ini yang tersalurkan.

Stimulus

Dari fakta terbaru hingga 19 Maret 2020 di atas (bisa jadi kebijakan pemerintahan di atas berubah seiring dinamika perekonomian dunia dan politik di dalam negeri masing-masing), secara umum ada 5 macam stimulus yang dilakukan oleh masing-masing negara.

Pertama, stimulus untuk mendukung penguatan layanan kesehatan dan dana operasional untuk mengefektifkan kebijakan lock-down atau semi lock-down yang diambil. Kedua, memberikan bantuan langsung tunai bagi warga negara (tentunya disesuaikan dengan level pendapatan dan jumlah keluarga yang ditanggung) untuk memampukan mereka berkonsumsi sekaligus menggerakkan sektor riil di domestik.

Ketiga, memberikan stimulus bagi UKM yang memiliki porsi terbesar dan paling terdampak dengan menjamin pinjamannya atau penggajian pegawainya agar tidak di-PHK. Keempat, memberikan stimulus bagi sektor-sektor perekonomian yang paling terdampak dan dipastikan akan bangkrut dan memperbesar jumlah pengangguran yang ada.

Kelima, memberikan stimulus pengurangan suku bunga, mengurangi persyaratan cadangan bank, maupun memberikan stimulus pajak bagi individu maupun badan usaha.

Hal-hal praktis yang membuahkan hasil cepat harus segera dilakukan di sektor-sektor berpotensi. Pertama, pembukaan sektor kelautan untuk menangkap ikan-ikan dan disertai dengan investasi penyimpanan dingin (cold storage) dan pengalengannya. Kedua, di sektor pertambangan, relaksasi perizinan ekspor dan investasi harus ditempuh, paling tidak di saat masa penanganan Covid-19 di RI.

Ketiga, industri padat karya juga harus diberi prioritas supaya mereka semakin mampu dan dimantapkan untuk menyerap tenaga kerja. Bisa ditempuh dengan tax holiday untuk periode tertentu. Contoh, jika ada pabrik atau usaha yang bisa menunjukkan punya kar yawan +/- 2.000 atau lebih, pemerintah berikan tax holiday. Ini untuk merangsang keberanian investasi dan membuka usaha yang bisa menampung banyak tenaga kerja.

Keempat, Covid-19 juga mengancam sektor pariwisata, suatu sektor unggulan RI. Oleh karena itu, investasi di sektor pariwisata harus diberi insentif yang agresif, sebagai contoh pembebasan corporate tax untuk beberapa tahun.

Kelima, hal pragmatis lain yang juga tidak kalah penting: UMKM menyumbang sebesar 60% pertumbuhan ekonomi nasional. Mereka perlu menerima bantuan kredit murah yang lebih terjangkau dari KUR, idealnya +/- 2% untuk UMKM.

Keenam, data menunjukkan merosotnya penjualan properti, contoh, penjualan proper ti residensial kontraksi 16,33%. Sektor strategis ini juga perlu distimulasi. Restriksi yang ada pada pengaturan kepemilikan tanah dan bangunan, dan juga pajak-pajak terkait juga harus direlaksasi, supaya ada capital masuk ke Indonesia.

Ketujuh, investasi di sektor yang dapat memperkuat ketahanan pangan, seperti pertanian, pembudidayaan ikan, juga diberi fasilitas kredit murah, mungkin 2% per tahun.

Semua kepala negara dan kepala pemerintahan menyadari pandemi Covid-19 adalah fenomena global yang serius.

Sebagaimana pembuka pidato Kanselir Jerman, Angela Merkel, “Es ist Ernst (This is serious).” Tentu Pemerintah Indonesia akan “take it seriously.” Melihat pergerakan nilai tukar rupiah dan turunnya IHSG yang cukup dalam, sudah saatnya pemerintah mengeluarkan paket-paket stimulus yang lebih serius agar tingkat kepercayaan masyarakat dan pelaku bisnis meningkat. Dan yang utama adalah menjadikan rumah tangga dan UKM tetap dapat berkonsumsi di tengah pandemi Covid-19.

Beberapa berita positif terkait ditemukannya vaksin Covid-19 dalam 2 minggu terakhir cukup melegakan, baik oleh tim riset di Tiongkok, Jepang, maupun Australia. Namun sebagian besar ahli menyatakan bahwa Covid-19 akan bersirkulasi antara 4 bulan hingga yang paling parah 2 tahun.

Tentu tidak salah jika Pemerintah Indonesia telah menyiapkan skenario untuk menyikapinya. Dan tentunya diiringi doa kita semua agar pandemi ini lekas hilang dari bumi kita tercinta.

*) Pendiri Mayapada Group, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Republik Indonesia

**) Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN