Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Herta

Agus Herta

Tahun 2020, Berharap Era Suku Bunga Rendah

Agus Herta Sumarto *), Rabu, 22 Januari 2020 | 11:28 WIB

Sepanjang tahun 2019 Bank Indonesia (BI) telah melakukan empat kali penyesuaian suku bunga acuannya, dimulai dari bulan Juli sampai dengan Oktober. Setelah itu, BI tetap mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) pada level 5%, suku bunga Depocit Facility 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,75%.

Keputusan BI menurunkan tingkat suku bunga acuan merupakan keputusan yang sesuai dengan ekspektasi para pelaku ekonomi. Para pelaku ekonomi sangat berharap penurunan suku bunga acuan ini dapat menjalar dan memengaruhi tingkat suku bunga efektif yang ditetapkan oleh lembaga perbankan.

Jika dibandingkan dengan bulan Juni 2019, total BI telah menurunkan tingkat BI-7DRRR sebanyak 100 bps, yakni dari 6,00% menjadi 5,00%. Dengan besarnya penurunan suku bunga acuan yang terjadi pada 2019, maka dapat dipahami jika para pelaku ekonomi berharap pada 2020 suku bunga kredit lembaga perbankan dapat ikut turun dalam jumlah yang signifikan.

Lebih jauhnya, penurunan suku bunga acuan tersebut diharapkan dapat kembali memasukkan Indonesia ke dalam era suku bunga rendah.

Namun ekspektasi para pelaku ekonomi tersebut sepertinya tidak akan semulus yang diharapkan. Kondisi ekonomi politik global dan nasional masih akan menjadi variabel penentu dari pergerakan suku bunga lembaga perbankan.

Kondisi Ekonomi Politik Global dan Nasional

Pada awal tahun 2020 dunia dikejutkan oleh serangan drone pasukan Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani. Serangan tersebut menciptakan ketegangan baru antara AS dan Iran, yang tentunya menciptakan pula kekhawatiran yang sangat besar bagi dunia internasional termasuk para pelaku ekonomi global.

Walaupun Presiden Amerika Donald Trump mencoba mendorong sentimen positif para pelaku ekonomi global melalui gerakan relaksasi perang dagang dengan Tiongkok, kekhawatiran para pelaku ekonomi global masih belum sirna. Para pelaku ekonomi masih diselimuti kekhawatiran dari ketidakpastian geopilitik di Timur Tengah dan perubahan sikap dan kebijakan Trump terkait perjanjian relaksasi tersebut.

Oleh karena itu, sampai saat ini The Fed masih belum berani menentukan sikap untuk merespons dinamika geopolitik ekonomi global yang disebabkan oleh Trump tersebut.

Sampai saat ini, The Fed masih tetap membuka opsi untuk menetapkan suku bunga negatif jika kondisi ekonomi AS masih tidak kunjung membaik. Hal ini menandakan bahwa perekonomian AS masih membutuhkan stimulus yang sangat kuat untuk menarik modal (capital inflow) ke dalam sistem perekonomiannya. Oleh karena itu, sangat dipahami jika nilai tukar dolar AS terus terkapar terhadap hampir semua mata uang dunia. Masih belum stabilnya perekonomian AS ditambah dengan masih longgarnya suku bunga The Fed, menjadikan BI masih memiliki ruang yang cukup untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya, atau bahkan kembali menurunkannya.

Dengan menetapkan tingkat suku bunga yang menarik bagi investor global maka kemungkinan terjadinya capital inflow masih tetap terbuka lebar sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bisa terus menguat.

Selain kondisi ekonomi global yang mendukung suku bunga rendah, kondisi ekonomi nasional juga bisa dinilai kuat. Dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mulai stabil di kisaran angka 5%.

Selain itu, beberapa variable makro ekonomi lainnya juga memperlihatkan tren pergerakan yang meyakinkan. Tingkat inflasi yang menjadi variabel utama penentu tingkat suku bunga, sepanjang tahun 2019 bergerak rendah di kisaran angka 3-4%.

Celah yang Tersedia

Kondisi ekonomi politik global dan nasional seolah-olah bisa memberikan ruang dan celah yang cukup besar kepada BI untuk mendorong era suku bunga rendah. Penurunan tingkat suku bunga acuan diharapkan dapat mendorong lembaga perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kreditnya sehingga para pelaku ekonomi dapat memperoleh dana murah dari lembaga perbankan.

Dana murah ini akan mendorong setiap pelaku ekonomi untuk melakukan ekspansi usaha sehingga secara agregat dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Namun sejatinya ruang dan celah yang ada saat ini tidaklah sebesar yang diperkirakan. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan di level 5% bukanlah kondisi yang ideal. Pertumbuhan ekonomi 5% tidak akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru yang berkualitas dan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Hal yang sama dengan tingkat inflasi. Berdasarkan teori Kurva Philip, tingkat inflasi yang rendah menandakan belum adanya ekspansi usaha. Hal ini terkonfirmasi dari pertumbuhan ekonomi yang stagnan rendah di level 5% selama lima tahun terakhir.

Peningkatan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat keuangan global, Standard and Poor’s (S&P), tidak berdampak signifikan terhadap perkembangan investasi Indonesia. Investor global memandang investasi di Indonesia masih berisiko. Hal ini terlihat dari perkembangan Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II-2019. Pada kuartal II- 2019 realisasi PMA hanya mencapai Rp 104,9 triliun. Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, realisasi PMA pada kuartal II-2019 ini naik 9,6%. Namun jika dibandingkan dengan realisasi PMA pada kuartal I-019, maka realisasi PMA pada kuartal II-2019 mengalami penurunan sebesar 2,3%.

Menurunnya realisasi PMA ini menandakan bahwa investor asing masih memiliki sentimen negatif dan memandang Indonesia sebagai Negara yang masih memiliki risiko dalam sistem perekonomian.

Terdapat dua risiko yang menjadikan suku bunga kredit bank sulit turun, yakni unsystematic risk dan systematic risk. Sampai saat ini, systematic risk dalam perekonomian Indonesia masih dianggap tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang belum berkualitas, inflasi yang terlalu rendah, volatilitas nilai tukar yang masih tinggi, serta pertumbuhan investasi yang masih rendah menjadikan variabel systematic risk di Indonesia masih dianggap tinggi.

Dengan demikian, pada tahun 2020 ini diperlukan usaha yang lebih keras untuk menurunkan suku bunga kredit bank dari sekadar menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia.

*) Dosen FEB UMB dan Peneliti Indef

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA