Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi transisi energi. ( Foto: energy-cities.eu )

Ilustrasi transisi energi. ( Foto: energy-cities.eu )

Tantangan New Normal untuk Mendukung Transisi Energi

Selasa, 18 Januari 2022 | 16:25 WIB
Yohanes Handoko Aryanto )*

JAKARTA, investor.id - Setelah terjadi penurunan penggunaan energi fosil dan emisi karbon karena pandemi yang membatasi  aktivitas pada tahun 2020, energi fosil kini telah kembali dan menunjukkan supremasinya. Indikasi terlihat dalam laporan Energy Information Administration (EIA) bahwa permintaan minyak tahun 2021 telah  mendekati tingkat sebelum pandemi meskipun mobilitas masih belum sepenuhnya pulih. Permintaan batubara global tumbuh sebesar 6%. Sementara itu Copernicus Climate Change Service (C3S) melaporkan peningkatan karbon dioksida di atmosfer sebesar 4.9% pada tahun 2021. 

Cuaca & Pemulihan Ekonomi 

Kembalinya energi fosil terkait dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan cuaca ekstrem pada  tahun 2021. Seperti yang dilaporkan oleh International Energy Agency (IEA), musim dingin pada tahun  2021 yang lebih dingin dari rata-rata, meningkatkan permintaan listrik global hingga 6%, lonjakan tertinggi  sejak pemulihan krisis ekonomi pada tahun 2010. Di Eropa, kurangnya pasokan gas serta lemahnya angin  menurunkan pasokan listrik dari turbin angin yang menyebabkan batubara kembali digunakan. 

Dari sisi ekonomi, meskipun varian delta sempat membayangi situasi global pada tahun 2021, secara umum terjadi pemulihan aktivitas ekonomi. Dalam laporan terbarunya (Januari 2022), World Bank melaporkan terjadi peningkatan perekonomian global sekitar 5.5% pada tahun 2021. 

Pemulihan Mobilitas 

Berdasarkan data dari Google Mobility Index, mobilitas di pusat perbelanjaan ritel dan rekreasi secara  global sudah pulih ke tingkat pre-pandemi pada akhir Juni 2021, sementara mobilitas di taman kota sudah  pulih pada akhir Mei 2021. Untuk mobilitas perkantoran, meskipun belum pulih namun sudah mengalami tren peningkatan. Di sisi lain, mobilitas di pusat transportasi umum masih belum pulih.  

Situasi ini menunjukkan beberapa hal menarik. Pertama, belum pulihnya aktivitas kantor namun pulihnya  aktivitas di pusat perbelanjaan ritel dan rekreasi serta taman kota menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan penyegaran di luar rumah setelah lebih dari satu tahun aktivitasnya terbatasi di dalam  rumah. Kedua, belum pulihnya mobilitas di pusat transportasi umum menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menggunakan transportasi pribadi. Kondisi ini cukup wajar karena masih terjadi pembatasan transportasi umum dan sentimen atas kemungkinan penularan Covid-19 dalam transportasi umum yang  menyebabkan masyarakat lebih berhati-hati. Namun, jika trenmobilitas transportasi umum yang belum pulih dikombinasikan dengan tren peningkatan mobilitas di perkantoran, muncul risiko peningkatan emisi karbon dari aktivitas perjalanan kantor yang disebabkan penggunaan transportasi pribadi. 

New Normal untuk Penurunan Emisi 

Kembalinya energi fosil dan peningkatan emisi karbon tentunya harus segera ditangani bersama. Terdapat  beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mendukung hal tersebut. 

Pertama, melanjutkan work from home (WFH). Tahun 2020 telah menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas kantor dapat berjalan tanpa karyawan harus berada di kantor. Perjalanan kantor selain  menghasilkan emisi juga menghilangkan waktu produktif karyawan, terutama jika terjadi kemacetan. Belum lagi emisi dari penggunaan gedung. Berdasarkan simulasi IEA (2021), WFH selama 3 hari seminggu dapat menurunkan emisi karbon sekitar 1.2% per tahun. Walaupun, 100% WFH untuk saat ini masih belum memungkinkan.

Teknologi digital saat ini baru mencakup 2 indera (penglihatan dan pendengar),  sementara manusia pada umumnya memerlukan keseluruhan indera untuk dapat memahami dengan  baik satu sama lain dan lingkungannya. 

Kedua, memangkas rantai pasokan kebutuhan sehari-hari. Untuk menurunkan emisi, kita perlu mencari  sumber kebutuhan sehari-hari dari lokasi yang terdekat dari tempat tinggal. Kita juga dapat mencari lokasi untuk menyegarkan pikiran yang dekat dari tempat tinggal. Di sini pemerintah dapat berperan untuk menyediakan taman-taman kota yang dapat menjadi tempat menyegarkan pikiran sekaligus menyerap emisi karbon. 

Ketiga, mengurangi perhelatan besar. Sudah menjadi budaya manusia untuk berkumpul dan menyelenggarakan perhelatan. Sebagai contoh, setelah kita berhasil melakukan forum webinar, wisuda bahkan konser daring selama pandemi, pada tahun 2021 perwakilan berbagai negara bertemu untuk menyepakati aksi-aksi penurunan emisi dalam forum COP26, dengan menghasilkan emisi dari  penerbangan dan perjalanan darat ke lokasi pertemuan di Glasgow. Diperkirakan emisi dari acara ini mencapai 102,500 ton CO2. Dalam konteks penurunan emisi, ada baiknya mulai dilakukan seleksi atas perhelatan yang membutuhkan intensitas energi tinggi dan mengharuskan mobilisasi banyak orang ke satu lokasi. 

Zaman sudah berubah. Penduduk dunia sudah melebihi 7 miliar, dua kali lipat hanya dari 70 tahun yang lalu. Kita sebagai umat manusia perlu lebih mawas akan dominasi spesies kita saat ini. Aktivitas manusia emisi, diperlukan perubahan perilaku serta budaya untuk masa depan Bumi. Mengutip perkataan Simon Sinek pada tahun 2016, “regardless of technology or the speed of innovation, people are still people”. Kita harus berubah. 

)* Sr. Expert Pertamina Energy Institute – PT Pertamina (Persero)

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

BAGIKAN