Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kapler A Marpaung

Kapler A Marpaung

Tragedi Sriwijaya Air

Rabu, 3 Februari 2021 | 23:55 WIB
Kapler A Marpaung *)

Awal tahun 2021 industri penerbangan nasional kembali mengalami tragedi dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu tanggal 9 Januari 2021 dalam penerbangan Jakarta ke Pontianak. Sebanyak 62 orang penumpang termasuk pilotdan awak kabin dinyatakan meninggal dunia.

Sampai saat ini penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ-183 belum diketahui, dan masih dalam penelitian. Penyebab kecelakaan pesawat terbang, sekalipun ko tak hitam ditemukan, sering menjadi misteri, karena jarang sekali dipublikasikan oleh pihak berwenang kepada publik apa sebenarnya penyebab kecelakaan.

Dalam kaitannya dengan gugatan kepada maspakai penerbangan, penyebab kecelakaan pesawat terbang adalah sangat penting bagi penumpang atau ahli waris untuk menakar tanggung jawab hokum dari suatu maskapai penerbangan.

Tulisan ini mengkaji hak penumpang atas kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, sehingga para ahli waris penumpang dapat melakukan langkah-langkah yang bisa ditempuh, baik melalui mekanisme tuntutan ganti rugi biasa ataupun melalui jalur hukum.

Santunan kepada pilot dan awak kabin mengukurnya relatif lebih mudah karena umumnya maskapai penerbangan sudah menutup asuransi kecelakaan diri bagi para pilot dan awak kabin, sehingga tulisan ini tidak membahasnya.

Ketentuan Wajib Asuransi

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, setiap perusahaan penerbangan diwajibkan menutup asuransi atas pesawat dan tanggung jawab hukumnya. Dengan demikian tidak satupun pesawat udara dapat terbang apabila tidak memiliki polis asuransi aviasi. Polis asuransi yang dibeli oleh perusahaan penerbangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri umumnya ada dua.

Pertama adalah Aviation Hull and Spare All Risk & Liability Insurance, dan kedua adalah Aviation Hull War and Allied Perils Insurance. Jenis polis pertama memberikan ganti rugi terhadap kerusakan kerangka pesawat udara serta tanggung jawab hukum kepada penumpang dan pihak ketiga lainnya (property damage and bodily injury). Jenis polis kedua adalah untuk ganti rugi atas risiko perang dan sejenisnya.

Tulisan ini terbatas untuk kajian atas tanggung jawab hukum perusahaan penerbangan dalam kaitannya dengan hak penumpang yang meninggal dunia. Besarnya santunan meninggal dunia yang bisa diperoleh oleh ahli waris penumpang berdasarkan peraturan perundangan antara lain adalah:

Pertama, UU No 33 dan 34 tahun 1964 tentang Dana Pertangungan Wajib Kecelakaan Penumpang, dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 tentang Besaran Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Penumpang Umum. Besarnya santunan meninggal dunia berdasarkan kedua peraturan perundangan ini adalah sebesar Rp 50.000.000./penumpang, yang dibayarkan melalui PT Asuransi Jasa Raharja (Persero).

Kedua, Peraturan Menteri Perhubungan No 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara. Pasal 3 Peraturan Menteri ini menetapkan bahwa penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang ada kaitannya dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1.250.000.000.

Ketiga, santunan dari BPJS Kete nagakerjaan. Penumpang pesawat udara yang melakukan penerbangan karena tugas kerja dan meninggal karena kecelakaan pesawat akan menerima santunan Jaminan Kecelakaan Kerja sebesar 48x upah, Beasiswa Pendidikan bagi 2 (dua) orang anak maksimum Rp 174.000.000,

Jaminan Kematian Rp 42.000.000 dan Jaminan Hari Tua. Santunan atau ganti rugi ber dasarkan Peraturan Menteri Keuangan dan Menteri Perhubunganadalah wajib disampaikan kepada ahli waris oleh perusahaan penerbangan tanpa harus didahului mengajukan tuntutan ganti rugi kepada perusahaan penerbangan. Ahli waris hanya sebatas memberikan bukti sebagai ahli waris saja.

Oleh karena itu, ahli waris tidak perlu menandatangani Release and Discharge (RD), cukup tanda terima biasa saja. Apabila ada perusahaan penerbangan meminta ahli waris menandatangani Release and Disharge pada saat membayar santunan sebesar Rp 1.250.000.000, maka ini bertentangan dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 tahun 2011 tentang Penerbangan.

Sedangkan dari BPJS Ketenagakerjaan yang mengurus akan dilakukan oleh perusahaan di mana penumpang bekerja. Santunan meninggal dunia lainnya yang juga dapat diperoleh oleh ahli waris adalah dari bank yang menerbitkan kartu kredit.

Penumpang yang membeli tiket pesawat udara dengan pembayarannya memakai kartu kredit umumnya memberikan benefit asuransi kecelakaan diri yang besarnya bisa mencapai Rp 5 miliar rupiah. Bahkan ada bank tertentu yang memberikan santunan meninggal dunia karena kecelakaan kepada pemegang kartu kredit yang diterbitkannya walaupun pembelian tiket tidak memakai kartu kredit.

Di samping dari bank, ahli waris juga bisa men dapatkan santunan mening gal dunia dari perusahaan asu ransi yang menjual Kupon Asu ransi Penerbangan yang dijual di bandara keberangkatan. Ini sulit mengetahui dan membuktikannya karena bukti kupon asuransi tentu tidak ada lagi. Di sini dibututuhkan keterbukaan perusahaan asuransi untuk mengumumkannya di media. Hak penumpang atas kecelakaan pesawat terbang tidak terbatas sejumlah apa yang diatur oleh peraturan perundangan di atas.

Berdasarkan pasal 141 (ayat 1,2 dan3) UU Penerbangan Nomor 1 tahun 2009, memberikan ruang bagi ahli waris untuk mendapatkan ganti rugi lebih dari Rp 1.250.000.000, dan karenanya maskapai penerbangan tidak dapat membatasi tanggung jawabnya, apabila pihak perusahaan penerbangan terbukti bersalah.

Ketentuan ini sejalan dengan apa yang diatur dalam Montreal Convention, di mana Indonesia ikut meratifikasi pada Maret 2017. Berdasarkan UU Penerbangan dan Montreal Convention maka perusahaan penerbangan Sriwijaya Air tidak dapat membatasi hak penumpang untuk menuntut ganti rugi manakala dapat dibuktikan bahwa pihak Sriwijaya Air lalai atau melakukan kesalahan(unlimited liability).

Kasus kecelakaan pesawat Boeing 737 Air Philippines 541 tahun 2000 dalam penerbangan domestik dari kota Manila ke Davao yang mengakibatkan 124 penumpang tewas, para ahli waris berhasil menuntut PhilippinesAirlines membayar sejumlah US$ 165,000,000 untuk seluruh penumpang, atau rata-rata mendapat ganti rugi/santunan sebesar US$ 1,330,645.15/penumpang, setara dengan Rp 18.629.032.258. (kurs US$ 1 = IDR 14.000). Ini tentu yurisprudensi internasional yang dapat dipakai sebagai rujukan.

Begitu besarnya tanggung jawab perusahaan penerbangan berdasarkan undang-undang, banyak perusahaan penerbangan membeli polis asuransi untuk proteksi dirinya atas gugatan hukum dari penumpang dan pihak ketiga lain. Jenis asuransi untuk tanggung jawab hukum ini adalah LiabilityInsurance dengan limit liability bisa mencapai US$ 500.000.000 (combined single limit liability).

Tulisan ini tidak bermaksudmenilai nyawa manusia sebagai penumpang pesawat udara, tetapi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat akan hakhaknyayang dilindungi hukum. Tuntutan hukum yang diajukan oleh penumpang atau ahli waris kepada perusahaan penerbangan adalah juga untuk mengingatkan perusahaan penerbangan bahwa tanggung jawabnya sangat besar dan tidak terbatas, sehingga dalam mengoperasikan pesawatnya harus mengacu kepada peraturan- peraturan yang ada, baik peraturan lokal maupun internasional. Peran Kementerian Perrhubungan sebagai regulator dan pengawas industri penerbangan juga menjadi sangat penting dalam mencegah kecelakaan pesawat.

*) Dewan Kehormatan Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi & Reasuransi Indonesia (Apparindo), Dosen Program MM Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN