Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Tenaga Kerja Teknologi sebagai Lokomotif Pereknomian

Achmad Deni Daruri, Minggu, 26 Mei 2019 | 07:39 WIB

Defisit yang paling ditakuti oleh negara-negara di dunia saat ini bukan defisit dalam neraca pembayaran dan defisit dalam anggaran pendapatan belanja negara tetapi defisit dalam tenaga kerja yang memiliki keahlian teknologi. Indonesia diperkirakan akan defisit tenaga kerja berkeahlian teknologi sebesar 18 juta orang, menurut proyeksi dari Korn Ferry yang merupakan perusahaan konsultan yang berbasis di Los Angeles.

Sayangnya dalam debat calon presiden yang lalu, permasalahan ini dianggap sepi. Jika Indonesia ingin memiliki perusahaan-perusahaan berbasis teknologi seperti Gojek, semestinya yang dipikirkan bukanlah banyaknya perusahaan dan siapa investornya tetapi adakah tenaga kerja yang mampu mendukungnya. Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi permasalahan ini.

Diperkirakan Jepang dan India juga akan menghadapi defisit yang besarnya sama dengan yang akan dialami oleh Indonesia. Jepang adalah negara yang memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang jauh di atas Indonesia tetapi jumlah penduduknya terus menyusut. Walaupun Jepang memiliki angka deficit yang sama dengan Indonesia tetapi permasalahan yang dialaminya sangat berbeda. Tingkat pendidikan Jepang juga lebih tinggi dari Indonesia.

Artinya secara riil permintaan akan tenaga kerja yang memiliki keahlian teknologi di Jepang sangatlah tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Bagaimana dengan India yang terkenal memiliki kemampuan dalam ekspor tenaga ahli berteknologi tinggi? Kemungkinan besar, banyaknya tenaga kerja berkeahlian tinggi yang kabur ke luar India akan semakin besar di masa depan. Sehingga sekalipun permintaan akan tenaga kerja tersebut tidak sepesat Jepang, namun defisitnya akan sebesar Jepang.

Dunia pada 2030 akan mengalami defisit tenaga kerja berkeahlian tinggi sebesar 85 juta orang atau sebesar US$ 8,5 triliun dalam bentuk hilangnya pendapatan. Sementara itu hingga saat ini pengeluaran teknologi tumbuh rata-rata 6% setiap tahunnya atau sekitar US$ 3,7 triliun. Penurunan produktivitas semenjak terjadinya resesi besar ternyata disertai oleh permintaan akan tenaga kerja berkeahlian tinggi yang justru semakin meningkat.

Bagaimana dengan strategi Tiongkok dalam menghadapi situasi ini? Tiongkok mengirim pelajar tingkat universitas ke luar negeri dalam jumlah yang sangat besar untuk mengantisipasi kekurangan akan tenaga kerja berkeahlian tinggi. Namun sebagian besar dari mereka justru tidak kembali ke Tiongkok.

Banyak dari mereka yang justru bekerja di Lembah Silikon. Lembah Silikon memang merupakan Mekkahnya industri berteknologi tinggi. Banyak migran yang sukses, seperti pendiri Google. Warga negara Tiogkok yang menuntut ilmu di Amerika Serikat, kemudian juga bergabung dengan Lembah Silikon. Berbeda dengan Steve Jobs yang merupakan anak migran dari Syria yang lahir dan besar di Amerika Serikat.

Bagaimana cara Steve Jobs belajar teknologi tinggi patut mendapatkan perhatian yang serius jika Indonesia berkehendak menciptakan banyak Steve Jobs ketimbang hanya berpikir mengembangkan Unicorn. Steve Jobs bersekolah di Cupertino Junior High School dan Homestead High School di Cupertino, California, dan sering menghadiri kuliah setelah sekolah di Hewlett-Packard Company di Palo Alto, California. Ia kemudian dipekerjakan di sana dan bekerja bersama Steve Wozniak sebagai karyawan musim panas.

Tahun 1972, Jobs lulus dari sekolah menengah atas dan mendaftar masuk Reed College di Portland, Oregon. Meski ia keluar setelah satu semester, ia melanjutkan audit kelasnya di Reed, seperti kelas kaligrafi, dengan tidur di lantai kamar temannya. Steve Jobs tidak pandai secara akademik untuk sekolah di jurusan Science, Teknologi, Engineering dan Matematika (STEM.

Selain itu, ia secara relatif juga miskin. Namun karena lingkungan Silikon Valey yang memiliki banyak perusahaan teknologi tinggi kelas dunia, maka ia memiliki kesempatan untuk belajar teknologi langsung dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Steve Jobs kembali ke pekerjaan sebelumnya di Atari dan diberikan tugas menciptakan papan sirkuit untuk permainan Breakout. Seorang yang tidak memiliki pendidikan akademi STEM tetapi memiliki pengalaman kerja mampu mendapatkan kesempatan oleh perusahaan besar untuk membuat produk teknologi. Hal ini juga karena adanya tenaga kerja yang berkeahlian teknologi tinggi yang juga belum lulus universitas namun memiliki hobi membuat produk teknologi tinggi seperti Wozniak.

Dengan demikian, pasar tenaga kerja yang memiliki keahlian tinggi bukan hanya menuntut adanya Unicorn tetapi juga sekolah dan dibukanya peluang di mana Unicorn boleh menggunakan tenaga kerja yang berkeahlian tinggi tanpa harus memiliki ijasah STEM.

Selain itu, modal ventura juga harus dikembangkan dengan membuka peluang, bukan hanya bagi Unicorn tetapi juga usaha kecil menengah berbasis teknologi tinggi. Sekalipun modal ventura berdiri namun pembiayaan secara privat melalui individu-individu yang memiliki pengalaman bekerja di perusahaan teknologi tinggi tidak boleh dihalang-halangi. Belajarlah dari lahirnya Apple. Tahun 1976, Steve Jobs, Steve Wozniak dan Ronald Wayne, dengan pendanaan dari manajer pemasaran produk dan teknisi semi-pensiun Intel A.C. Markkula Jr., mendirikan Apple tanpa bantuan dari modal ventura.

Jika Indonesia dapat belajar dari kasus ini maka kekurangan tenaga kerja berkeahlian teknologi sebesar 18 juta orang akan dapat diatasi. Jika tidak, peran teknologi dalam produk domestik bruto Indonesia bukan hanya tidak dapat meningkat tetapi bahkan menciut.

Semenjak tahun 1980, kontribusi sektor teknologi kepada produk domestik bruto Amerika Serikat telah meningkat enam kali lipat. Yang dimaksud dengan teknologi di sini adalah data scientist, software engineer, programmer, dan ahli cloud computing. Dalam banyak penelitian, backward bending dari kurva penawaran tenaga kerja tidak terjadi di pasar tenaga kerja berkeahlian teknologi. Sehingga upaya untuk menaikkan harga tenaga kerja tidak terlalu efektif karena tenaga kerja seperti ini juga tergantung kepada gaya hidup yang disukainya.

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA