Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini,

Hamdi Hassyarbaini,

Transaksi Saham oleh Direksi Emiten Tidak Serta-merta Insider Trading

Rabu, 15 Juli 2020 | 22:20 WIB
Hamdi Hassyarbaini *)

Menjadi pemberitaan ramai beberapa waktu belakangan ini, direksi sejumlah emiten melepas saham perusahaan yang mereka kelola. Aksi jual saham oleh direksi emiten tersebut sontak membuat publik bertanya-tanya, ada apa dengan emiten tersebut sehingga direksinya melepas saham yang mereka miliki.

Apakah terdapat rencana aksi korporasi yang apabila nanti diumumkan akan menyebabkan harga saham emiten tersebut jatuh, sehingga direksi buru-buru melakukan transaksi penjualan? Apabila memang benar demikian, apakah tindakan direksi emiten tersebut tidak tergolong perdagangan orang dalam atau insider trading?

Untuk menjawab pertanyaan publik tersebut tentunya kita harus mengacu kepada ketentuan mengenai perdagangan orang dalam yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM). Pada pasal 95 UUPM dinyatakan,

“Orang dalam dari Emiten atau Perusahaan Publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan pembelian atau penjualan atas Efek: a. Emiten atau Perusahaan Publik dimaksud; atau b. perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan”.

Dari uraian pasal 95 UUPM terlihat paling tidak ada tiga unsur yang harus terpenuhi sehingga suatu transaksi pembelian atau penjualan atas suatu saham bisa dikategorikan sebagai perdagangan orang dalam atau insider trading. Yaitu: adanya orang dalam, adanya informasi orang dalam, dan adanya transaksi pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh orang dalam tersebut.

Ada orang dalam dan ada informasi orang dalam namun orang dalam tersebut tidak melakukan transaksi atas saham tersebut, maka tidak terjadi tindak pidana perdagangan orang dalam.

Demikian pula halnya, ada orang dalam dan mereka melakukan transaksi atas saham tersebut namun bukan beradasarkan informasi orang dalam, maka hal itu juga tidak masuk dalam kategori perdagangan orang dalam sebagaimana dimaksudkan oleh pasal 95 UUPM tersebut.

Untuk menilai apakah transaksi penjualan saham oleh direksi sejumlah emiten tersebut tergolong perdagangan orang dalam, kita perlu melakukan analisis dengan mengacu kepada ketentuan pasal 95 UUPM. Terkait transaksi penjualan yang dilakukan oleh direksi beberapa emiten tersebut, paling tidak ada dua unsur yang terpenuhi, yaitu unsur 1 dan 3.

Terkait unsur 1, dalam penjelasan pasal 95 UUPM dikatakan bahwa yang dimaksud orang dalam dalam pasal tersebut antara lain adalah komisaris, direktur, atau pegawai emiten atau perusahaan publik. Dengan demikian, direksi emiten merupakan orang dalam emiten tersebut. Terkait unsur 3, sudah jelas bahwa direksi beberapa emiten tersebut melakukan transaksi penjualan saham perusahaan yang mereka kelola. Bagaimana dengan unsur 2, yaitu adanya informasi orang dalam atau non public information?

Apa yang dimaksud dengan informasi orang dalam? Dikatakan dalam penjelasan atas Pasal 95 UUPM bahwa informasi orang dalam adalah informasi material yang dimiliki oleh orang dalam yang belum tersedia untuk umum.

Apakah terdapat informasi orang dalam yang dimaksud UUPM terkait dengan saham dari beberapa emiten tersebut? Namanya juga informasi orang dalam alias non public information, tentu saja yang tahu hanya orang dalam emiten tersebut khususnya direksi.

Bagaimana publik bisa tahu ada tidaknya informasi orang dalam? Publik baru tahu bahwa benar ada informasi orang dalam kalau dalam beberapa waktu kemudian emiten mengumumkan informasi material tersebut ke publik.

Selama belum diumumkan, informasi material tersebut hanya menjadi rahasia orang dalam emiten tersebut. Dalam hal direksi emitenemiten tersebut tidak menjual seluruh saham yang mereka miliki melainkan hanya sebagian kecil saja, maka kurang logis mereka melakukan transaksi penjualan dengan mendasarkan pada informasi orang dalam (yang bersifat negatif).

Kalau memang ada informasi orang dalam yang bersifat negatif, seharusnya para direksi emiten-emiten tersebut melepas seluruh saham yang mereka miliki.

Untuk memastikan benar tidaknya ada informasi orang dalam, kita harus memperhatikan apakah dalam perjalanan waktu ke depan setelah aksi jual oleh direksinya, emiten mengumumkan suatu informasi material yang bersifat negatif yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan harga saham emiten tersebut.

Apabila nanti terbukti ada informasi material negatif yang diumumkan ke publik dan kenyataan bahwa direksi emiten tersebut telah lebih dulu melakukan penjualan saham yang mereka miliki, maka tindakan tersebut baru dapat dikategorikan sebagai perdagangan orang dalam.

Sebaliknya, kalau tidak ada informasi material yang bersifat negatif yang diumumkan atau malah sebaliknya yang diumumkan justru informasi material yang bersifat positif, maka tindakan direksi emiten tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai perdagangan orang dalam.

Dengan kata lain, transaksi tersebut hanyalah transaksi penjualan biasa, sebagaimana yang juga dilakukan oleh investor lain pada umumnya. r

*) Penulis adalah Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN