Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Susi dan Sistem Informasi Kelautan

Sabtu, 15 November 2014 | 23:03 WIB
Oleh Hemat Dwi Nuryanto

Gebrakan awal Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk menata dan mengoptimasi usaha perikanan tangkap perlu ditunjang dengan sistem informasi perikanan dan kelautan yang relevan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

 

Sangat ironis jika sekitar 5.000 unit kapal berukuran 30 gross tonnage (GT) yang tengah beroperasi di perairan Indonesia ternyata hanya meraup pendapatan rata-rata Rp 60 juta perunit/pertahun. Pendapatan tersebut jelas tidak sebanding dengan penggunaan solar bersubsidi dan berbagai insentif yang selama ini diberikan kepada operator kapal tersebut. Dengan penggunaan solar subsidi sebanyak 1,5 hingga 2 ton per hari, serta hasilnya yang tak sebanding dengan besaran subsidi yang dikeluarkan, hal itu jelas merupakan kerugian yang cukup besar bagi negara.

 

Untuk mengatasi kecilnya pendapatan yang diperoleh kapal tipe 30 GT maka perlu dilakukan sejumlah terobosan teknologi, selain system pengawasan yang ketat dan tindakan hukum yang keras. Sangat dibutuhkan sistem informasi perikanan yang andal dan mudah diakses oleh nelayan dan penguasaha perikanan tangkap.

 

Selama ini, berbagai produk perikanan tangkap sering berada dalam kondisi stagnan. Ini karena nelayan mengalami keterbatasan alat tangkap terutama kapal dan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknologi tentang kelautan dan perikanan. Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang telah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk pengadaan ribuan kapal tangkap untuk nelayan ternyata juga tidak optimal. Karena itu, harus ada dukungan sistem informasi yang mampu menggambarkan kondisi real time menyangkut kelautan dan perikanan.

 

Sistem Informasi Geografis

Salah solusi yang terintegrasi untuk mengotimalkan usaha di bidang perikanan dan kelautan adalah tersedianya e-ocean fisheries government, berupa sistem informasi berbasis geografis (SIG) dengan kemampuan businees inteligent serta memiliki keandalan interoperabilitas sehingga bisa berbagi informasi secara luas. Berbagai database informasi perikanan global juga dapat diakses melalui SIG. Di sini akan tersedia berbagai informasi seperti statistic perikanan, peta sebaran ikan menurut spesies, isue dan topik perikanan aktual, budidaya, perikanan laut dan teknologi penangkapan. Data tersebut tersedia kapan dan dimana saja diperlukan.

 

Sistem ini harus mudah diakses, mudah di-update setiap saat, mudah dipantau, sekaligus bisa berfungsi sebagai sistem informasi ekosistem nasional yang saat ini telah menjadi isu global. E-ocean fisheries government bertujuan untuk memenuhi informasi yang lengkap tentang kondisi kelautan nasional, baik dari sisi sumber daya laut, keadaan perairan, cuaca, kejadian penting di laut, tanda-tanda navigasi laut yang sangat membantu bagi kapal berlayar di lautan, dan segala informasi mengenai laut lainnya.

 

Dalam kegiatan penangkapan ikan, selalu muncul pertanyaan klasik, yakni dimana ikan di laut berada dan kapan ikan-ikan tersebut bisa ditangkap dalam jumlah besar? Pertanyaan penting itu perlu dicari solusinya. Apalagi usaha penangkapan dengan pencarian habitat ikan yang tidak menentu bisa menimbulkan risiko tinggi, seperti pemborosan bahan bakar, buang-buang waktu, dan tenaga nelayan. Dengan mengetahui area dimana ikan bisa ditangkap dalam jumlah besar, hal itu tentunya akan menghemat biaya operasi penangkapan.

 

Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik adalah mengkombinasikan kemampuan SIG dan penginderaan jauh (inderaja) kelautan. Dengan teknologi inderaja, faktor-faktor lingkungan laut yang memengaruhi distribusi, migrasi, dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat, dan dengan cakupan area yang luas. Ikan dengan mobilitasnya yang tinggi pun akan lebih mudah dilacak di suatu area melalui sistem teknologi informasi tersebut,

 

Data indikator oseanografi yang cocok untuk ikan perlu juga diintegrasikan dengan berbagai layer pada SIG karena ikan sangat mungkin merespons bukan hanya pada satu parameter lingkungan saja, tapi berbagai parameter yang saling berkaitan. Kombinasi SIG, inderaja, dan data lapangan akan mampu memberikan banyak informasi tentang dimanakah posisi ikan tertangkap, berapa jaraknya antara fishing base dan fishing ground yang produktif, serta kapan musim panen ikan yang paling efektif.

 

Penangkapan Ikan Tuna

Penggunaan SIG yang kini cukup signifikan adalah kegiatan penangkapan ikan tuna di Lautan Pasifik oleh perusahaan modern dari Jepang atau Korea. Dalam aktivitas mereka di kawasan itu, ada dua database yang digunakan yakni satelit dan data perikanan tuna, lalu dikombinasikan dalam mengembangkan spasial analisis daerah penangkapan ikan tuna. Biasanya ada empat layer data yang diintegrasikan, yaitu suhu permukaan laut, tingkat konsentrasi klorofil, perbedaan tinggi permukaan air laut, dan eddy kinetik energi (EKE). Parameter pertama dipakai karena berhubungan dengan kesesuaian kondisi fisiologi ikan dan thermoregulasi untuk ikan tuna.

 

Sementara itu, parameter kedua dapat menjelaskan tingkat produktivitas perairan yang berhubungan dengan kelimpahan makanan ikan; dan parameter yang ketiga berhubungan dengan kondisi sirkulasi air daerah yang subur seperti eddy dan upwelling; serta parameter terakhir berhubungan dengan indeks untuk melihat daerah subur dan kekuatan arus yang mungkin memengaruhi distribusi ikan. Data penangkapan ikan tuna diplot pada peta lingkungan yang dibangkitkan dari citra satelit.

 

Setiap spesies ikan mempunyai karakteristik oseanografi kesukaannya masing-masing dan cenderung menempati daerah tertentu, dan itu bisa dipelajari atau dibuatkan permodelannya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan teknologi SIG.

 

Database mestinya menjadi isu penting dalam mengembangkan produksi perikanan tangkap di Indonesia. Database tersebut juga sangat penting untuk mengetahui secara persis berapa sebenarnya potensi stok ikan yang kita miliki dan dimana saja stok ikan tersebut bisa ditangkap dan kapan waktunya bisa dipanen.

 

Hemat Dwi Nuryanto, Chairman & Chief Innovation di Zamrud Technology; alumnus UPS Toulouse Prancis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN