Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Tumbuh dan Bertahan Sama Sulitnya

Selasa, 16 November 2021 | 13:05 WIB
Fauzi Aziz *)

Ketidakpastian adalah nyata. Pertumbuhan adalah harapan. Bertahan adalah cara kita menghadapi tekanan. Kebijakan publik dan bisnis serta policy dialogue adalah alat yang dapat digunakan untuk merespons ketiga fenomena ekonomi tersebut.

Pertumbuhan ekonomi dan bertahan dari tekanan ekonomi menjadi barang mahal karena ongkosnya tidak murah. Stimulus adalah biaya ekonomi yang harus dipikul pemerintah. Padahal di saat yang sama menghimpun pendapatan bukan perkara mudah, sehingga utang menjadi pilihan kebijakan. Dunia dan kita berada dalam situasi itu.

Pada triwulan II-2021 ( y-on-y) ekonomi tumbuh 7,1%. Pada triwulan III-2021 hanya tumbuh 3,51%. Inilah cermin betapa pertumbuhan dan bertahan dari tekanan ekonomi sama-sama sulitnya.

Triwulan IV-2021 menjadi wait and see karena faktor ketidakpastian. Cuaca ekstrim yang mendunia menjadi salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap capaian kinerja pada triwulan IV-2021. Faktor Tiongkok yang tengah menghadapi tekanan domestiknya menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan perdagangan antarnegara. Ekonomi Tiongkok pada triwulan III-2021 hanya tumbuh 4,9%, yang pada triwulan II-2021 tumbuh 7,9%.

Faktor berikutnya adalah pandemi Covid-19 episodenya masih terus berlanjut, dan pemerintah Indonesia sudah warning adanya ancaman gelombang ketiga pada awal tahun 2022.

Perkembangan pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang di luar Tiongkok pada kuartal III-2021 (y-on-y) adalah sebagai berikut: AS 4,9%, Singapura 6,5%, Korea Selatan 4,0%, Vietnam (-6, 2%), yang pada triwulan II-2021 (y-on-y) tumbuh 6,6%, Hong Kong 5,4%, dan UE 3,9%.

Postur ekonomi global memberi harapan tumbuh, tapi benteng pertahanan ekonomi domestik harus dijaga dan dilindungi karena siklus bisnis global belum bisa memasuki fase yang sepenuhnya normal karena pandemi Covid-19 belum akan berakhir. Data BPS, pada triwulan III-2021, produksi barang dan jasa Indonesia adalah Rp 4.325,4 triliun. PDB sebesar itu disumbang oleh pertumbuhan ekspor 29,16%, impor 30,11%, PMTB 3,74%, konsumsi LNPRT 2,96%, konsumsi rumah tangga 1,03%, dan konsumsi pemerintah 0,66%.

Pertumbuhan menurut lapangan usaha, 66,42% PDB pada triwulan III-2021 (y-on-y) berasal dari sumbangan industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Namun demikian angka-angka pertumbuhannya yang tertinggi adalah jasa kesehatan 14,06% (1), pertambangan 7,78% (2), infokom 5,51% (3), perdagangan 5,16% (4), pengadaan air 4,56% (5), jasa keuangan 4,29% (6), pengadaan listrik dan gas (7), konstruksi 3,84% (8), industri pengolahan 3,68% (9), realestat 3,42% (10), dan pertanian 1,31% (11).

Dua situasi itulah yang membuat ekonomi Indonesia pada triwulan III-2021 tumbuh 3,51% (y-on-y), sektor jasa penting memberikan kontribusi yang cukup baik sesuai dengan sikonnya sehingga geliat siklus bisnis dapat bergerak mengikuti dinamika bisnis pada sektor bersangkutan. Dari sisi pengeluaran patut disyukuri bahwa ekspor barang dan jasa tumbuh 29,16%, tapi impornya melejit lebih tinggi, yaitu 30,11%. Ini dapat dimengerti karena ketika PMI Manufaktur Indonesia berada pada angka 57, otomatis akan dikuti oleh pertumbuhan impor bahan baku dan bahan penolong yang sekitar 70% masih diimpor.

Ilustrasi
Ilustrasi

Konsumsi rumah tangga jelas tumbuh rendah (1,03%) karena sebagian dari golongan menengah tengah dan atas tidak royal membelanjakan uangnya dan lebih memilih menabung. Selama masa pandemi Covid-19, jumlah tabungan di perbankan bertambah menjadi Rp 7.000 triliun. Golongan menengah ke bawah juga melakukan hal serupa tapi penyebabnya karena daya belinya terbatas sekali. Ketika bansos sudah habis terpakai, maka mereka terjerat pinjaman online (pinjol) agar bisa bertahan hidup.

Belanja pemerintah hanya tumbuh 0,66% karena sudah digas pol pada pengeluaran triwulan II-2021 yang tumbuh 8,06%, dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,93%. PMTB hanya tumbuh 3,74% karena banyak yang masih bersikap wait and see. UU Cipta Karya yang tengah di-yudisial review di MK membuat investor bersikap wait and see.

Not easy but very hard. Pemulihan ekonomi sedang menghadapi pendakian terjal. Optimisme tetap penting, meskipun harus berhadapan dengan kondisi ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, maka kita harus menghindari keputusan yang bersifat gegabah. Semua negara kini butuh energi baru untuk menata kembali perekonomian yang baru memasuki tahap pemulihan menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Apapun lansekap ekonomi masa depan yang akan kita wujudkan, semua tergantung dari kebijakan ekonomi pada skala global, regional dan nasional setiap negara.

Semua pemimpin dunia di negaranya masing-masing hakikatnya adalah para “penjaga pasar”, yang bertugas menciptakan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan catatan pentingnya adalah bahwa mereka harus dapat menjalankan tugasnya dengan sangat baik, apabila selalu memberikan jalan keluar yang terbaik bagi upaya untuk menciptakan stabilitas, pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat. Good governance dan clean government adalah mantera terbaik untuk menyelamatkan perekonomian global, regional, dan nasional dari ancaman “kebangkrutan massal”.

 

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN