Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sri Juli Asdiyanti, ASN Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara

Sri Juli Asdiyanti, ASN Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara

Strategi Menekan Defisit Neraca Perdagangan

Sri Juli Asdiyanti, Kamis, 13 Juni 2019 | 09:24 WIB

Neraca perdagangan Indonesia kembali terpuruk. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia sepanjang April 2019 mencapai US$ 2,5 miliar dan menjadi rekor terparah sejauh ini. Sejak periode Januari sampai April 2019, akumulasi deficit mencapai US$ 2,65 miliar.

Menurut BPS, defisit pada bulan ini disumbang oleh defisit neraca sektor migas dan non migas. Sektor migas mengalami defisit sebesar US$ 1,49 miliar, sementara sektor non migas mengalami defisit sebesar US$ 1,01 miliar. Defisit neraca perdagangan Indonesia bukan baru terjadi tahun ini. Pada 2018, deficit yang terjadi juga cukup tinggi, yaitu berkisar US$ 8,57 miliar.

Hal ini tentu menjadi alarm atau peringatan kurang baik di tengah isu melambatnya perekonomian global. Melebarnya defisit neraca perdagangan akan berimbas pada pasar keuangan, sentimen di pasar modal serta pertumbuhan ekonomi. Pembayaran defisit neraca perdagangan berisiko mengikis cadangan devisa Negara dan menekan nilai tukar rupiah. Terlebih lagi, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang belum juga mereda.

Tidak dapat dimungkiri, perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia ini berdampak pada Indonesia, sebab kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan defisit. Sayangnya, langkah ini masih belum sepenuhnya berhasil.

Hal ini boleh jadi karena ada beberapa hal yang perlu dikaji ulang oleh pemerintah. Pertama, defisit neraca perdagangan yang begitu besar mengindikasikan bahwa Indonesia masih belum bisa mengurangi ketergantungannya terhadap produk impor. April 2019, BPS mencatat peningkatan impor pada semua golongan penggunaan barang dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tertinggi terjadi pada barang konsumsi dengan kenaikan sebesar 24,12%.

Sementara itu, bahan baku atau penolong naik sebesar 12,09% dan barang modal sebesar 6,78%. Tren kenaikan impor secara bulanan sering dijumpai pada bulan Ramadan dan jelang Idul Fitri.

Kembali lagi, pengendalian perilaku konsumtif di bulan Ramadan serta antisipasi lonjakan permintaan kebutuhan pokok harus dilakukan untuk mencegah bocornya keran impor selama bulan tersebut.

Kedua, pembenahan komposisi utama ekspor Indonesia. Faktanya, ekspor Indonesia didominasi oleh ekspor bahan mentah yang pergerakan harganya dipengaruhi oleh iklim perdagangan internasional.

Defisit April 2019 salah satunya juga disebabkan oleh anjloknya harga beberapa komoditas penyumbang ekspor Indonesia seperti batu bara, minyak kernel, timah, dan nikel di pasar dunia. Kinerja sektor industry manufaktur yang masih perlu dioptimalkan juga membatasi kemampuan Indonesia untuk mengekspor barang jadi atau final goods. Geliat pertumbuhan industri masih harus dibenahi melalui kebijakan yang tepat serta pemberdayaan usaha mikro, kcil dan menengah (UMKM). Implementasi Revolusi Industri 4.0 lewat roadmap Making Indonesia 4.0 harus selalu dikaji dan dievaluasi agar berjalan sesuai harapan.

Selain itu, Indonesia perlu mendongkrak partisipasinya dalam Global Value Chain (GVC). Saat ini indeks kontribusi Indonesia adalah 43,5 atau masih berada di bawah ratarata kontribusi agregat negara berkembang yaitu 48,5. Indeks kontribusi Indonesia masih jauh di bawah Malaysia dengan indeks kontribusi yang tinggi mencapai 60,8. Begitu pula dengan Thailand sebesar 54,3 dan Tiogkok sebesar 47,7.

Partisipasi Indonesia dalam Global Value Chain (GVC) perlu ditingkatkan untuk mengurangi dominasi ekspor komoditas mentah. Global Value Chain (GVC) memiliki konsep dasar yaitu melibatkan beberapa Negara dalam proses produksi barang, pemasaran maupun investasi, baik berupa input maupun tenaga kerja.

Keunggulan Global Value Chain (GVC) yaitu menawarkan efisiensi kegiatan perusahaan. Setiap negara memiliki spesialiasi dan pembagian risiko. Global Value Chain (GVC) dalam pelaksanaannya memungkinkan sumber daya untuk diolah secara optimal sehingga dapat meningkatkan kualitas output yang dihasilkan.

Melalui keikutsertaan Indonesia dalam Global Value Chain (GVC) memungkinkan Indonesia untuk dapat bergabung menjadi bagian dalam rantai produksi dunia. Sebagai hasilnya, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah, tidak hanya berasal dari ekspor komoditas mentah tetapi juga ekspor industry pengolahan.

Melalui roadmap Making Indonesia 4.0, peran usaha mikro, kecil dan menengah untuk mendorong Global Value Chain (GVC) juga seharusnya dapat ditingkatkan. Strategi ini akan efektif karena selain mendorong nilai tambah ekspor, pertumbuhan ekonomi juga dapat berjalan secara inklusif dan hubungan Indonesia dengan negara lain dapat terjalin.

Upaya lain untuk mengurangi defisit neraca perdagangan adalah mengkaji kembali perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) dengan beberapa negara dan kawasan. Perluasan basis pasar ke beberapa negara non-tradisional melalui diplomasi dagang dapat mengurangi dampak perang dagang terhadap Indonesia.

Saat ini Tiongkok dan Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor maupun impor Indonesia. Gejolak perekonomian yang terjadi di kedua negara ini akan berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia.

Sri Juli Asdiyanti, ASN Badan Pusat Statistik Provinsi

Maluku Utara

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA